BAB 1
HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik
menumbuh kembangkan potensi kemanusiaannya. Tugas pendidik hanya mungkin
dilakukan jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu
sebenarnya.
Dalam kenyataannya masih banyak pendidik yang belum mengetahui gambaran tentang siapa manusia itu sebenarnya dan sifat hakikat apa saja yang dimiliki manusia yang membedakannya dengan hewan sehingga dalam melaksanakan pendidikan belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Melihat kenyataan inilah penulis memandang perlunya dibahas tentang manusia dan pendidikan : hakikat manusia dan pengembangannya.
Dalam kenyataannya masih banyak pendidik yang belum mengetahui gambaran tentang siapa manusia itu sebenarnya dan sifat hakikat apa saja yang dimiliki manusia yang membedakannya dengan hewan sehingga dalam melaksanakan pendidikan belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Melihat kenyataan inilah penulis memandang perlunya dibahas tentang manusia dan pendidikan : hakikat manusia dan pengembangannya.
A. Pengertian Sifat Hakikat
Manusia
Sifat hakikat manusia adalah ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil
membedakan manusia dari hewan, meskipun antara manusia dengan hewan banyak
kemiripan terutama dilihat dari segi biologisnya. Bentuknya (misalnya orang
hutan), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan
kedua kakinya, melahirkan, menyusui anaknya dan pemakan segala. Bahkan carles
darwin (dengan teori evolusinya) telah berjuang menemukan bahwa manusia berasal
dari primat atau kera tapi ternyata gagal karena tidak ditemukan bukti-bukti
yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau
kera. Disebut sifat hakikat manusia karena secara haqiqi sifat tersebut hanya
dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Karena manusia mempunyai
hati yang halus dan dua pasukannya. Pertama, pasukan yang tampak yang meliputi
tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh, yang mengabdi dan tunduk kepada
perintah hati. Inilah yang disebut pengetahuan. Kedua, pasukan yang mempunyai
dasar yang lebih halus seperti syaraf dan otak. Inilah yang disebut kemauan.
Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang.
B. Wujud Sifat Hakikat Manusia
Wujud dari sifat hakikat manusia yang tidak dimiliki oleh hewan yang
dikemukakan oleh faham eksistensialisme dengan maksud menjadi masukan dalam
membenahi konsep pendidikan , Prof. Dr. Umar Tirtaraharja dkk , menyatakan
:
1. Kemampuan Menyadari Diri
Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki manusia maka manusia
menyadari bahwa dirinya memiliki ciri kas atau karakteristik diri. Hal ini
menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dan membuat jarak dengan orang
lain dan lingkungan di sekitarnya. Yang lebih istimewa lagi manusia dikaruniai
kemampuan membuat jarak diri dengan dirinya sendiri, sehingga manusia dapat
melihat kelebihan yang dimiliki serta kekurangan-kekurangan yang terdapat pada
dirinya. Kemampuan memahami potensi-potensi dirinya seperti ini peserta didik
harus mendapat pendidikan dan perhatian yang serius dari semua pendidik supaya
dapat menumbuh kembangkan kemampuan mengeluarkan potensi-potensi yang ada pada
dirinya.
2. Kemampuan Bereksistensi
Kemampuan bereksistensi adalah kemampuan manusia menempatkan diri dan dapat
menembus atau menerobos serta mengatasi batas-batas yang membelenggu dirinya.
Sehingga manusia tidak terbelenggu oleh tempat dan waktu. Dengan demikian
manusia dapat menembus ke sana dan ke masa depan.
Kemampuan bereksistensi perlu
dibina melalui pendidikan. Peserta didik diajar agar belajar dari
pengalamannya, mengantisipasi keadaan dan peristiwa, belajar melihat prospek
masa depan dari sesuatu serta mengembangkan imajinasi kreatifnya sejak masa
kanak-kanak.
3. Kata hati
Kata hati juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk hati, suara
hati, pelita hati dan sebagainya. Kata hati adalah kemampuan membuat keputusan
tentang yang baik atau benar dan yang buruk atau salah bagi manusia sebagai manusia.
Untuk melihat alternatif mana yang terbaik perlu didukung oleh kecerdasan akal
budi. Orang yang memiliki kecerdasan akal budi disebut tajam kata hatinya. Kata
hati yang tumpul agar menjadi kata hati yang tajam harus ada usaha melalui
pendidikan kata hati yaitu dengan melatih akal kecerdasan dan kepekaan emosi.
