LAPORAN PRAKTIKUM KROMATOGRAFI KERTAS


HALAMAN PENGESAHAN
Laporan lengkap praktikum Kimia Analitik dengan judul percobaan “Kromatografi Kertas” yang disusun oleh :
Nama               :  
NIM                :  
Kelas               :  Pendidikan IPA
Kelompok        :  II (Dua)
telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asistenda dan Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.

Makassar,  Desember 2017
Koordinator Asisten                                                         Asisten


Jusriani                                                                             Sidiq Almien Syahwi           
NIM:                                                                                NIM:

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab


Dr. Hasri, M.Si                          
NIP: 19651103 199802 2 001




A.      Judul Percobaan
Percobaan ini berjudul “Kromatografi Kertas”.

B.       Tujuan Percobaan
Mengenal teknik pemisahan dan memisahkan pigmen warna dalam tinta.

C.      Landasan Teori
Kromatografi adalah kaedah pemisahan yang sangat penting. Penggunaan kromatograf pertama kali telah dikreditkan kepada seorang ahli botani Rusia bernama M. Tswett apabila pada 1903 beliau telah melaporkan pemisahan sampel pigmen berwarna melalui turus yang terdapat dengan butir-butir kalsium karbonat yang halus. Pigmen yang berhasil daripada eksperimen itu telah diperoleh sebagai jalur-jalur berwarna di dalam turus itu. Mungkin inilah yang memberi ilham kepada beliau untuk menggunakan perkataan kromatografi bagi teknik pemisahan ini bersempena dengan perkataan Greek kroma yang berarti warna dan grafi yang berarti tulis (Sanagi, 1998: 73).
Walaupun istilah kromatografi diturunkan dari kata-kata Yunani yang berarti “warna” dan “tulis”, warna senyawa itu jelas merupakan suatu kebetulan ke berbagai sistem kimia. Seandainya karyanya didalami dan diperluas secepatnya, beberapa ilmu pengetahuan mungkin berkembang jauh lebih pesat. Namun, kromatografi tetap terbengkalai sampai tahun 1931, ketika pemisahan pigmen tumbuhan karotin dilaporkan oleh seorang ahli kimia organik terkemuka Kuhn. Penelitian ini menarik lebih banyak perhatian, dan kromatografi adsorpsi menjadi luas digunakan dalam bidang kimia produk alam (Day, 2002: 486).
Pada masa ia mula diperkenalkan, kaedah kromatografi kurang mendapat perhatian, sehinggalah ke tahun 1930-an apabila teori kromatografi mula digunakan untuk mencetuskan penggunaan kromatografi moden. Pada masa ini terdapat berbagai-bagai teknik kromatografi. Skop penggunaan kromatografi tidak terhad kepada bidang kimia, malah ia turut digunakan dalam bidang biologi, perubatan, pertanian, petrokimia sains alam sekitar. Ahli kimia mendapati kromatografi sangat berguna untuk memisahkan bahan-bahan dan menganalisis sampel yang kompleks (Sanagi, 1998:73).
Kromatografi merupakan istilah kolektif yang dipakai pada berbagai metode yang nampakanya berbeda dalam beberapa hal namun memiliki beberapa kesamaan fitur yang lazim. Suatu definis harus menegaskan bahwa komponen-komponen sampel tersebar di antara dua fasa, tetapi ini sendiri tidak mencukupi karena kita tidak minginginkan istilah tersebut mencakup semua proses pemisahan. Definisi keulumans berlaku seperti lainnya: kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, di mana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa, salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut di sepanjang landasan stasioner (Day, 2002: 486-487).
Menurut Rubiyanto (2017: 3), kegunaan kromatografi dalam bidang sains yaitu :
1.        Analisis - menguji suatu campuan, komponen-komponenya dan hubungan antar komponen.
2.        Identifikasi - menentukan jati diri campuran atau komponen-komponennya menggunakan senyawa standar.
3.        Pemurnian – memisahkan pengotor atau senyawa tertentu yang dikehendaki untuk studi.
4.        Kuantifikasi – menentukan jumlah / konsentrasi campuran atau komponen-komponennya.
Kromatografi kertas merupakan salah satu metode analisis untuk pemurnian dan pemisahan senyawa organik maupun anorganik. Metode ini diperkenalkan oleh Mardin dkk (1944) dengan menggunakan kertas sebagai penunjang fasa diam ( fasa stasioner) dan etanol sebagai fasa bergeraknya (fasa mobil). Fasa mobil bergerak berupa cairan yang terserap diantara struktur pori-pori kertas, yang dapat mengalirkan sejumlah kecil sampel terdeposit berupa bercak / noda atau spot pada kertas saring. Teknik ini dapat digunakan untuk menguji sampel baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Mekanisme pemisahan terjadi karena terjadi partisi kontinyu dari sampel antara fasa organik yang bergerak (Hasri, 2017: 23).
Kromatografi kertas merupakan kromatografi partisi dalam bentuk planar yang sudah sangat konvensional. Teknik ini umumnya digunakan untuk menjelaskan teknik kromatografi secara mudah, karena sistem kromatografinya yang sangat sederhana. Hanya saja butuh sepotong kertas, tinta warna dan pelarut dalam suatu bejana saja. Teknik kromatografi ini prinsip kerjanya sama seperti kromatografi kolom partisi hanya saja konfigurasinya bukan kolom (Column configuration) tetapi datar / planar. Sekilas bila diamati, kertas seolah-olah berfungsi sebagai fasa diam, padahal sesungguhnya tidak demikian. Kertas hanyalah sebagai penyokong saja. Dalam teknik kromatografi yang melibatkan instrumentasi yang rumit, penyokong fasa diam bukanlah hal yang main-main. Bahan penyokong dapat mempengaruhi pemisahan (Rubiyanto, 2017: 19).
Dalam semua teknik kromatografi, zat-zat terlarut yang dipisahkan bermigrasi sepanjang kolom (atau, seperti dalam kromatografi kerta atau lapisan tipis, ekivalen fisik kolom), dan tentu saja dasar pemisahan terletak laju perpindahan yang berbeda untuk larutan yang berbeda. Kita boleh menganggap laju perpindahan seubah zat terlarut sebgai hasil dari dua faktor, yang satu cenderung menggerakkan zat terlarut itu, dan yang lain menahannya. Dalam proses asli Tswett, kecendrungan zat-zat terlarut untuk menyerap pada fasa padat menahan pergerakan mereka, sementara kelarutannya dalam fasa cair bergerak cenderung menggerakkan mereka. Perbedaan yang kecil antara dua zat terlarut dalam kekuatan absorpsi dan dalam interaksinya degan pelarut yang begerak menjadi dasar pemisahan bila molekul-molekul zat terlarut itu berulang kali menyebar diantara dua fasa itu ke seluruh panjang kolom (Day, 2002: 487).
Kromatografi satu arah menunjukkan ada bercak dengan pola warna yang berbeda antar tiap serbuk organ. Hal ini menunjukkan bahwa kertas saring dapat digunakan sebagai matriks dalam kromatografi. Kromatografi kerta dilakuakn dua arah untuk memisahkan senyawa metabolit dengan kecepatan gerak (Rf) yang berdekatan sehingga diperoleh pemisahan terbaik (Pambudi, 2014).
Analisis menggunakan KLT merupakan pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorpsi dan partisi yang ditentukan oleh dua fasa diam (adsorben) dan fasa gerak (eluen). Komponen kimia bergerak naik mengikuti fasa gerak karena adanya daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan jarak yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya. Hal inilah yang menyebabkan pemisahan komponen-komponen kimia di dalam ekstrak (Alen, 2017).

