LEMBAR PENGESAHAN
Laporan lengkap praktikum Genetika Unit II dengan judul “Peranan Gen
yang dipengaruhi Seks” disusun oleh:
NAMA :
RAHMIANI
NIM : 071 404 039
KELAS/KELOMPOK : A
/ VI
Setelah diperiksa dengan
teliti oleh Asisten dan Koordinator Asisten, maka dinyatakan diterima.
Makassar,
Oktober 2009
Koordinator Asisten Asisten
MISNAWATY, S.Si MISNAWATY, S.Si
Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab
Hartati, S.Si,
M.Si
NIP 131803423
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia memiliki
ciri khas atau perbedaan dengan organisme lain termasuk induknya, dan selain
itu manusia juga memiliki persamaan dengan induknya. Atau dapat dikatakan bahwa
keturunan sebuah organisme memiliki beberapa kesamaan dari parientalnya (kedua
induknya). Dimana kesamaan itu didapat dari penurunan sifat oleh kedua induk
suatu organisme. Dalam ilmu biologi ada cabang ilmu yang berkaitan dengan
pewarisan sifat oleh pariental kepada keturunanya, yang disebut genetika.
Genetika ini merupakan cabang biologi yang mempelajari tentang sifat-sifat yang
menurun (hereditas) dan variansinya. Unit-unit hereditas yang dipindahkan dari
satu generasi ke generasi berikutnya biasa disebut dengan gen. Tetapi, dari
proses penurunan sifat dari kedua induknya kepada keturunannya bukan berarti
semua sifat keturunanya nanti akan sama dengan kedua induknya, melainkan dapat
pula terjadi perbedaan, dimana perbedaan itu muncul dari penggabungan kedua
sifat parientalnya (kedua induknya) yang melahirkan suatu sifat baru yang akan
dimiliki oleh keturunannya. Sifat-sifat tersebut ada yang dinamakan sifat
dominan dan sifat resesif. Sifat dominan merupakan sifat –sifat yang tampak
pada keturunannya. Sedangkan sifat resesif merupakan sifat-sifat yang tidak
muncul pada keturunannya.
Sifat pada
setiap keturunan dipengaruhi oleh gen yang terdapat di dalam tubuh orang tua
(induknya). Ada beberapa sifat yang nampak pada setiap keturunan yang
dipengaruhi oleh kromosom seks. Dimana sifat tersebut akan berbeda jika
terekspresikan pada jantan ataupun betina. Biasanya gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki (jantan) maupun perempuan
(betina). Baru dalam keadaan homozigotik resesif, pengaruh dominan itu tidak
akan menampakkan diri dalam fenotip. Beberapa contoh dari gen yang dominasinya
dipengaruhi atau bergantung pada jenis kelamin adalah kepala botak dan penjang
jari telunjuk.
Secara
lebih jelasnya pada percobaan ini akan diuraikan tentang hubungan antara sifat
resesif dan sifat dominan yang terpaut dengan kromosom seks, yang tentunya akan
disesuaikan atau dibandingkan dengan percobaan yang terlebih dahulu dilakukan
oleh para peneliti.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mencoba
menetapkan genotip diri sendiri berdasarkan ukuran jari telunjuk.
C. Manfaat
Praktikum ini
bermanfaat memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang peranan gen yang
dipengaruhi seks dan juga dapat menentukan genotif diri sendiri berdasarkan
ukuran jari telunjuk.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Jenis kelamin (seks) kita merupakan salah satu dari
karakter fenotip kita yang lebih nyata. Meskipun perbedaan anatomi dan
fisiologinya antara pria dan wanita banyak, dasar kromosom seksnya sedikit
lebih sederhana. Pada manusia dan mamalia lain, seperti pada lalat buah, ada
dua varietas kromosom seks, dilambangkan dengan simbol X dan Y (Campbell,
2004).