Tujuannya agar orang memiliki keberanian berbuat yang didasari oleh kata hati
yang tajam, sehingga mampu menganalisis serta membedakan mana yang baik atau
benar dan buruk atau salah bagi manusia sebagai manusia
4. Moral
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan
maka yang dimaksud moral adalah perbuatan itu sendiri. Moral dan kata hati
masih ada jarak antara keduanya. Artinya orang yang mempunyai kata hati yang
tajam belum tentu moralnya baik. Untuk mengetahui jarak tersebut harus ada
aspek kemauan untuk berbuat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa moral yang singkron dengan kata hati yang tajam merupakan moral yang baik. Sebaliknya perbuatan yang tidak singkron dengan kata hatinya merupakan moral yang buruk atau rendah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa moral yang singkron dengan kata hati yang tajam merupakan moral yang baik. Sebaliknya perbuatan yang tidak singkron dengan kata hatinya merupakan moral yang buruk atau rendah.
5. Tanggung jawab
Sifat tanggung jawab adalah kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari
perbuatan yang menuntut jawab yang telah dilakukannya. Wujud bertanggung jawab
bermacam-macam. Ada bertanggung jawab kepada dirinya sendiri bentuk tuntutannya
adalah penyesalan yang mendalam. Tanggung jawab kepada masyarakat bentuk
tuntutannya adalah sanksi-sanksi sosial seperti cemoohan masyarakat, hukuman
penjara dan lain-lain. Tanggung jawab kepada tuhan bentuk tuntutannya adalah
perasaan berdosa dan terkutuk.
6. Rasa kebebasan
Rasa kebebasan adalah tidak merasa terikat oleh sesuatu tetapi sesuai dengan
tuntutan kodrat manusia. Artinya bebas berbuat apa saja sepanjang tidak
bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia. Jadi kebebasan atau kemerdekaan
dalam arti yang sebenarnya memang berlangsung dalam keterikatan.
7. Kewajiban dan Hak
Kewajiban dan hak adalah dua
macam gejala yang timbul karena manusia itu sebagai makhluk sosial, yang satu
ada hanya karena adanya yang lain. Tidak ada hak tanpa kewajiban. Kewajiban ada
karena ada pihak lain yang harus dipenuhi haknya.
8. Kemampuan Menghayati
Kabahagiaan
Kebahagiaan adalah merupakan integrasi dari segenap kesenangan, kegembiraan,
kepuasan dan sejenisnya dengan pengalaman-pengalaman pahit dan penderitaan.
Proses dari kesemuanya itu (yang menyenangkan atau yang pahit) menghasilkan
suatu bentuk penghayatan hidup yang disebut bahagia.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah perpaduan dari usaha, hasil atau takdir dan kesediaan menerimanya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah perpaduan dari usaha, hasil atau takdir dan kesediaan menerimanya.
C.
Dimensi-dimensi Hakikat Manusia, Keunikan dan Dinamikanya.
Dalam hal ini ada 4 macam dimensi yang akan dibahas yaitu :
Dalam hal ini ada 4 macam dimensi yang akan dibahas yaitu :
1. Dimensi Keindividuan
Setiap anak manusia yang
dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain atau
menjadi dirinya sindiri. Inilah sifat individualitas.
Karena adanya individualitas itu setiap orang mempunyai kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat dan daya tahan yang berbeda-beda. Setiap manusia memiliki kepribadian unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Karena adanya individualitas itu setiap orang mempunyai kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat dan daya tahan yang berbeda-beda. Setiap manusia memiliki kepribadian unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruniai
potensi sosialitas demikian dikatakan Mj Langeveld (1955 : 54) dalam buku
(Pengantar Pendidikan, Prof. Dr. Tirtaraharja dan Drs. S.L La Ulo 2005 : 18).
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa setiap anak dikaruniai benih
kemungkinan untuk bergaul. Artinya setiap orang dapat saling berkomunikasi yang
pada hakikatnya di dalamnya ada unsur saling memberi dan menerima. Adanya
dimensi kesosialan pada diri manusia tampak jelas pada dorongan untuk bergaul.
Dengan adanya dorongan untuk bergaul setiap orang ingin bertemu dengan
sesamanya. Manusia hanya menjadi menusia jika berada diantara manusia. Tidak
ada seorangpun yang dapat hidup seorang diri lengkap dengan sifat hakekat
kemanusiaannya di tempat yang terasing. Sebab seseorang hanya dapat
mengembangkan sifat individualitasnya di dalam pergaulan sosial seseorang dapat
mengembangkan kegemarannya, sikapnya, cita-citanya di dalam interaksi dengan
sesamanya.
3. Dimensi Kesusilaan
Kesusilaan adalah kepantasan dan
kebaikan yang lebih tinggi. Manusia itu dikatakan sebagai makhluk susila.
