HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Lengkap Biologi
Dasar dengan judul ”Respirasi” yang
disusun oleh :
nama : Hilda
NIM : 1616040012
Kelas
: reguler
Kelompok : VI
telah diperiksa dan disahkan oleh asisten/
koordinator asisten, maka laporan ini diterima.
Makassar, Desember 2016
Koordinator Asisten Asisten
Muh.Farid Abdullah,S.Pd Muh.
Ikram Hadi Putra
NIP.161051301073 NIM.1314440011
Mengetahui,
Dosen
Penanggungjawab
Sitti Saenab,S.pd M.pd
NIP.198103022009122
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Respirasi atau pernapasan adalah
suatu proses pemecahan senyawa organik yang kompleks menjadi senyawa-senyawa
yang telah sederhana, dengan dihasilkan sejumlah energi atau proses oksidasi
bahan makanan atau bahan organik yang terjadi di dalam sel yang dapat dilakukan
secara aerob maupun anaerob. Dalam kondisi aeob, respirasi ini memerlukan
oksigen bebas dan melepaskan karbon dioksida serta energi, sedangkan dalam
kondisi anaerob proses respirasi tidak memerlukan oksigen. Energi yang
dihasilkan dari respirasi aerob jauh lebih besar dari energi hasil respirasi
anaerob.
Respirasi pada hewan bervariasi
misalnya dengan paru-paru, insang, kulit, dan trakea. Sistem pernapasan pada
hewan berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan hewan tersebut. Pada tumbuhan
melakukan proses pernapasan dengan menggunakan stomata yang berbeda-bead,
sesuai denagan hewan karena tumbuhan memerlukan karbondioksida dan mengeluarkan
oksigen sangat berpengaruh pada hewan karena hewan mengeluarkan karbon dioksida
dan memerlukan oksigen jadi terjadi hubungan timbal balik antara hewan dan
tumbuhan.
Energi yang dihasilkan pada proses
respirasi digunakan untuk bergerak pada hewan dan transportasi untuk tumbuhan. Tumbuhan
hijau selalu melakukan pernapasan Pada saat itu tumbuhan akan menyerap oksigen
dan mengeluarkan karbon dioksida dalam volume yang sama. Semual sel dalam tubuh
membutuhkan oksigen untuk oksidasi glukosa dan reaksi kimia pernapasan sehingga
menghasilkan energi dalam bentuk ikatan fosfat (ATP). Setiap organisme itu
sendiri dengan ukuran yang berbeda-beda tentunya proses respirasi yang
dilakukan akan menghasilkan kecepatan respirasi yang berbeda pula dari setiap
organisme lainnya. Hal itu yang melatarbelakangi kami untuk melakukan percobaan
ini.
A. Tujuan Praktikum
1.
Membuktikan bahwa
organisme hidup membutuhkan oksigen untuk respirasinya.
2.
Membandingkan kebutuhan oksigen beebrapa
organisme menurut jenis dan ukuran berat tubuhnya.
B. Manfaat
Praktikum
1.
Praktikan dapat
membuktikan kebutuhan organisme hidup membutuhkan oksigen untuk respirasinya.
2.
Mahasiswa dapat
membandingkan kebutuhan oksigen beberapa organisme menurut jenis dan ukuran
berat tubuhnya.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
pernapasan merupakan suatu prses
pertukaran gas yang berasal dari makhluk hidup dengan gas-gas yang ada di
lingkungannya .Sedangkan respirasi merupakan proses perombakan gas atau bahan
makanan dengan menggunakan oksigen sehingga diperoleh energy dan karbon dioksida.
Pada hewan terdapat 4 macam alat pernapasan yaitu sel permukaan tubuh misalnya
protozoa dan profera insangnya misalnya pada ikan. Trakea pada serangga dan
paru-paru pada manusia dan misalnya pada amfibi, reptile, dan aves (Kusniadi,2007).
Respirasi sel dapat
berlangsung terus menerus, sel-sel hewan harus terus mensrus diberi oksigen dan
karbondioksida harus dibuang. Jumlah oksigen yang tersedia pada hewan air dan
hewan darat dan kebutuhan tersebut juga berbeda. Factor-faktor ini mempengaruhi
jenis dan lokasi permukaan tubuh tempat pertukaran gas itu terjadi. organisme-organisme
uniseluler dan multiseluler kecil, pertukaran gas dilakukan dengan cukup mudah
melalui membrane sel. Organisme bersel tunggal sepenuhnya bergantung pada
difusi untuk pergerakkan dan pertukaraan gas-gas yang terlibat dalam respirasi