Penentuan seks pada
makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya. Terdapat beberapa macam cara
yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk hidup berdasarkan
kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang menggunakan sistem X-0 (22 + X
Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-W (76 + ZZ Jantan; 76 + ZW Betina),
dan pada lebah sistem haplo-diploid ( haploid Jantan, diploid Betina). Sedangkan
pada manusia, sistem yang digunakan adalah X-Y. Betina normal
akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan jantan normal jika kromosom
seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara anatomi baru akan mulai
terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena sebelum waktu itu, bentuk
gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah menjadi ovarium atau testis,
terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio tersebut (Anonim a,
2010).
Gen disebut dominan, bila salah satu
gen mengambil posisi utama ketika bertemu dengan gen “lawannya” yang berbeda.
Perintah dari gen yang dominan ini mengalahkan gen resesif dan menentukan ciri
sang bayi, mulai dari warna mata sampai senyum yang manis. Namun sebenarnya gen
dominan bisa juga bercampur dengan gen dominan. Oleh karena itu, sering terjadi
gabungan pada salah satu organ tubuh anak yang dilahirkan, yang merupakan
gabungan dari kedua orang tuanya (Irianto, 2004).
Biasanya gen dominan memperlihatkan
pengaruhnya pada individu laki-laki (jantan) maupun perempuan (betina). Baru
dalam keadaan homozigotik resesif, pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan
diri dalam fenotip. Perkembangan kelamin sekunder pada laki-laki atau perempuan
merupakan salah satu contoh dari gen yang pengaruhnya terbatas pada alat
kelamin tertentu, artinya kegiatan hormon kelamin dipengaruhi oleh gen-gen yang
ekspresinya terbatas pada satu jenis kelamin saja. Sedangkan kepala botak dan
panjang jari telunjuk merupakan contoh dari gen yang dipengaruhi jenis kelamin.
Artinya gen yang dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki
atau jantan maupun perempuan atau betina, akan tetapi sebaliknya jika
keadaannya homozigot resesif (Suryo, 2004).
Selain untuk
menentukan jenis kelamin, kromosom seks pada manusia juga memiliki banyak gen,
khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya sama dengan pewarisan yang
lain. Namun perlu dicatat, bahwa alel
terpaut seks dari seorang ayah
akan diwariskan kepada seluruh anak perempuannya, tetapi anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun dari
alel tersebut. Berbeda sekali dengan seorang
ibu yang bisa mewariskan
alel terpaut seksnya kepada anak
laki-laki dan perempuannya. Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada
manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada
kromosom Y. Jika penurunan sifat terpaut seks mengacu pada alel yang resesif,
maka wanita baru akan mengekspresikan gen tersebut jika alelnya adalah
homozigot. Sedangkan pria akan segera mengekspresikan alel tersebut jika dia
memperolehnya karena kromosom X yang dimilikinya hanya satu. Itulah sebabnya
mengapa pria lebih banyak menderita
kelainan terpaut seks dibandingkan wanita (Anonim b, 2010).
Kecuali gen-gen terangkai kromosom
kelamin dikenal pula gen-gen yang dipengaruhi oleh seks dan gen-gen yang
dibatasi seks. Maka kita akan mengenal sesuatu sifat yang disebabkan oleh
gen-gen yang dipengaruhi seks atau sex influced genes (Hartati, 2010).
Dalam hal gen terpaut X ada
mekanisme lain, yaitu inaktivasi suatu kromosom X ditiap sel betina. Selama
interfas, kromosom tersebut terlalu lembut untuk dapat diwrnai dan dilihat
dengan mikroskop tetapi sebuah struktur yang padat dan dapat diwarnai ditemukan
dalam hamper semua mucleus interfase sel mamalia betina. Ini tak dapat ditemui
pada jantan normal. Struktur ini yang disebut “abad baru” terbukti sebagai
salah satu dari kromosom X. Bentuknya yang padat membanyangkan
ketidakaktifannya (Kimball, 2000).