Drijarkoro mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki
nilai-nilai, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatan.
Agar manusia dapat melakukan apa yang semestinya harus dilakukan, maka dia
harus mengetahui, menyadari dan memahami nilai-nilai. Kemudian diikuti dengan
kemauan atau kesanggupan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
4. Dimensi Keberagamaan
Pada hakikatnya manusia adalah
makhluq religius. Mereka percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau oleh
indranya ada kekuatan yang menguasai alam semesta ini. Maka dengan adanya agama
yang diturunkan oleh tuhan manusia menganut agama tersebut.
Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluq yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. Disinilah tugas orang tua dan semua pendidik untuk melaksanakan pendidikan agama kepada anaknya atau anak didiknya.
Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluq yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. Disinilah tugas orang tua dan semua pendidik untuk melaksanakan pendidikan agama kepada anaknya atau anak didiknya.
D. Pengembangan (Proses
Pendidikan) Dimensi Hakikat Manusia
Pengembangan dimensi hakikat
manusia menjadi tugas pendidikan. Pengembangannya dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Pengembangan yang utuh
Pengembangan yang utuh yaitu
apabila pengembangan dimensi hakikat manusia itu terjadi secara utuh antara
jasmani dan rohani, antara dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan dan
keberagamaan, antara aspek koknitif, afektif dan psikomotorik. Semua
dimensi-dimensi tersebut harus mendapat layanan dengan baik, tidak terjadi
pengabaian terhadap salah satunya dalam hal ini dimensi keberagamaan menjadi
tumpuan dari ketiga dimensi yang lain.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap seluruh dimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras. Maka secara totalitas dapat membentuk manusia yang utuh.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakikat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap seluruh dimensi hakikat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras. Maka secara totalitas dapat membentuk manusia yang utuh.
2. Pengembangan yang tidak utuh
Pengembangan yang tidak utuh
adalah proses pengembangan dimensi hakikat manusia yang tidak seimbang antara
dimensi yang satu dengan yang lainnya, artinya ada salah satu dimensi yang
terabaikan penanganannya. Pengembangan yang tidak utuh akan menghasilkan
kepribadian yang pincang dan tidak mantap. Pengembangan yang seperti ini
merupakan pengembangan yang patologis atau tidak sehat.
E. Pandangan Islam
1. Pandangan Islam Terhadap
Manusia
Menurut pandangan islam manusia adalah makhluk Alloh yang paling mulia dari pada yang lainnya. Ia bukan ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Alloh dengan dikaruniai sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh makhluq yang lain. Alloh menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang bagus dan seimbang. Sesuai dengan firman Alloh Surat Ath Thiin yang artinya : Sesungguhnya telah kami jadikan manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya (Q.S At tiin 4) Dalam hubungan dengan pendidikan menurut pandangan islam manusia dapat kita lihat dari tiga titik saja yaitu : (Daradjat dkk, 2000 : 3)
Menurut pandangan islam manusia adalah makhluk Alloh yang paling mulia dari pada yang lainnya. Ia bukan ada dengan sendirinya tetapi diciptakan oleh Alloh dengan dikaruniai sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh makhluq yang lain. Alloh menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang bagus dan seimbang. Sesuai dengan firman Alloh Surat Ath Thiin yang artinya : Sesungguhnya telah kami jadikan manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya (Q.S At tiin 4) Dalam hubungan dengan pendidikan menurut pandangan islam manusia dapat kita lihat dari tiga titik saja yaitu : (Daradjat dkk, 2000 : 3)
a. Manusia sebagai makhluq yang
mulia
Manusia diciptakan oleh Alloh
sebagai penerima dan pelaksana ajaran agama. Oleh karena itu ia ditempatkan
pada kedudukan yang mulia. Untuk mempertahankan kedudukannya yang mulia dan
bentuk pribadi yang bagus itu Alloh melengkapinya dengan akal dan perasaan yang
memungkinkan manusia menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
membudayakan ilmu yang dimilikinya.
Ini berarti manusia sebagai makhluq yang mulia dikarenakan manusia dikaruniai (1) akal dan perasaan (2) ilmu pengetahuan (3) kebudayaan yang seluruhnya dikaitkan kepada pengabdian pada pencipta, Alloh SWT.
Ini berarti manusia sebagai makhluq yang mulia dikarenakan manusia dikaruniai (1) akal dan perasaan (2) ilmu pengetahuan (3) kebudayaan yang seluruhnya dikaitkan kepada pengabdian pada pencipta, Alloh SWT.