internal. Oksigen menembus membrane sel memasukki ajang terjadinya difusi (Wirahadikusumah,2007).
Sebagian
hewan merupakan respirator oksigen. meskipun tergantung pada berbagai suhu,
ukuran badan, aktivitas, tetapi konsumsi hewan seperti itu tidak terikat pada
tersedianya oksigen dalam lingkungan sampai pada suatu saat ketika kadar ksigen
di bawah suatu tekanan parsial tertentu yang disebut titik kritis. Di bawah
titik ini keaadaan oksigen dengan sendirinya akan turun drastic. Untuk
mendaoatkan oksigen dan membuang karbondioksida, seekor hewan harus mempunyai
suatu membrane pernafasan yaitu suatu permukaan yang tipis, basah dan permeable
dan berhubungan dengan lingkingan yang dapat di lalui gas. Membrane tesebut
berupa permukaan tubuh yang lazimnya membrane ini berbatasan pada bagian alat
pernafasan, seperti lamella insang, ujung saluran trakea, atau alveolus
paru-paru,juga harus ada cara untuk meyalurkan gas-gas tersebut dan dari
membran pernafasan, yaitu cara ventilasi permukaanya, dan cara transposnya
sangat berbeda-beda, kebutuhan oksigen dan lingkungan tempat hewan itu hidup (Yatim,1996).
Pemindahan gas melalui
permukaan membrane pernafasan, masuk dank e luar sel tubuh selalu dengan cara
difusi. Jika suatu gas tidak tersdia dalam air, gas, itu akan larut dalam
permukaan membrane yang basah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju respirasi antara lain aktivitas tubuh,
ukuran tubuh, jenis kelamin, suhu tubuh dan posisi tubuh. Semakin banyak aktivitas
energi yang dibutuhkan semakin besar menyebabkan laju pembakaran meningkat
sehingga jumlah O2 yang harus dihirup meningkat
pula dan akhirnya laju respirasi meningkat. Semakin besar ukuran tubuh dan
berat badan seseorang maka kebutuhan O2
lebih banyak sehingga laju pernafasan meningkat dan kadar CO2 yang
dihasilkan meningkat pula. Faktor yaitu jenis kelamin, pria lebih banyak
mempunyai Hb yang lebih besar daripada wanita sehingga O2 yang dibutuhkan lebih besar dan berarti kadar
CO2 yang dihasilkan semakin banyak. Karena oksigen itu
dipergunakan oleh sel-sel maka kadarnya dalam sel akan selau lebih rendah
daripada dalam lingkungan baik di dalam air maupun di udara tempat hewan itu
hidup (Yatim,1996).
Sebagai
suatu medium respirasi, udara mempunyai banyak keuntungan, salah satunya tentu
saja kandungan oksigen yang tinggi. Sementara permukaan respirasi mengeluarkan
oksigen dari udara dan mengeluarkan karbondioksida, difusi lebih cepat membwa
lebih banyak oksigen ke permukaaan respirasi dan membuang karbondioksida. Sistem
trakea merupakan alat pernafasan khas terdapat pada insekta, terdiri dari
sistem pembuluh udara (trachea) yang bercabang-cabang, dimulai dari cabang
besar yang makin lama percabangannya tadi makin kecil dan akhirnya
masing-masing cabang kecil tadi berakhir pada sel tubuh. Udara masuk ke dalam
sistem trrakea melalui lubang-lubang (sprikel)
pada sisi kanan dan kiri tubuh insekta (Wirahadikusumah,2007).
Sistem
trakea merupakan sistem pernafasan yang sedrahan, karena sel-sel dapat
berhubungan langsung dengan udara luar melalui pembuluh darah. Pertukaran gas
[ada sistem trakeal mungkin hanya secara difusi, tetapi pada beberapa insekta,
khususnya insekta yang aktif, pada bagian tertentu dari sistem trakhealnya
diduga memiliki suatu sistem pemompaan uadar satu arah. Keuntungan sistem
aliran udara satu arah adalah dapat terjadi pertukaran gas yang lebih baik bila
dibandingkan dengan sistem pemompaan dua arah (keluar masuk melalui satu
lubang), mengedarka oksigen ke seluruh tubuh, sebab fungsi ini telah dilakukakn
oleh sistem trakea (Yatim,1996).
Didalam makhluk hidup terjadi yang namanya
perombakan senyawa kimia untuk berbagai keperluan hidupnya yang dikenal sebagai
metabolisme. Metabolisme itu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu reaksi
penyusun dan reaksi pengurai. Dan salah satu contoh dari metabolism adalah