Gen apapun yang berlokasi di kromosom X
(pada mamalia, Drosophila dll) atau pada kromosom Z yang analog dengan X (pada
burung dan species-species lain) disebut tertaut seks atau tertaut-X. Gen
terpaut seks pertama yang ditemukan pada Drosophila adalah mutasi mata–putih
resesif. Persilangan-persilangan resiprokal yang melibatkan sifat-sifat
autosomal memberikan hasil-hasil yang serupa. Persilangan resiprokal dilakukan
dengan mengawinkan seekor jantan yang memiliki suatu fenotip (misalnya bulu
hitam) dengan seekor betina dengan fenotip berbeda (misalnya bulu putih) dan
kemudian mengulang persilangan itu dengan jantan dan betina dari
fenotip-fenotip yang berlawanan dengan fenotip pertama. Sifat-sifat tertaut
seks tidak menunjukkan hasil-hasil yang sama dalam persilangan resiprokal. Tipe
pewarisan yang tidak biasa itu disebabkan oleh fakta bahawa kromosom Y tidak
memiliki alel-alel homolog dengan alel-alel pada lokus putih di kromosom X
(William, 2007).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari
/ Tanggal : Senin / 19 Oktober 2009
Waktu : Pukul
07.30 s.d 09.10 WITA
Tempat :
Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA
UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a.
Pulpen
b.
Mistar
2. Bahan
a.
Jari telunjuk dan jari manis kepunyaan sendiri
b. Kertas
C. Prosedur
Kerja
1. Membuat
sebuah garis horizontal pada suatu kertas.
2. Meletakkan
tangan kanan atau tangan kiri diatas helaian kertas yang telah digaris tadi
sedemikian rupa, sehingga horizontal.
3. Membandingkan
panjang jari telunjuk dan jari manis dengan menentukan genotip sendiri.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Data Kelas
|
No
|
Kelompok
|
Fenotip Jantan
|
Fenotip Betina
|
||
|
T. Panjang
|
T. Pendek
|
T. Panjang
|
T.Pendek
|
||
|
1
|
I
|
0
|
2
|
2
|
2
|
|
2
|
II
|
0
|
2
|
0
|
5
|
|
3
|
III
|
0
|
2
|
1
|
1
|
|
4
|
IV
|
1
|
1
|
0
|
4
|
|
5
|
V
|
0
|
1
|
1
|
3
|
|
6
|
VI
|
0
|
2
|
1
|
2
|
|
7
|
VII
|
1
|
1
|
2
|
3
|
|
8
|
VIII
|
1
|
1
|
1
|
3
|
|
Jumlah
|
3
|
12
|
8
|
23
|
|
2. Data
Kelompok
|
No
|
Nama
|
Fenotip Jantan
|
Fenotip Betina
|
||
|
T. Panjang
|
T. Pendek
|
T. Panjang
|
T.Pendek
|
||
|
1
|
Rezeki Amaliah
|
√
|
|||
|
2
|
Rahmiani
|
√
|
|||
|
3
|
Nurfitriyana
|
√
|
|||
|
4
|
Ayyub Syamsi
|
√
|
|||
|
5
|
Muh. Ashar
|
√
|
|||
B.
