HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Lengkap Biologi
Dasar dengan judul ”Percobaan Lazarro
Spallanzani” yang disusun oleh :
nama : Hilda
NIM : 1616040012
Kelas : reguler
Kelompok : VI
telah diperiksa dan disahkan oleh asisten/
koordinator asisten, maka laporan ini diterima.
Makassar, Desember 2016
Koordinator Asisten Asisten
Muh.Farid Abdullah,S.Pd Surya Ningsih
NIP.161051301073 NIM.1314041015
Mengetahui,
Dosen
Penanggungjawab
Sitti Saenab,S.pd M.pd
NIP.198103022009122
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pertanyaan “dari manakah asal
kehidupan?” telah dicoba dijawab berbagai teori dan percobaan. Para ilmuwan
hingga saat ini belum dapat menjawab asal usul kehidupan dibumi ini. Beberapa
ilmuwan telah mengemukakan teori tentang masalah ini, tetapi belum dapat
menberikan jawaban yang memuaskan. Beberapa yeori yang mengungkapkan asal usul
kehidupan adalah teori abiogenesis, teori biogenesis, teori evolusi kimia, dan
teori evolusi biologi.
Sejak
berabad-abad lalu hingga sekarang, asal-usul kehidupan di bumi ini menjadi
bahan perdebatan sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan antara lain: “apakah
hidup itu?, bagaimanakah bentuk kehidupan pertama kali?, kapan terbentuk
kehidupan dan dimana kehidupan pertama kali terjadi?”, itulah pertanyaan-pertanyaaan
yang mengusik para pakar. Sampai sekarang teori asal-usul kehidupan masih
merupakan hipotesis mengenal terbentuknya bumi dan planet-planet lainnya.
Setiap
pertanyaan tentang asal-usul kehidupan dapat kita jawab dengan melakukan
percobaan teori. Salah satunya adalah
teori lazarro spallanzani. Percobaan
ini dilakukan agar terbukti bahwa
makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula, serta untuk membantah atau
meragukan kebenaran teori abiogenesis yang menyatakan bahwa mkhluk hidup
berasal dari benda mati.
Rasa
keingintahuan salah satu sifat manusia
yang menonjol jika dibanding dengan makhluk lainnya mendorongnya untuk mengenal
dirinya sendiri dan lingkungannya bahkan
bumi sebagai tempat tinggalnya. Keinginan untuk mengetahui merupakan tonggak
kewujudan manusia dapat diperoleh dari pengetahuan mengenai segi yang lain
tentang kehidupan kita di bumi yang
hanaya satu ini.
B.
Tujuan
Praktikum
Tujuan ini memberi kesempatan
kepada mahasiswa mengikuti jalan pemikiran dan langkah-langkah yang pernah
dilakukan para ilmuwan/peneliti dalam memecahkan masalah biologi, khususnya
dalam menjawab pertanyaan “dari manakah asal kehidupan?”.
C.
Manfaat
Praktikum
1. Mahasiswa
dapat membuktikan percobaan-percobaan yang telah dilakukan oleh para peneliti
sebelumnya.
2. mahasiswa
dapat menambah pengetahuan mengenai teori “Biogenesis” khususnya mengenai
percobaan yang dilakukan oleh Lazzaro Spallanzani.
3. Mahasiswa
dapat mengetahui dari manakah asal usul kehidupan dan membuktikan kebenaran
teori Lazarro Spallanzani.
4. Dapat
mengikuti jalan pemikiran dan langkah-langkah yang pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya
dalam memecahkan masalah biologi.
5. mahasiswa
dapat mengetahui perbedaan antara teori Abiogenesis dan Biogenesis.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Sebenarnya sudah sejak zaman Yunani Kuno
manusia berusaha memberikan jawaban terhadap masalah asal usul kehidupan
tersebut.Namun, jawaban itu umumnya hanya berupa dongeng atau mitos saja. Ada
dua kelompok ilmuwan yang mengemukakan paham yang berbeda tentang asal usul
makhluk hidup yaitu paham abiogenesis dan paham biogenesis. Teori abiogenesis
oleh Aristoteles menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi
ini berasal dari benda mati. Ia berkeyakinan bahwa makhluk hidup tersebut
terjadi begitu saja atau secara spontan. Oleh sebab itu, paham atau teori
abiogenesis ini disebut juga paham generation
spontanea (Warianto,2011).