respirasi. Tujuan respirasi adalah membebaskan segala energi yang
tersimpan dalam makanan. Respirasi dibagi menjadi dua macam, yaitu respirasi
aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob yaitu respirasi makhluk hidup yang
membutuhkan yang namanya oksigen. Sedangkan respirasi anaerob adalah repirasi
makhluk hidup yang tidak membutuhkan oksigen (Wirahadikusumah,2007).
Jumlah CO2
yang dihasilkan dan jumlah O2 yang digunakan dalam respirasi aerob
tidak selalu sama. Itu tergantung pada jenis bahan atau organisme yang
digunakan perbandingan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah
O2 yang dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa saat kita melakukan
percobaan mengenai respirasi, kita harus membandingkan beberapa jenis organism.
Adapun yang organism yang sejenis tapi memiliki ukuran yang berbeda. Karena hal
itu merupakan cepat tidaknya suatu organisme melakukan respirasi (Wildan,1996).
Hampir setiap waktu manusia, hewan, dan tumbuan yang berada dalam kondisi
normal selalu bergerak. Baik bergerak pasif maupun bergerak secara aktif.
Bahkan sesorang yang berada dalam kondisi tidur atau baring juga melakukan
kerja. Untuk melakukan semua itu harus memerlukan yang namanya energi yang
digunakan untuk tumbuh, bergerak, mencari makan dan lain sebagainya dan tanpa
semua itu kehidupan akan berhenti atau tidak ada (Wildan,1996).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari : Selasa,29 Desember 2016
Waktu : 10.00-11.50 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi lantai 3 bagian
timur
FakultasMatematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam
B.
Alat dan Bahan
1.
Alat
a.
Respirometer
sederhana (1 buah)
b.
Stopwatch (1
buah)
2.
Bahan
a.
Kapas
b.
Vaselin
c.
KOH Kristal
d.
Larutan eosin
e.
Belalang (Blatta
orrientalis) 2 ekor
f.
Kecoa
(Dissoseria carrolina) 2 ekor
C. Prosedur
Kerja
Percobaan 1
1.Mengambil 1 ekor belalang dan 1 ekor
kecoa dengan ukuran berat tubuh
sama/hampir sama.
2.Memasukkan belalang ke dalam
respirometer, lalu membungkus dengan kapas yang didalamnya terdapat 2 butir
kristal KOH, kemudian meletakkan pada leher tabung respirometer.
3.Menutup tabung respirometer dengan
penutupnya, kemudian meletakkan pada sandarannya.
4.Mengolesi vaselin pada sambungan
tabung respirometer dengan penutupnya untuk mencegah kebocoran.
5.Menetesi larutan eosin sepanjang
saluran pipa kaca berskala, kemudian mencatat berapa jaraknya mulai dari skala
0,0 setiap 1 menit.
6.Melakukan pengamatan sampai eosin
tiba pada skala 10 atau eosin tidak bergeser lagi.
7.Mengeluarkan belalang lalu mengganti
dengan Kecoa dan melakukan perlakuan yang sama dengan cara kerja yang pertama.
Percobaan 2
1.Membersihkan respirometer sederhana
yang telah digunakan.
2.Melakukan percobaan seperti tata
urutan kerja yang pertama dengan menggunakan hewan sejenis dengan ukuran berat
tubuh yang berbeda.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.Hasil Praktikum
|
No.
|
Waktu
(menit)
|
Skala
|
|
||||||
|
Kecoa
|
Belalang
|
||||||||
|
Kecil
|
v
|
Besar
|
v
|
Kecil
|
v
|
Besar
|
v
|
||
|
1.
|
1
|
0,2
|
0,2
|
0,1
|
0,1
|
0,9
|
0,8
|
0,8
|
0,8
|
|
2.
|
2
|
0,8
|
0,6
|
0,6
|
0,5
|
0,9
|
0,8
|
0,26
|
0,8
|
|
3.
|
3
|
1,0
|
0,4
|
0,8
|
0,3
|
0,9
|
0,8
|
0,36
|
0,18
|
|
4.
|
4
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,68
|
0,32
|
|
5.
|
5
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
|
6.
|
6
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
|
7.
|
7
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
|
8.
|
8
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
|
9.
|
9
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
|
10.
|
10
|
1,0
|
0,4
|
1,0
|
0,2
|
0,9
|
0,8
|
0,84
|
0,16
|
B. Analisis Data
1.
Kecoa kecil
Menit 1
v=S1/t1
= 0,2/0,1 = 0,2 skala/menit
Menit 2
v=S2/t2
= 0,8/2 = 0,4 skala/menit
Menit 3
= 
Menit 4
=