Analisis Data
1. Frekuensi fenotip
a. Untuk laki-laki
·
Bertelunjuk panjang
= 6,52 %
·
Bertelunjuk pendek
= 26,08 %
b. Untuk perempuan
·
Bertelunjuk panjang
= 17,39 %
·
Bertelunjuk pendek
= 50 %
2. Frekuensi Genotip Laki-laki
Untuk bertelunjuk panjang q2
p +
q = 1
p = 1 – q
= 1 – 0,44
= 0,56
Persentase Genotip
laki-laki
TT = p2 x 100 %
= (0,56)2 x 100 %
= 31,36 %
Tt = 2pq x 100 %
= 2 (0,56) (0,44) x 100 %
= 49,28 %
tt = q2 x 100 %
= (0,44)2 x 100 %
= 19,36 %
Jumlah genotip total
·
Laki-laki bertelunjuk panjang (TT, Tt)
=
31,36 % x 15
=
4,7 = 5
=
49,28 % x 15
=
7,4 = 7
·
Laki-laki bertelunjuk pendek (tt)
= 19,36 % x 15
= 2,9 = 3
Frekuensi Genotip
Perempuan
Untuk bertelunjuk
panjang p2
p +
q = 1
q = 1 – p
= 1 – 0,85
= 0,14
Persentase Genotip
Perempuan
TT = p2
x 100 %
= (0,86)2 x 100 %
= 73,96 %
Tt = 2pq
x 100 %
= 2 (0,86) (0,14) x 100 %
= 24,08 %
Tt = q2
x 100 %
= (0,14)2 x 100 %
= 1,96 %
Jumlah genotip total
·
Perempuan bertelunjuk pendek (TT)
= 73,96 % x 31
= 22,9
= 23
·
Perempuan bertelunjuk panjang (Tt, tt)
= 24,08
% x 31
= 7,5 = 7
= 1,96
% x 31
= 0,6 = 1
3.
Penentuan Derajat Kebebasan
Berdasarkan
Hukum Mendel 3 : 1, dimana 3 menunjukkan telunjuk pendek dan 1 menunjukkan
telunjuk panjang, sehingga diperoleh hasil eksperimen :
Telunjuk
Pendek =
=
= 34,5
Telunjuk Panjang =
=
= 11,5
|
|
Telunjuk
Pendek
(Jantan / betina)
|
Telunjuk
panjang
(jantan /
betina)
|
|
Observasi (o)
|
35
|
11
|
|
Eksperimen (e)
|
34,5
|
11,5
|
|
Deviasi (d)
|
0,5
|
-0,5
|
a. X2
Telunjuk pendek =
=
= 0
b. X2
Telunjuk panjang =
=
= 0,09
c. X2
total = X2 Telunjuk pendek + X2 Telunjuk
panjang
= 0 +
0,09 = 0,09
d. Derajat kebebasan = Banyaknya kelas – 1
= 2 – 1 = 1
Setelah dilihat pada tabel chi-square maka
totalnya sebesar 0,09 terletak diantara
kemungkinan 0,90 dan 0,99 dengan derajat kebebasan (dk) yaitu 1, maka data yang
diperoleh valid.
C. Pembahasan
Pada pengamatan praktikum ini dilakukan percobaan untuk melihat gen-gen
apa yang terekspresikan pada laki-laki dan perempuan dengam melihat perbadingan
panjang jari telunjuk dengan jari manis. Hal ini berkaitan dengan pengaruh
penurunan sifat yang terpaut oleh kromosom seks. Percobaan ini dilakukan
terhadap 46 sampel yang merupakan praktikan (mahasiswa) dalam sebuah kelas,
dimana terdapat 15 laki-laki dan 31 perempuan.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap laki-laki, maka
diperoleh 12 orang laki-laki memiliki telunjuk pendek (TT), sedangkan 3 orang lainnya memiliki telunjuk
panjang (Tt,tt). Sehingga diperoleh análisis data yang menyatakan bahwa
persentase fenotip untuk laki-laki yang bertelunjuk pendek adalah 26,08 %,
sedangkan laki-laki yang bertelunjuk panjang adalah 6,52 %. Sedangkan data yang
diperoleh untuk persentase genotip
laki-laki yakni untuk genotip (TT) adalah 31,36 %; genotip (Tt) adalah
49,28 %, dan genotip (tt) adalah 19,36 %.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap perempuan, maka
diperoleh 8 orang laki-laki memiliki telunjuk panjang (TT), sedangkan 3 orang lainnya memiliki telunjuk
pendek (Tt,tt). Sehingga diperoleh análisis data yang menyatakan bahwa
persentase fenotip untuk perempuan yang bertelunjuk panjang adalah 17,39 %,
sedangkan perempuan yang bertelunjuk
pendek adalah 50 %. Sedangkan data yang diperoleh untuk persentase genotip perempuan yakni untuk genotip (TT) adalah
73,96 %; genotip (Tt) adalah 24,08 %; dan genotip (tt) adalah 1,96 %.