Paham Abiogenesis bertahan cukup lama,
yaitu semenjak zaman Yunani kuno (ratusan tahun sebelum masehi) hingga
pertengahan abad ke-17. Pada pertengahan abad ke-17, Antonie Van Leeuwenhook
menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda
aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para
pendukung paham Abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhook ini
seolah-olah memperkuat pendapat mereka. Ada yang menduga bahwa jasad
renik itu muncul sebagai akibat dekomposisi jaringan tumbuhan atau hean yang
mati. Dengan kata lain, mereka mengira bahwa orgaisme berasal dari bahan mati,
dikenal sebagai generasi spontan atau
abiogenesis (abio, “tak hidup”; genesis
“asal”) (Warianto,2011).
Pemikiran mengenai generasi spontan
sekurang-kurangnya telah dicetuskan oleh bangsa Yunani Kuno yang meyakini bahwa
daging yang membusuk menghasilkan belatung dan bahwa lalat serat katak muncul
begitu saja dari lumpur pada keadaan-keadaaniklim tertentu.Banyak orang pada
masa-masa yang lalu tidak sependapat bahwamikroorganisme menjelma melalui
generasi spontan bagi cacing, serangga, dan bahkan binatang seperti tikus dan
katak(Warianto,2011).
Pada tahun 1839,Theodore Schwann yang juga
ahli pengetahuan berkebangsaan Jerman, melaporkan bahwa tubuh hewan tersusun
atas sel. Schwann kemudian mengusulkan dua azas yang dikenal dengan teori sel,
yaitu : semua organisasi terdiri atas sel, dan sel merupakan unit dasar
organisasi kehidupan (Adnan,2009).
Teori
Biogenesis muncul setelah paham Abiogeneis mulai diragukan. Beberapa
ahli kemudian mengemukakan paham Biogenesis. Beberapa ahli yang mengemukakan
yang mengemukakan paham Biogenesis diantaranya adalah Francesco Redi (Italia, 1626-1697) dia menentang paham Abiogenesis
dengan melakukan percobaan toples dan daging. Toples 1 diisi daging yang
ditutup rapat-rapat. Toples 2 diisi daging dan ditutup kain kasa. Toples 3
diiisi daging dan dibuka. Ketiga toples ini dibiarkan beberapa hari. Dari hasil
percobaan ini ia mengambil kesimpulan sebagai berikut : Larva (kehidupan) bukan
berasal dari daging yang membusuk tetapi berasal dari lalat yang dapat masuk ke
dalam tabung dan bertelur pada keratan daging (Warianto,2011).
Lazzaro
Spallanzani menentang pendapat John
Needham (penganut paham Abiogenesis), dengan melakukan percobaan air
kaldu dalam tabung. Menurutnya kehidupan yang terjadi pada air kaldu disebabkan
oleh pemanasan yang tidak sempurna. Kesimpulan peercobaan Spallanzani adalah :
pada tabung terbuka terdapat kehidupan berasal dari udara, pada tabung tertutup
tidak terdapat kehidupan, hal ini membuktikan bahwa kehidupan bukan berasal
dari air kaldu melainkan dari makhluk hidup lainnya (yang berasal dari udara).
Jadi, adanya pembusukan air kaldu, karena adanya kontaminasi mikroba dari udara
dengan air kaldu tersebut. Namun, pendapat ini di tentang oleh ahli
Abiogenesis, mereka mengatakan bahwa mikroorganisme tidak tumbuh, karena tidak terdapat
di udara (Lasyifa,2014.).
