MAKALAH BIOTEKNOLOGI BIOPESTISIDA DAN BIOFERTILIZER


MAKALAH BIOTEKNOLOGI
BIOPESTISIDA DAN BIOFERTILIZER

 


DISUSUN OLEH :

KELOMPOK III

1. RIJAL (1516041009)
2. SUHARIA (1616040004)
3. HILDA (1616040012)
4. ITA SUSANTI (1616042003)
5. MUHAMMAD YUSUF (1616042012)



PRODI PENDIDIKAN IPA REGULER
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
                 Biopestisida merupakan suatu pembasmi hama yang berasal dari zat hidup. Biopestisida hayati jenis pestisida yang bahan dasarnya mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus yang bersifat antagonis terhadap mikroba lainnya (penyebab penyakit tanaman) atau mengahasilkan senyawa tertentu yang bersifat racun baik bagi serangga (hama) maupun nematode (penyebap penyakit tanaman). Biopestisida nabati jenis pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan. Pestisida adalah bahan atau zat kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik yang berupa tumbuhan, serangga, maupun hewan lain di lingkungan kita. Berdasarkan jenis hama yang akan diberantas, pestisida digolongkan menjadi insektisida, herbisida, nematisida, fungisida, dan rodentisida.
                 Biofertilizer (pupuk hayati) didefinisikan sebagai preparat yang mengandung sel hidup  atau sel laten dari strain mikroorganisme yang efisien yang membantu tanama menyerap nutrisi oleh interaksi mereka di rhizosfer saat diaplikasikan melalui biji atau tanah. Mereka mempercepat proses mikroba tertentu di tanh yang menambah tingkat ketersediaan nutrisi dalam bentuk yang mudah diasimilasi oleh tanaman. Penggunaan pupuk hayatiadalah salah satu komponen penting dari manajemen nutrisi terpadu, karen mereka adalah sumber nutrisi tanaman yang efektif dan terbarukn untuk melengkapi pupuk kimia untuk pertanian berkelanjutan. Beberapa mikroorganisme dan hubungan mereka dengan tanaman-tanaman sedang dieksploitasi dalam produksi pupuk hayati. Mereka dapat dikelompokkan dalam berbagai cara berdasarkan sifat dan fungsinya.


B.       Rumusan Masalah
1.      Apa itu biopestisida ?
2.      Apa saja keunggulan dan kelemahan biopestisida
3.      Apa itu Biofertilizer?
4.      Apa manfaat dari Biofertilizer ?
C.      Tujuan
1.      Mahasiswa dapat mengetahui tentang biopestisida
2.      Mahasswa dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan biopestisisda
3.      Mahasiswa dapat mengetahui apa itu Biofertilizer
4.      Mahasiswa dapat mengetahui manfaat dari Biofertilizer



