Dari hasil akhir análisis data yang dilakukan, diperoleh X2 untuk telunjuk pendek
adalah 0, sedangkan X2 untuk
telunjuk panjang adalah 0,09. Sehingga diperoleh X2 total adalah 0,09. Diperoleh pula derajat kebebasan
yakni 2. Jika disesuaikan dengan tabel chi-square, maka data yang diperoleh
dari hsil poercobaan merupakan data yang valid.
Berdasarkan análisis data, ternyata gen dominan memperlihatkan
pengaruhnya pada individu laki-laki dan perempuan. Menurut Suryo (2004),
menyatakan bahwa jari telunjuk pendek pada kabanyakan orang, ujung jari
telunjuk tidak akan mencapai garis tersebut yang mengindikasikan bahwa jari
telunjuk lebih pendek daripada jari manis. Jari telunjuk pendek disebabkan oleh
gen yang dominan pada pria, tetapi resesif pada wanita.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa telunjuk pendek bersifat dominan pada laki-laki (TT) dengan
persentase fenotipnya 26,08 % dan bersifat
resesif pada perempuan (tt) dengan persentase fenotipnya 17,39 %. Dengan persentase genotip pada laki-laki (TT)
= 31,36 %; (Tt) = 49,28 %; (tt) 19,36 %. Sedangkan persentase genotip pada
perempuan (TT) = 73,96 %; (Tt) = 24,08 %; (tt) = 1,96 %.
B. Saran
Diharapkan
agar asisten dan praktikan dapat tetap bekerja sama, agar hasil yang diperoleh
dapat lebih maksimal dan dapat mendapat penjelasan yang lebih baik pula.
Diharapkan pula pada laboran untuk dapat mengontrol keadaan dan kondisi
laboratorium sehingga praktikum tidak terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 2010. Penurunan Sifat yang Terpaut Seks. http://id.wikipedia.org/wiki/ Penurunan_sifat_terpaut_kromosom_seks. Diakses pada tanggal 10 April 2010
Anonim b. 2010. Penentuan Jenis Kelamin. http://drlizakedokteran .blogspot.com. Diakses pada tanggal 10 April 2010
Campbell. 2004. Biologi
Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hartati. 2010. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar:
Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Kimball. 2000. Biologi. Jakarta:
Erlangga.
Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia Paramedis.
Bandung: CV Irama Widya.
Suryo. 2004. Genetika. Jakarta:
Erlangga
William, Stansfield. 2007. Genetika. Jakarta: Erlangga.
Penurunan
Sifat yang Terpaut Seks
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya.
Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk
hidup berdasarkan kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang menggunakan sistem
X-0 (22 + X Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-W (76 + ZZ Jantan; 76 +
ZW Betina), dan pada lebah sistem haplo-diploid ( haploid Jantan, diploid
Betina). Sedangkan pada manusia, sistem yang digunakan adalah
X-Y. Betina normal akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan jantan normal
jika kromosom seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara anatomi baru
akan mulai terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena sebelum waktu
itu, bentuk gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah menjadi ovarium atau
testis, terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio tersebut.
Selain untuk menentukan jenis kelamin, kromosom seks pada manusia
juga memiliki banyak gen, khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya
sama dengan pewarisan yang lain. Namun perlu dicatat, bahwa alel terpaut
seks dari seorang ayah akan diwariskan kepada seluruh anak
perempuannya, tetapi anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun
dari alel tersebut. Berbeda sekali dengan seorang ibu yang bisa
mewariskan alel terpaut seksnya kepada anak laki-laki dan perempuannya.
Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X,
walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y.
Jika penurunan sifat terpaut seks mengacu pada alel yang resesif, maka
wanita baru akan mengekspresikan gen tersebut jika alelnya adalah homozigot.