Louis
Pasteur pun juga melakukan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Spalanzani. Pasteur melakukan
percobaan dengan menggunakan air kaldu pada tabung leher angsa, bertujuan untuk
membuktikan bahwa mikroorganisme diudara bersama dengan debu. Hasil percobaanya
adalah pertama, mikroorganisme yang tumbuh bukan berasal dari benda mati
(cairan) akan tetapi dari mikroorganisme yang terdapat di udara. Kedua jasad
renik terdapat di udara bersama dengan debu.
Pada percobaan ini gugurlah
paham Abiogenesis dan muncul semboyan Pasteur yang terkenal yaitu “Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo”
yang mengandung pengertian : kehidupan berasal dari telur dan telur dihasilkan
makhluk hidup, makhluk hidup sekarang berasal dari makhluk hidup se, makhluk
hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya (Warianto,2011).
Fransisco Redi (1626-1697) seorang ahli kedokteran Italia
mencoba mencoba membuktikan ketidakbenaran pendapat generatio spontanea dengan
membuat percobaan-percobaan yang hasilnya menyatakan bahwa hewan kecil (lalat)
yang muncul pada bebagai substrat berasal dari telur yang diletakkan induknya.
Seorang ahli Italia lainnya yaitu Lazarro Spallanzani (1729-1799) melakukan
serangkaian percobaan dengan memasukkan substrat berupa senyawa-senyawa organik
yang dimasukkan di dalam botol labu, bagian atas botol ditutup rapat kemudian
dipanaskan hingga steril. Setelah disimpan beberapa lama, ternyata tidak
ditemukan kehidupan dalam botol tersebut, hal ini berbeda dengan botol yang
tidak dipanaskan (sebagai kontrol) yang menjadi busuk dan ditumbuhi berbagai
kehidupan jasad renik (Warianto,2011).
Selanjutnya seorang ahli kimia
berkebangsaan Prancis dengan ulet melakukan serangkaian percobaan untuk
membuktikan ketidakbenaran teori abiogenesis yaitu Louis Pasteur (1822-1895).
Pasteur melakukan percobaan dengan merancang alat berupa labu yang dilengkapi
dengan tabung panjang yang berbentuk leher angsa. Hasilnya, setelah dibiarkan
beberapa lama tanpa dilakukan perlakuan apapun. Setelah beberapa lama, ternyata
tidak ada perubahan mikroorganisme yang ditemukan di sana. Alasannya bahwa
partikel-partikel debuyang mengandung mikroorganisme tidak mencapai larutan
nutrisi, mereka mengendap di dasar tabung leher angsa yang berbentuk huruf U
dan aliran udara berkurang sehingga partikel-partikel tadi tidak terbawa ke
dalam labu. Apabila labu yang berisi nutrisi kemudian penyimpananya diletakkan
secara miring sehingga memungkinkan partikel debu memasuki labu lewat aliran
udara, maka setelah beberapa lama disimpan, ditemukan mikroorganisme pada labu
tersebut (Warianto,2011).
Walaupun Louis Pasteur dengaan
percobaannya telah berhasil menumbangkan paham abiogenesis atau generation
spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham biogenesis, belum berarti bahwa
masalah bagaimana terbentuknya makhluk hidup yang pertama kali terjawab.
Disamping teori abiogenesis dan biogenesis, masih ada lagi beberapa teori
tentang asal usul kehidupan yang dikembangkan oleh beberapa ilmuwan,
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Teori kreasi
khas, yang menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh zat supranatural(gaib) pada saat yang
istimewa.
b. Teori Kromosom,
yang menyatakan bahwa kehidupan yang ada di planet ini berasal dari mana saja.
c. Teori Evolusi
Kimia, yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini muncul berdasarkan hokum
Fisika Kimia.
d. Teori Keadaan
Mantap, yang menyatakan bahwa kehidupa tidak berasal dari usul.