BAB II
PEMBAHASAN
A.           Biopestisida
               Biopestisida terdiri dari dua suku kata utama yaitu, bio dan pestisida. Kata bio berasal dari Bahasa yunani, bios yang berarti hidup dan pestisida yang berarti pembasmi hama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa biopestisida merupakan suatu pembasmi hama yang berasal dari zat hidup. Biopestisida hayati jenis pestisida yang bahan dasarnya mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus yang bersifat antagonis terhadap mikroba lainnya (penyebab penyakit tanaman) atau mengahasilkan senyawa tertentu yang bersifat racun baik bagi serangga (hama) maupun nematode (penyebap penyakit tanaman). Biopestisida nabati jenis pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan. Biopestisida digunakan untuk mengendalikan hama dan atau penyakit yang mengganggu, merusak, atau menyerang pada tanaman atau tumbuhan.
               Biopestisida tidak mengandung zat racun yang berbahaya bag kesehatan manusia dan lingkungan. Hal ini tentunya berbeda dnegan pestisida yang berbasis bahan berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Menurut Scientist(2014), jenis-jenis biopestisida  yaitu:
1.      Insektisida biologi (bioinsektisida)
        Berasal dari mikroba yang digunakan sebagai insektisida. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga tidak dapat menimbulkan gangguan terhadap hewan-hewan lainnya maupun tumbuhan. Jenis mikroba yang akan digunakan sebagai insektisida harus mempunyaii sifat yang spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran dan tidak pada jenis-jenis lainnya. Mikroba patogen yang telah sukses dan berpotensi sebagai insektisida biologi salah satunya adalah Bacillus thuringiensis. Insektisida ini efektif untuk membasmi larva dan lalat.
2.      Herbisida biologi (bioherbisida)
          Herbisida termasuk dalam golongan herbisida ini ialah pengendalian gulma dengan menggunakan penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri, jamur dan virus. Bioherbisida yang pertama kali digunakan ialah De Vine yang beraal dari Phitophthora palmivora yang digunakan untuk mengendalikan morrenia odorata, glma pada tnaman jeruk.
3.      Fungisida biologi (Biofungisisda)
        Biofungisida menyediakan alternatif yang dipakai untuk mengendalikan penyakit jamur. Bebebrapa biofungisida yang telah digunakan adalah spora Trichoderma sp. digunakan untuk mengendalikan penyakit akar putih pada tanamamn karet dan kayu fusarium pada cabai.
               Pestisida adalah bahan atau zat kimia yang digunakan untuk membunuh hama, baik yang berupa tumbuhan, serangga, maupun hewan lain di lingkungan kita. Berdasarkan jenis hama yang akan diberantas, pestisida digolongkan menjadi insektisida, herbisida, nematisida, fungisida, dan rodentisida.
1.      Insektisida, Insektisida merupakan pestisida untuk memberantas serangga, seperti nyamuk, kecoak, kutu busuk, rayap, semut, belalang, wereng, ulat, dan sebagainya. Contoh insektisida antara lain diazinon, tiodan, basmion, basudin, propoksur, diklorovinil dimetil fosfat, timbel arsenat, dan magnesium fluorosilikat.
2.      Herbisida, Herbisida merupakan pestisida untuk mencegah dan mematikan gulma atau tumbuhan pengganggu, seperti eceng gondok, rumput teki, dan alang-alang. Alang-alang dapat dikatakan sebagai hama tanaman karena alang-alang menyerap semua zat makanan yang ada dalam tanah. Contoh herbisida antara lain gramoxone, totacol, pentakloro fenol, dan amonium sulfonat.
3.      Nematisida,Nematisida adalah pestisida untuk memberantas hama cacing. Hama ini sering merusak akar atau umbi tanaman. Contoh nematisida adalah oksamil dan natrium metam.
4.      Fungisida, Fungisida adalah pestisida untuk memberantas jamur (fungi). Contoh fungisida adalah timbel (I) oksida, carbendazim, tembaga oksiklorida, dan natrium dikromat.
5.      Rodentisida,Rodentisida adalah pestisida untuk memberantas binatang pengerat, misalnya tikus. Contoh rodentisida adalah warangan (senyawa arsen) dan thalium sulfat.
Pestisida organik yang terbuat dari ekstrak beberapa tanaman seperti rosemary thyme, cengkeh, lavender, kemangi, mint, dan beberapa ekstrak minyak tumbuhan sangat potensial sebagai bahan alami pembuatan pestisida untuk diaplikasikan pada bidang agrikultur. Bahan-bahan yang sebagian digunakan sebagai bumbu dapur tersebut sekarang menjadi kunci yang sangat ampuh dalam organik agrikultur melawan berbagai hama penyakit tanaman. Sebuah studi yang dipresentasikan oleh beberapa ilmuwan dalam pertemuan nasional American Chemical Society’s ke 238 di Kanada melaporakan bahwa zat yang disebut “essential oils pesticides” atau “killer spices” merupakan kandidat pestisida alami yang ramah lingkungan dan resiko yang sedikit terhadap kesehatan manusia dan hewan.
Seperti apa contohnya?
Contohnya adalah pestisida organik dari daun cengkeh dan sereh wangi.
1.      Pestisida Organik dari Daun Cengkeh
Tanaman cengkeh telah lama dikenal masyarakat, baik sebagai  bumbu dapur maupun bahan baku industri (rokok, kosmetik, obat). Tanaman ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati karena dapat digunakan sebagai insektisida, fungisida, bakterisida, dan nematisida. lus similis, Nematoda (Meloidogyne incognita) Senyawa aktif yang dikandung oleh tanaman ini dapat menghambat/menekan pertumbuhan/perkembangan cendawan penyebab penyakit, hama, nematoda dan bakteri. OPT yang dapat dikendalikan antara lain : Jamur (Fusarium sp.; Phytophthora sp.;) Lalat buah (Dacus sp.); Pseudomonas solanacearum, Radopho.
2.      Pestisida Organik dari Sereh Wangi
Tanaman ini dapat  menggantikan pestisida kimia yaitu untuk insektisida, bakterisida, dan nematisida. Senyawa aktif dari tanaman ini berbentuk minyak atsiri yang terdiri dari senyawa sitral, sitronella, geraniol, mirsena, nerol, farnesol, metil heptenol dan dipentena. Tanaman ini dapat mengendalikan Kumbang beras : (Tribolium sp); Sitophilus sp.;  Callosobruchus sp.; Nematoda (Meloidogyne sp.); dan Jamur Pseudomonas sp.