D.      Alat dan Bahan
1.        Alat
a.         Gelas kimia 600 mL                                             2 buah
b.        Kertas saring biasa                                               2 buah
c.         Stopwatch                                                                        2 buah
d.        Lidi                                                                      2 buah
e.         Pensil                                                                    2 buah
f.         Penggaris                                                              2 buah
g.        Gunting                                                                2 buah
h.        Kamera Hp                                                           1 buah
2.        Bahan
a.         Aquades                           ( H2O)
b.        Alkohol 70 %                   (C5H5OH)
c.         Spidol / tinta                    ( hitam, hijau dan orange)
d.        Tissu

E.       Prosedur Kerja
1.        Kertas saring dipotong dengan ukuran 7 x 14 cm.
2.        Ditandai dengan menggunakan pensil dari tepi bawah jarak 2 cm dan tepi atas jarak 3 cm.
3.        Tinta ditotolkan pada garis tepi bawah.
4.        Kertas saring dililit pada lidi.
5.        Aquades dimasukkan dalam gelas kimia 1 sebanyak 50 mL.
6.        Alkohol dimasukkan dalam gelas kimia 2 sebanyak 50 mL.
7.        Kertas saring dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi alkohol dan gelas kimia yang berisi aquades, dengan posisi totolan tinta berada di bawah (totolan tinta jangan sampai masuk ke dalam pelarut).
8.        Dibiarkan sampai elusi mencapai garis batas.
9.        Diamati elusi yang terjadi.