e. Teori evolusi
Biologi, yang menyatakan bahwa pada suatu ketika atmosfer bumi kaya akan senyawa uap air, CO2, CH4, NH3,dan Hidrogen. Karena adanya energy radiasi
benda-benda angkasa seperti sinar ultraviolet, kemungkinan senyawa-senyawa
sederhana tersebut membentuk senyawa organic atau senyawa hidrokarbon yang
lebih kompleks. Proses reaksi tersebut berlangsung di lautan (Warianto,2011).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari : Selasa, 29 November 2016
Waktu : 10.00-11.50 WITA
Tempat :
Laboratorium Biologi lantai 3 bagian
timur
FMIPA
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. 3 buah tabung reaksi
b. 1 buah rak tabung reaksi
c. 3 buah sumbat gabus/karet yang
sesuai
d. 1 buah lampu spiritus
e. 1 buah klem kayu
f. 1 potong lilin
g. 1 buah korek api
2. Bahan
1. 30 ml kaldu cair
E. Prosedur Kerja
1. Mengisi ketiga
tabung reaksi dengan kaldu masing-masing 10 mL.
2.
Tabung I,
menyumbat dengan sumbat kayu dan menetesi lilin cair sela antara mulut tabung
dengan tutup dan tidak dipanaskan.
3.
Tabung II,
mendidihkan kaldunya di atas api lampu spritus selama 2 menit, membiarkannya
terbuka (tanpa tutup).
4.
Tabung III,
mendidihkan kaldunya di atas api lampu spritus selama 2 menit, segera menutupnya
dengan sumbat gabus dan menetesi lilin cair sela antara mulut tabung dengan
tutupnya.
5.
Meletakkan
semua tabung percobaan pada rak tabung reaksi dan menyimpannya di atas meja
kerja, usahakan terhindar dari gangguan hewan, cahaya matahari langsung dan
sumber panas lainnya.
6.
Melakukan
pengamatan dan pencatatan setiap hari, selama lima hari.
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Praktikum
TABUNG/HARI
|
KE-0
|
KE-1
|
KE-2
|
KE-3
|
KE-4
|
KE-5
|
|
I
|
W
|
-
|
-
|
-
|
-
|
+
|
++
|
E
|
-
|
-
|
-
|
+
|
+
|
++
|
|
B
|
-
|
-
|
-
|
-
|
+
|
++
|
|
II
|
W
|
-
|
-
|
+
|
+
|
+
|
-
|
E
|
-
|
-
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
B
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
III
|
W
|
-
|
-
|
+
|
+
|
+
|
++
|
E
|
-
|
-
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
B
|
-
|
-
|
-
|
-
|
+
|
++
|
|
Keterangan :
B = bau
W = warna
E = endapan
- =
tidak ada perubahan
+ = ada
perubahan
++ =
sangat berubah
Gambar hasil pengamatan
HARI/
TANGGAL
|
TABUNG A
|
TABUNG B
|
TABUNG C
|
Ke-0
29 November
2016
|
|||
Ke-5
4 Desember
2016
|
B. Pembahasan
a. Tabung 1( tutup dengan gabus/tidak
dipanaskan)
Pada tabung I di berikan perlakuan air kaldu di tutup
atau disumbat dengan sumbat gabus dan tidak dipanaskan
kemudian ditetesi cairan lilin disela gabus dengan mulut tabung, karena air
kaldu dalam tabung tersebut langsung berinteraksi dengan udara maka pada hari
ke 2,hari ke 3, hari ke 4 air kaldu tersebut berwarna keruh. Hal tersebut
disesabkan karena adanya mikroorganisme dalam kaldu tersebut yang berasal dari
udara.
b. Tabung
2(di didihkan/tanpa tutup)
Pada tabung II diberikan perlakuan air kaldu pada tabung dipanaskan
hingga mendidih selama 2 menit akan tetapi dibiarkan terbuka, sehingga pada hari 1 sampai hari
ke 5 tidak terjadi perubahan warna, bau dan endapan. Hal tersebut disebabkan
karena adanya perlakuan pemanasan yang dilakukan sehingga mematikan
mikroorganisme dalam air kaldu tersebut.
c. Tabung
3(di didihkan/tutup dengan gabus)
Pada tabung III dberlakukan dengan air kaldu pada tabung dipanaskan selama
2 menit hingga mendidih
kemudian ditutup dengan sumbat gabus dan ditetesi cairan lilin.
Pada hari 1 sampai hari ke 5 tidak terjadi perubahan warna, bau dan endapan.