Sedangkan pria akan segera mengekspresikan alel tersebut jika dia memperolehnya
karena kromosom X yang dimilikinya hanya satu. Itulah sebabnya mengapa pria
lebih banyak menderita kelainan terpaut seks dibandingkan wanita.
(huuhh…dunia memang tak adil…)
·
Kelainan terpaut seks pada
manusia
a.
Buta warna
Kita bisa melihat beraneka ragam warna karena kepekaan sel kerucut
yang ada di retina terhadap warna. Kita bisa melihat sekian banyak warna
karena kombinasi dari tiga sel kerucut : sel kerucut biru, sel kerucut hijau,
dan sel kerucut merah. Bila sel-sel ini tidak berfungsi dengan baik, maka akan
menimbulkan buta warna.
Buta warna pun digolongkan menjadi dua, yaiitu buta warna parsial dan
buta warna total. Pada penderita buta warna total, dunia hanya akan
terlihat berwarna hitam dan putih. Sedangkan pada buta warna parsial,
akan terdapat gangguan untuk membedakan beberapa warna, tergantung jenis sel
kerucutnya yang hilang. Kejadian yang paling sering terjadi adalah
kehilangan sel kerucut merah (protanopi) dan sel kerucut hijau
(deuteranopi). Biasanya, penyakit ini terjadi secara bersamaan sehingga
disebut buta warna merah-hijau.
Buta warna merah-hijau adalah penyakit genetik yang hampir seluruhnya
terjadi pada pria, tetapi diturunkan melalui wanita. Artinya,
gen-gen pada kromosom X wanitalah yang menyandi sel kerucut yang bersangkutan.
Ternyata, buta warna hampir tidak pernah terjadi pada wanita, karena
paling sedikit satu dari kedua kromosom X-nya akan hampir selalu memiliki gen
normal pada setiap jenis sel kerucut. Tetapi pada laki-laki, kromosom X yang
dimiliki hanya satu, sehingga gen yang hilang akan menyebabkan buta warna.
Karena kromosom X pada laki-laki selalu diturunkan dari ibu dan tidak
pernah dari ayah, maka buta warna diturunkan dari ibu ke anak laki-lakinya, dan
ibu tersebut dikenal sebagai carrier buta warna; ini adalah kasus
yang terjadi pada sekitar 8 % dari seluruh wanita di dunia.
Kemudian untuk kehilangan sel kerucut biru sangat jarang terjadi, bahkan
terkadang tidak memperlihatkan gejala. Keadaan ini juga diwariskan secara
genetik.
b.
Duchenne Muscular Distrophy yang ditunjukkan oleh lemahnya otot-otot
tubuh dan rendahnya koordinasi. Harapan hidup penderita gejala ini hanya
berkisar 20-an tahun. Penyebabnya adalah terjadinya kelainan pada gen yang
mengkode protein khusus yang bernama dystrophin. Gen ini terdapat pada kromosom
X.
c.
Hemofilia, merupakan kelainan terpaut sex resesif yang disebabkan oleh
hilangnya satu atau lebih protein yang diperlukan untuk pembekuan darah. Gen
ini juga terdapat pada kromosom X. Pendarahan kecil yang pada orang normal
tidak menimbulkan masalah yang berarti, pada penderita hemofilia bisa menjadi
sangat berbahaya. Kelainan yang mengerikan ini pernah mengejutkan seantero
Eropa karena penyebarannya di kalangan bangsawan kerajaan di Inggris, Prussia,
Rusia, Spanyol dan beberapa kerajaan lain karena perkawinan antar kerajaan yang
mereka lakukan. Diduga, awal mula dari alel berbahaya ini dibawa oleh Ratu
Victoria (1819-1901) yang mewariskannya kepada keturunannya. Keturunannya
inilah yang nantinya membawa alel ini ke seantero Eropa melalui perkawinan yang
mereka lakukan. Untungnya, di masa sekarang, alel ini telah hilang di kalangan
keluarga kerajaan Inggris karena beberapa kejadian dan pemahaman yang meningkat
tentang genetika.
Komentar
Posting Komentar