B.            Keunggulan dan Kelemahan Biopestisida
Keunggulan
Kelemahan
Murah dan mudah dibuat
Daya kerjanya relatif lambat
Relatif aman tehadap lingkungan
Tidak membunuh langsung hama sasaran
Kandungan kimianya tidak menyebabkan keracunan pada tanaman
Tidak tahan sinar matahari dan tidak tahan simpan
Tidak mudah menimbulkan kekebalan hama
Kurang praktis
Menghasilkan produk pertanian yang sehat
Perlu penyemprotan berulang ulang

            Pupuk mikrobiologis atau biofertilizer atau pupuk hayati adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme hidup yang ketika diterapkan pada benih, permukaan tanaman, atau tanah, akan mendiami tizosfer atau bagian dalam dari tanaman dan mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan pasokan nutrisi utama dari tanaman. Denagn kata lain, puupuk hayati adalah produk biologi aktif yang terdiri dari mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah.
            Mengapa disebut pupuk hayati? pupuk hayati disebut pupuk hidup, sesuai namanya pupuk hayati adalah pupuk yang kandungan utama adalah mikroorganisme. Pupuk hayati merupakan pupuk yang istimewa karena memiliki banyak fungsi, selain sebagai suplai hara tanaman, pupuk hayati dapat berfungsi sebagai proteksi tanaman, mengurai residu kimia, dan lain sebgainya. Sangat tepat apabila pelaku pertanian menggunakan pupuk hayati sebagai pupuk utama didalam budidaya pertanian.
            Unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman tetapi jumlah atau kesediaanya sering kurang atau tidak mencukupi di dalam tanah ialah N, P, dan K. Oleh karena itu, ketiga unsur ini ditambahkan dalam bentuk pupuk. Tanah dapat didefinisikan sebagai media alami untuk pertumbuhan tanaman yang terdiri atas mineral, material organik dan organisme hidup. Aplikasi pupuk kimia yang berlebih dan terus menerus dapat membawa dampak negatif terhadap kondisi tanah dan lingkungan. Namun kenyataannya, pertanian modern sangat bergantung pada penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk  dan pestisida untuk meningkatkan hasil panen. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka pupuk organik yang mengandung mikrob(pupuk hayati) dapat dijadikan sebagi alternatif dari penggunaan pupuk kimia.
            Pupuk hayati kini banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki mutu. Namun, pemakaian pupuk tersebut harus hati-hati karena komposisi hara yang ada pada label kemasan kadang tidak sesuai dengan yang dikandungnya. Pupuk hayati atau lebh dikenal telah banyak beredar dipasaran, dan bererapa daerah mulai digunakan oleh petani. Pupuk mikroba menurut SK Menteri Pertanian No. R.130.760.11.1998 digolongkan kedalam pupuk alternatif.
            Secara umum istilah pupuk hayati diartikan sebagai suatu bahan yang mengandung sel hidup atau dalam keadaan laten dari suatu strain penambat nitrogen, pelarut, atau mikroorganisme selulolitik yang diberikan kebiji, tanah, atau ketempat pengomposan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mmpercepat proses mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobiologis untuk meningkatkan ketersediaan hara, sehingga dpat dimanfaatkan oleh tanaman, menekan soilborne disease, mempercepat proses pengomposan, memperbaiki struktur taah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