Hal tersebut disebabkan karena adanya perlakuan pemanasan hingga steril sehingga mematikan mikroorganisme dalam air
kaldu tersebut dan tabung yang ditutup dengan sumbat gabus sehingga udara dari
luar tidak terkontaminasi dengan air kaldu tersebut. Dengan demikian mikroba
atau mikroorganisme tidak dapat masuk ke dalam tabung.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan pada
percobaan lazarro spallanzani, maka dapat disimpulkan bahwa tabung reaksi yang
berisi air kaldu dengan perlakuan tidak dipanaskan dan tidak ditutup akan lebih
muda menghasilkan suatu mikroorganisme baru dibandingkan dengan perlakuan yang
lain. Hal ini disebabkan karena adanya kontaminasi dari udara yang menghasilkan
bau busuk. Sedangkan pada perlakuan yang lain yaitu kaldu yang dipanaskan dapat
membunuh mikroorganisme.
B.
Saran
Saran untuk praktikan
agar lebih berhati-hati dalam menggunakan alat praktikum, agar alat yang digunakan
tetap baik dan terjaga serta
untuk menghindari kecelakaan yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan,2009.Biologi
Sel:Struktur dan Fungsi Sel.Jurusan Biologi FMIPA UNM
Chaidar,Warianto,2011.
Biologi Dasar: Asal Usul Makhluk Hidup.Semarang. PT Gramedia Pustaka.
Lasyifa,Anni.2014.Teori Biogenesis.Vol 2.No
3.(diakses pada 04 Desember 2016).
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1.
Apakah yang menjadi penyebab
terjadinya perubahan kaldu pada percobaan tersebut diatas ?
Jawab : Yang menyebabkan perubahan kaldu pada percobaan tersebut adalah
Mikroorganisme yang hidup di dalam kaldu.
2. Dari manakah datangnya makhluk hidup yang menyebabkan
terjadinya perubahan kaldu tersebut ?
Jawab : Makhluk hidup yang menyebabkan perubahan pada kaldu tersebut
berasal dari spora mahkluk hidup yang mungkin ikut terbawa bersama kaldu atau
mungkin berasal dari udara bebas.
3. Perubahan pada kaldu tersebut terjadi pada tabung yang
diperlakukan bagaimana ? Mengapa bisa demikian ?
Jawab : Air kaldu yang mengalami perubahan adalah air kaldu yang berada
pada tabung yang kaldunya tidak disterilkan atau tidak diisolasi tabungnya dari
udara bebas atau air kaldu yang disterilkan tapi tabungnya tidak ditutup, atau
tabungnya ditutup tapi tidak disterilkan kaldunya. Sehingga mikroorganisme yang
sempat ikut ke dalam tabung dapat melakukan aktivitas.
4. Pada tabung yang diperlakukan bagaimana yang
kaldunya tidak mengalami perubahan ? Mengapa tidak terjadi perubahan warna dan
bau ?
Jawab : Kaldu yang tidak mengalami perubahan warna dan bau adalah kaldu
yang berada pada tabung yang disterilkan dengan cara dipanasi dan diisolasi
dari udara luar dengan sumbat gabus. Hal ini terjadi terjadi karena
mikroorganisme yang sempat ikut kedalam tabung mati pada saat tabung
dipanaskan, dan mikroorganisme baru tidak dapat berkembang karena tabung
terisolasi dari udara luar.
5. Mungkinkah dari bahan kaldu itu tiba-tiba
muncul mikroorganisme baru ?
Jawab : Tidak, karena makhluk hidup sesungguhnya berasal dari makhluk hidup
juga, bukan dari benda mati.
6. Hasil percobaan diatas dapatkah digunakan sebagai
bukti yang kuat menyangkal teori Generatio Spontanea ?
Jawab : Ya, karena hal ini dapat dibuktikan dengan melihat perubahan yang
terjadi pada setiap tabung. Pada tabung II mikroorganisme yang menyebabkan perubahan pada kaldu adalah mikroorganisme
yang berasal dari udara bebas.
Komentar
Posting Komentar