F.       Hasil Pengamatan
Pelarut
Hasil Pengamatan
Waktu terjadi
Keterangan
Aquades
a.         Tinta hitam
Hitam – pink – ungu – pink – biru.
b.         Tinta hijau
Hijau – hijau muda – biru.
c.         Tinta orange
Orange – pink – kuning.
10 menit
Cepat terjadi elusi.
Alkohol
a.          Tinta hitam
Hitam – pink – ungu – orange – biru.
b.         Tinta hijau
Hijau – kuning – biru.
c.         Tinta orange
Orange – pink – kuning

28 menit
Lambat terjadi elusi

G.      Analisis Data
1.        Aquades
a.         Hitam ( hitam – pink – ungu – pink – biru)
·           Rf   ( hitam – pink)
Rf    = 
        = 
        =  0,2222 cm
·           Rf   (pink - ungu)
Rf    = 
        = 
        =  0,3333 cm
·           Rf   (ungu - pink)
Rf    = 
        = 
        =  0,4333 cm
·           Rf   (pink - biru)
Rf    = 
        = 
        =  0,1222 cm
b.        Hijau (hijau – hijau muda – biru)
·           Rf   ( hijau – hijau muda)
Rf    = 
        = 
        =  1,0667 cm
·           Rf   (hijau muda - biru)
Rf    = 
        = 
        =  0,0444 cm

c.         Orange (orange- - pink – kuning)
·           Rf   (orange - pink)
Rf    = 
        = 
        =  0,6889 cm
·           Rf   (pink – kuning)
Rf    = 
        = 
        =  0,4 cm

2.    Alkohol
a.    Hitam (hitam – pink – unugu – orange – biru)
·      Rf      ( hitam – pink)
Rf    = 
        = 
        =  0,4333 cm
·           Rf   (pink - ungu)
Rf    = 
        = 
        =  0,2333 cm
·           Rf   (ungu - orange)
Rf    = 
        = 
        =  0,1444 cm
·           Rf   ( orange - biru)
Rf    = 
        = 
        =  0,0889 cm
b.        Hijau (hijau – kuning – biru )
·           Rf   ( hijau - kuning)
Rf    = 
        = 
        =  0,6556 cm
·           Rf   ( kuning biru)
Rf    = 
        = 
        =  0,2556 cm
c.    Orange (orange – pink – kuning)
·           Rf   ( orange -  pink)
Rf    = 
        = 
        =  0,4444 cm
·           Rf   ( pink – kuning)
Rf    = 
        = 
        =  0,2556 cm