            Di Indonesia, mikroornisme telah lama dimanfaatkan, terutama pada proses fermentasi makanan secara tradisional, dan juga untuk minuman. Adanya keputusan pemerintah untuk memberi prioritas yang tinggi  pada pengembangan bioteknologi, emnyebabkan perhatian pada penggunaan mikroorganisme makin meningkat, selain digunakan dalam proses fermentasi secara tradisional. Bentuk-bentuk inokulun pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar, biakan cair, biakan kering, biakan kering beku, dan tepung. Inokulun yang digunakan secara luas dilapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Sebagai bahan pembawa inokulun tepung, dapat digunakan bahan organik seperti gambut, arang, sekam, dan kompos. Untuk pembawa anorganik digunakan bentonit, vermikulit, dan zeolit.
            Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Namun, sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukkan sifat mikrobiologis, artinya mikroorganisme yang terdapat dalam roduk tersebut tidak dapat diidentifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat emnyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani.
            Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah
mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Jumlah tersebut dapat berkurang
karena suhu yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme daripada suhu tnggi. Peningkatan suhu menyebabkan kelembapan menurun. Dengan mempertahankan kelembapan, kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Berdasarkan tingkat kelembamannya yang cukup tinggi, gambut cukup baik untuk pertumbuhan mikroornaisme, baik berupa bakteri maupun jamur.
            Untuk melindungi konsumen dan produsen pupuk mikroba, maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang memadai dan dpat dipertanggungjawabkan, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti pemalsuan atau penurunan kualitas dapat dihindari. Sistem monitoring dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah, jenis, dan kualitas pupuk mikroba yang beredar di pasaran.
            Secara umum manfaat dari pupuk hayati antara lain:
1.      Menyuburkan tanah
            Pupuk hyati mengnadung mikroorganisme yang dapat mendegradasi bahan organik sehingga mampu mnyediakan unsur hara yang diserap tanaman dan menghasilkan untuk meningkatlan kesuburan tanah.
2.      Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah
            Mikroorganisme yang ditambahkan dalam tanah dan mengubah zat menjadi bentuk yang dpata diserap oleh tanaman.
3.      Meningkatkan daya serap terhadap air
            Penggunaan pupuk hayati secra tepat akan menyebabkan tanah menjadi gembur. Tanah gembur akan memiliki pori-pori lebih bnyak guna menyalur dan menimpan air tanah untuk kebutuhan tanaman. Pada saat musim kemarau, tanah menjadi menahan air sehingga erosi dan bnjir dapat mdikurangi.
4.      Menyediakan hara mineral bagi tumbuhan
            Pupuk hayati mengandung unsur hra akan berimbang yang dibutuhkn oleh mikroba tanah dan tanaman. Pupuk hayati mengandung mikroorganisme unggul yang memiliki kemampuan utnuk mengubah unsur hara yang tersedia untuk tanaman.
5.      Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian
            Penggunaan pupuk hayati dengan segala kemampuan dan kelebihan yang dimiliki oleh mikroorganisme yang dikandungnya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanamamn skaligus menghemat biaya produksi.
6.      Menghasilkan produk sehat dan ramah lingkungan
            Pupuk hayati diproduksi menggunakan bahan baku alami yang diproses secara modern sehingga tidak meninggalkan residu pada taaman dan amana untuk dikomsumsi. Produk yang dihasilkan dari lahan yan diaplikasikan dengan pupuk hayati lebih sehat, enak dan segar karena bebas residu kimia dan tidak berbahaya buat dikomsumsi.