1) Akal dan Perasaan
Setiap orang menyadari bahwa ia
mempunyai akal dan perasaan. Akal pusatnya di otak, digunakan untuk berfikir,
perasaan pusatnya di hati, dalam kenyataan keduanya sukar dipisahkan.
Penggunaan akal dan perasaan dapat menentukan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Kemampuan berfikir dan merasa ini merupakan anugerah Alloh yang paling besar dan ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa dan mulai dibandingkan dengan makhluq yang lainnya. Alloh menyuruh manusia berfikir baik tentang dirinya atau tentang alam semesta ini sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan.
Penggunaan akal dan perasaan dapat menentukan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Kemampuan berfikir dan merasa ini merupakan anugerah Alloh yang paling besar dan ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa dan mulai dibandingkan dengan makhluq yang lainnya. Alloh menyuruh manusia berfikir baik tentang dirinya atau tentang alam semesta ini sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan.
2) Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu yang
diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui
intuisi. Ilmu pengetahuan merupakan hasil pengolahan akal (berfikir) dan perasaan
tentang sesuatu yang diketahui itu. Faktor terbesar yang membuat manusia itu
mulia adalah karena ia berilmu dan menggunakan ilmunya dia dapat menguasai
alam, meningkatkan iman dan taqwanya juga dengan ilmu.
3) Kebudayaan
Islam memandang manusia sebagai
makhluq pendukung dan pencipta kebudayaan. Dengan akal, ilmu dan perasaan ia
membentuk kebudayaan dan mewariskan kebudayaan itu kepada anak turunnya.
b. Manusia sebagai kholifah di
bumi
Setelah bumi ini diciptakan,
Alloh memandang perlu bumi itu didiami, diurus dan diolah. Untuk itu ia
menciptakan manusia sebagai kholifah di bumi. Kemampuan bertugas ini adalah
anugerah Alloh dan sekaligus merupakan amanat yang dibimbing dengan suatu
ajaran yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab manusia yang bernama
kholifah itu.
c. Manusia sebagai makhluq
PAEDAGOGIK
Mahluq paedagogik ialah mahluq
Alloh yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Mahluq
itu adalah manusia. Sehingga mampu menjadi kholifah di bumi, pendukung dan
pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitroh Alloh berupa bentuk yang
dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluq yang mulia,
pikiran, perasaan dan kemampuannya berbuat merupakan komponen dari fitrah itu.
Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan mahluq yang lain dan membuat
manusia itu istimewa dan lebih mulia dan sekaligus berarti bahwa manusia adalah
mahluq paedagogik.
2. Pandangan Islam Terhadap
Pendidikan
Ahmad Marimba mendefinisikan
pendidikan sebagai suatu bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh guru
terhadap perkembangan jasmani dan ruhani murid menuju terbentuknya kepribadian
yang utama (Rusn, 1988 : 54).
Menurut pandangan islam
pendidikan itu sangat penting, karena syariat islam tidak akan dihayati dan
diamalkan oleh umatnya kalau hanya diajarkan saja. Untuk itulah agar islam bisa
diamalkan oleh umatnya tidak hanya teoritis tetapi juga praktis maka umat islam
harus dididik melalui proses pendidikan. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh
Nabi SAW dalam mengajak orang untuk beriman dan beramal serta berakhlaq yang
baik sesuai dengan ajaran islam dengan berbagai metode dan pendekatan. Sehingga
beliau adalah seorang pendidik yang berhasil.
F. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat
kita simpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sifat hakekat manusia adalah
ciri-ciri karakteristis yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan
atau dari makhluq lainnya
2. Wujudnya sifat hakikat manusia
antara lain kemampuan manusia menyadari diri, kemampuan bereksistensi,
mempunyai kata hati, moral, tanggung jawab, rasa kebebasan, kewajiban dan hak
serta kemampuan menghayati kebahagiaan.
3. Dimensi-dimensi sifat hakekat
manusia ada 4 yaitu dimensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan dan
keberagaman.
4. Pengembangan dimensi hakekat
manusia ada dua yaitu : pengembangan yang utuh dan pengembangan yang tidak
utuh.
5. Menurut pandangan islam
– Terhadap manusia, manusia
adalah :
a. Sebagai mahluq yang mulia
karena dikaruniai akal dan perasaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan utuh
mengabdi kepada Alloh.
b. Sebagai kholifah dimuka bumi.
c. Sebagai mahluq paedagogik
6. Terhadap pendidikan :
Menurut pandangan islam
pendidikan itu sangat penting, karena syariat islam dapat dihayati dan
diamalkan oleh umatnya hanya dengan proses pendidikan seperti yang dilakukan
olah Nabi SAW.
Komentar
Posting Komentar