H.      Pembahasan
Kromatografi kertas merupakan salah satu metode analisis untuk pemurnian dan pemisahan senyawa organik maupun anorganik. Teknik ini dapat digunakan untuk menguji sampel baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Mekanisme pemisahan terjadi karena terjadi partisi kontinyu dari sampel antara fara organik tang bergerak (Hasri, 2017).
Prinsip dasar dari percobaan ini yaitu distribusi diferensial antara dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Sedangkan prinsip kerja dari percobaan ini yaitu penotolan, pengembangan dan identifikasi. Penotolan dilakukan keitika menotolkan tinta pada kertas saring. Pengembangan terjadi pada saat proses elusi yaitu proses eluen digerakkan oleh fase gerak melewati fasa diam. Dan identifikasi dilakukan pada saat menentukan pigmen warna yang terbentuk.
Dalam percobaan ada yang disebut fasa diam dan fasa gerak. Jika diamati secara sekilas, kertas seolah-olah berfungsi sebagai fasa diam, padahal sesungguhnya tidak demikian. Kertas hanyalah sebagai penyokong saja dan fasa diamnya berupa selulosa pada kertas. Sedangkan fasa gerak berupa pelarut yaitu alkohol dan aquades.
Percobaan ini terdapat istilah berupa eluen, elusi, dan absorben. Eluen adalah pelarut yang digunakan untuk memisahakan analit. Elusi adalah proses eluen hingga selesai digerakkan oleh fase gerak menulusuri fasa diam. Absorben yaitu zat yang melarutkan fasa diam.
Percobaan ini dilakukan dengan memotong kertas saring, hal ini dilakukan agar kertas saring dapat masuk dalam gelas kimia, sehingga kertas saring tidak melebihi ukuran diameter dari gelas kimmia. Kemudian diberikan tanda berupa garis awal dan garis akhir. Pemberian tanda ini bermaksud agar kita dapat menegtahui titik awal atau titik penotolan dan garis akhir berfungsi sebagai titik titik akhir dari elusi. Pemberian tanda ini menggunakan pensil, pensil terbuat dari grafit. Grafit merupakan mineral karbon berwarna hitam mengkilap yang tidak larut dalam pelarut. Selanjutnya tinta ditotolkan pada garis tepi bawah. Penotolan ini merupakan noda dari tinta yang akan diamati. Kemudian kertas saring digulung / dililit. Pelilitan ini bermaksud agar kertas saring tidak menyentuh dasar dan noda tidak terendam eluen karena akam melarut dalam pelarut dan menjadi rusak sehingga tidak dapat diidentifikasi lagi. Selanjutnya kertas saring dimasukkan dalam gelas kimia yang berisi aquades ataupun akohol. Alkohol dan aquades berfungsi sebagai eluen. Dan akan terjadi elusi.
Percobaan ini menghasilkan penyusun warna pada tinta. Dengan pelarut aquades dengan tinta warna hitam, tersusun dari warna hitam,pink, ungu dan biru. Tinta warna hijau tersusun dari warna hijau muda dan biru. Dan tinta warna orange tersusun dari warna orange, pink dan kuning. Sedangkan dengan menggunakan pelarut alkohol pada tinta warna hitam tersusun dari warna hitam, pink, ungu, orange dan biru. Tinta warna hijau tersusun dari hijau, kuning, hijau muda dan biru. Dan untuk tinta orange tersusun dari orange, pink dan kuning.
Dari warna yang terbentuk dapat ditentukan nilai Rf. Rf atau faktor retensi yaitu nilai yang menyatakan derajat reaksi suatu komponen fasa diam. Nilai ini digunakan sebagai perbandingan relatif antar sampel dan dapat dijadikan acuan dalam mengidentifikasi sampel. Rumus Rf yaitu :
        Rf   =  
Pada analisis data terdapat jarak noda melebihi jarak pelarut, dikarenakan keterlambatan dalam mengangkat kertas saring, sehingga elusi yang terjadi melebihi batas yang sudah ditentukan.
Nilai Rf sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu jenis dan mutu kertas, kelembaban, susunan pelarut, kemurnian pelarut, konsentrasi / banyaknya zat, serta jarak bercak awal (tempat penotolan zat) kepermukaan pelarut.

I.         Kesimpulan
Kromatografi kertas meupakan salah satu metode analisis untuk pemurnian dan pemisahan senyawa organik maupun anorganik. Prinsip dasar percobaan yaitu adsorpsi, sedangkan prinsip kerjanya adalah penotolan, pengembangan dan identifikasi. Dalam percobaan terdapat fasa diam yaitu selulosa pada kertas fasa gerak yaitu pelarut, percobaan ini terdapat nilai Rf. Nilai Rf dapat dicari menggunakan rumus sebagai berikut :
        Rf  = 

J.        Saran
a.         Praktikan sebaiknya memberikan jarak antara noda satu dan yang lainnya.
b.        Asisten sebaiknya tetap semangat, apalagi sekarang asisten lagi sibuk-sibuknya praktikum.
c.         Laboratorium sebaiknya mengecek kelayakan dari bahan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA
Alen, Yohannes ; Fitria Lavita Agresa ; dan Yori Yuliandra. 2017. Analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Aktivitas Antihiperurisnia Ekstrak Rebung Schizostachyum brachycladum Kurz (Kurz) pada Mencit Putih Jantan. Jurnal Sains Farmasi dan Klinis. Volume 3 No.2.

Day, R.A dan A.L Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Hasri. 2017. Panduan Praktikum Kimia Analitik. Makassar : Universitas Negeri Makassar FMIPA.

Pambudi, Arief ; Syaefudin ; Nita Noriko ; Risa Swandari ; Purwanty Rara Azura. 2014. Identifikasi Bioaktif Golongan Flavonoid Tanaman Anting – anting (Acalypha indica L.). Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi. Volume 2 No. 3.

Rubiyanto, Dwiarso. 2017. Metode Kromatografi. Yogyakarta : Deepublish.

Sanagi, Mohd Marsin. 1998. Teknik Pemisahan dalam Analisis Kimia. Malaysia : Universitas Teknologi Malaysia.

Komentar