            Biofertilizer (pupuk hayati) didefinisikan sebagai preparat yang mengandung sel hidup  atau sel laten dari strain mikroorganisme yang efisien yang membantu tanama menyerap nutrisi oleh interaksi mereka di rhizosfer saat diaplikasikan melalui biji atau tanah. Mereka mempercepat proses mikroba tertentu di tanh yang menambah tingkat ketersediaan nutrisi dalam bentuk yang mudah diasimilasi oleh tanaman. Penggunaan pupuk hayatiadalah salah satu komponen penting dari manajemen nutrisi terpadu, karen mereka adalah sumber nutrisi tanaman yang efektif dan terbarukn untuk melengkapi pupuk kimia untuk pertanian berkelanjutan. Beberapa mikroorganisme dan hubungan mereka dengan tanaman-tanaman sedang dieksploitasi dalam produksi pupuk hayati. Mereka dapat dikelompokkan dalam berbagai cara berdasarkan sifat dan fungsinya.
            Jenis-jenis pupuk hayati:
1.      Pupuk Nitrogen
            Jenis pupuk hayati membantu para ahli pertanian untuk menentukan tingkat nitrogen di dalam tanah. Nitrogen adalah komponen penting yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman membutuhkan jumlah nitrogen yang terbatas untuk pertumbuhannya. Jenis tanaman juga menentukan tingkatan nitrogen. Beberapa nitrogen untuk pertumbuhan mereka sementara beberapa tanaman membutuhkan jumlah yang lebih sedikit. Jenis tanah juga menentukan jenis pupuk hayati apa yang diperlukan untuk tanaman ini. Sebagai contoh, Azobacteria digunakan untuk tanaman non legum; Rhizobium dibutuhkan untuk tanaman legum. Demikian pula ganggang hijau biru diperlukan untuk menanam padi sementara Acetobacter digunakan untuk menanam tebu. Itu berarti hampir semua tanaman membutuhkan berbagai jenis pupuk hayati tergantung pada kebutuhan mereka.
2.      Biofertilizer fosfor
            Digunakan untuk menentukan tingkat fosfor di dalam tanah. Kebutuhan fosfor untuk pertumbuhan tanaman juga terbatas. Pupuk hayati fosfor membuat tanah mendapatkan jumlah fosfor yang tidak dibutuhkn. Tidak perlu bahwa pupuk hayati fosfor tertentu digunakan untuk tanaman tertentu. Mereka dapat digunakan untuk semua jenis tanaman misalnya, Acetobacter, Rhizobium, dan pupuk hayat lainnya dapat menggunakan fosfotika untuk jenis tanaman apapun.
3.      Pupuk biofertil kompos
            Adalah mereka yang memanfaatkan kotoran hewan untuk memperkaya tanah dengan mikroorganisme dan nutrisi yang berguna. Untuk mengubah kotoran hewan menjadi pupuk hayati, mikroorganisme seperti acterria menjalani proses biologis dan membantu mengurai limbah. Kultur jamur selulitik dan kultur Azetobacter dapat digunakan untuk pupuk hayati kompos.
Beberapa biofertilizer dan manfaatnya
            Menurut Sutanto(2002), jenis dan manfaat yang dihasilakn mikroorganisme (biofertilizer)  adalah sebagai berikut:
1. Bakteri Rhizobium
            Adalah salah satu kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosisi dengan tanaman legum, bakteri ibi akan menginfeksi akar tanaman dan membenruk bintil akar didalamnya. Rhizobium hanya dpat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada dalam  bintil akar.
Galaxy Biofertilizer
Fosfor: Melepaskan fosfor yang tidak larut dalam tanah dan memperbaiki fosfor ini          dalam mineral lempung yang sangat penting dalam partanian.
Rhizo: Rhizo bakteri memainkan peran yang sangat penting dalam pertanian dengan         menginduksi nodul nitrogen di akar legum seperti kacang polong, cengkeh.
Azotobactor: Atmosfer mengandung 78% nitrogen yang merupakan nutrisi yang   sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Azotobactor memperbaiki     nitrogen di tanah dan membuatnya tersedia untuk tanaman. Ini melindungi      akar dari patogen lai yang ada di tanah.
Komposer: menguraikan materi organik seperti limbah kebun tanaman mati, ternak,
            dan lain-lain, sehingga meningkatkan produktivitas tanah.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Biopestisida merupakan suatu pembasmi hama yang berasal dari zat hidup. Biopestisida hayati jenis pestisida yang bahan dasarnya mengandung mikroba tertentu baik berupa jamur, bakteri, maupun virus yang bersifat antagonis terhadap mikroba lainnya (penyebab penyakit tanaman) atau mengahasilkan senyawa tertentu yang bersifat racun baik bagi serangga (hama) maupun nematode (penyebab penyakit tanaman). Pupuk hayati merupakan pupuk yang istimewa karena memiliki banyak fungsi, selain sebagai suplai hara tanaman, pupuk hayati dapat berfungsi sebagai proteksi tanaman, mengurai residu kimia, dan lain sebgainya. Sangat tepat apabila pelaku pertanian menggunakan pupuk hayati sebagai pupuk utama didalam budidaya pertanian. Unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman tetapi jumlah atau kesediaanya sering kurang atau tidak mencukupi di dalam tanah ialah N, P, dan K.


DAFTAR PUSTAKA

Isroi. 2009. Pupuk Organik Granul: Sebuah Petunjuk Praktis. Yogyakarta: Isroi

Scientic, Muslim. 2014. Jenis-Jenis Biopestida. Jakarta: CV Pratama

Soenandar, Meidiantie dan Ari Raharjo. Petunjuk Membuat Pestisida          Organik.Jakarta: PT Agromedia Pustaka

Sutanto, Teja Dwi. 2002. Biofertilizer Pertanian. Jakarta: Erlangga


Komentar