Menit 5
=

Menit
6
=

Menit
7
=

Menit
8
=

Menit
9
=

Menit
10
=

2.
Kecoa Besar
Menit
1
= 
Menit
2
= 
Menit
3
= 
Menit 4
=

Menit 5
=

Menit
6
=

Menit
7
=

Menit
8
=

Menit
9
=

Menit
10
=

3.
Belalang kecil
Menit 1
=

Menit 2
= 
Menit 3
= 
Menit 4
=

Menit 5
=

Menit
6
=

Menit
7
=

Menit
8
=

Menit
9
=

Menit
10
=

4.
Belalang
besar
Menit
1
= 
Menit
2
= 
Menit
3
= 
Menit 4
=

Menit 5
=

Menit
6
=

Menit
7
=

Menit
8
=

Menit
9
=

Menit
10
=

B.
Pembahasan
Data-data
yang telah diperoleh menunjukkan bahwa belalang besar memiliki kecepatan
respirasi lebih atau lebih cepat. Percobaan
yang kedua menggunakan organisme yang sama namun memiliki ukuran tubuh yang
berbeda dan hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kevepatan respirasi
organisme yang berukuran lebih kecil memiliki kecepatan respirasi yang lebih
tinggi dari pada organisme yang berukuran besar. Organisme
membutuhkan oksigen dalam respirasinya agar dapat bertahan hidup. Tanpa
adanya oksigen, organisme akan kesulitan bernapas, menjadi lemas dan dapat
menyebabkan kematian. Hubungan antara berat badan dengan penggunaan oksigen
berbanding terbalik. Karena setiap makhluk hidup
membutuhkan oksigen dalam jumlah yang besar yang melebihi berat tubuhnya.
Percobaan antara belalang dan kecoa,
belalang belalang memiliki kecepatan respirasi lebih lambat daripada kecoa. Hal
ini menunjukkan bahwa jenis hewan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses respirasi. Sedangkan
belalang dengan ukuran yang berbeda menunjukkan bahwa belalang kecil memiliki
kecepatan respirasi lebih besar daripada belalang besar. Hal ini menunjukan
bahwa ukuran dan berat tubuh paa hewan tidak dipengaruhi oleh proses respirasi
dalam percobaan ini.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Semua makhluk hidup memburuhkan oksigen untuk bernafas. Semakin
banyak aktivitas organisme hidup maka semakin banyak pula oksigen yang
dibutuhkan untuk bernafas.
2. Kecepatan respirasi dipengaruhi oleh besar ukuran, bentuk
tubuh, berat, dan aktivitas dari organisme itu sendiri. Semakin besar ukuran
dan bentuk tubuh serta berat badannya akan semakin banyak pula oksigen yang
dibutuhkan untuk untuk respirasinya dan kecepatan rsepirasinya semakin cepat
pula.
B. Saran
Sebaiknya
praktikan lebih berhati-hati dalam menggunakan respirometer dan mampu
menggunakannya dengan baik, serta teliti dalam melihat penunjukan skala agar
data yang diperoleh lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Wirahadikusumah.Muhammad.2007.Biokimia:
Metabolisme energy,Karbohidrat dan Lipid.Bandung: PT itb Bandung.
Tim
Pengajar,2016.Penuntun Praktikum Biologi Umum.Makassar: Universitas Negeri
Makassar.
Yatim,Wildan.1996.Biologi
Modern Histologi.Bandung: PT Tarsito.
JAWABAN
PERTANYAAN
1.
Fungsi KOH yaitu untuk mengikat karbondioksida (CO2)
yang dikeluarkan oleh hewan dan tumbuhan
yang ada pada tabung respirometer. KOH dilapisi tissue
agar sifat kaustik dari KOH tidak terlalu berefek pada makhluk hidup yang ada
di dalam tabung ketika melakukan ekspirasi, CO2 dari sisa
metabolisme kecambah atau belalang akan diikat oleh KOH menjadi K2CO3
dan H2O. 2KOH + CO2 K2CO3 + H2O
Dimana CO2 memiliki volume terbesar karena merupakan gas.Sedangkan K2CO3
sendiri berbentuk padat. Akibatnya, volume CO2 dalam tabung kaca
berisi kecambah atau belalang akan terus berkurang karena CO2 diikat
menjadi K2CO3.
2.
Eosin pada percobaan ini berfungsi sebagai indicator
penunjuk skala yang tidak ikut bereaksi dalam proses respirasi. Eosin dapat
diganti dengan dengan cairan lain asalkan cairan pengganti tersebut tidak
memiliki kandungan yang dapat mempengaruhi proses respirasi didalam
respirometer.
3.
Untuk mengetahui volume oksigen yang digunakan oleh
organisme tersebut ialah dengan melihat kecepatan respirasi yang dimiliki oleh
setiap organismenya.
4.
Ada, dapat dilihat pada hasil percobaan ini bahwa
jumlah oksigen yang digunakan oleh belalang berbeda dengan jumlah oksigen yang
digunakan oleh kecoa untuk melakukan proses respirasi.
5.
Ada , tetapi ukuran tubuh tidak selamanya mempengaruhi
jumlah oksigen yang digunakan oleh organisme karena ada faktor lain yang
mungkin mempengaruhi kebutuhan oksigen. Seperti pada percobaan ini ada faktor
lain yang juga mempengaruhinya yaitu aktivitas organisme tersebut .
Komentar
Posting Komentar