Tugas Makalah Bagian IV
TEORI BELAJAR SOSIAL DAN TEORI GAGNE
Kelompok
V :
Asmita Nur :
1616040003
Welyn Novtiarwanda :
1616042013
Ainung Sabrina :
1616040008
Iva Nilawati :
1616042002
Nasaruddin :
1616040001
Ita susanti :
1616042003
Reniwati :
161604
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BULAN 3
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadhirat Allah SWT, atas segala limpahan nikmat dan
karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
Shalawat dan salam tak lupa pula kami haturkan kepada Nabi junjungan kita
Nabiullah Muhammad SAW.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan,
kesalahan, maupun kekhilafan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan
saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun, demi peningkatan
kualitas makalah ini.
Demikianlah
yang dapat kami tuangkan dalam makalah ini, mudah-mudahan apa yang kita lakukan
senantiasa bernilai ibadah di sisi-Nya. Amin.
Makassar,
Maret 2017
Tim Penyusun,
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................iii
BAB I
KAJIAN TEORI
-
Definisi Teori Belajar Sosial
dan Teori Gagne..................................1
-
Konsep Teori Belajar
Sosial...............................................................2
-
Fase–Fase Belajar
Menurut Gagne.....................................................3
-
Tipe–tipe belajar
menurut Gagne.......................................................4
-
Kapabilitas Yang merupakan Hasil
Belajar Menurut Gagne............6
BAB II
KESIMPULAN...............................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................9
BAB I
KAJIAN TEORI
Pada hakekatnya, belajar merupakan proses yang
kompleks dan terjadi pada semua orang serta berlangsung seumur hidup.
Kompleksitas belajar tersebut melahirkan banyak teori–teori yang berkembang dan
berusaha untuk menjelaskan bagaimana proses belajar tersebut dapat dijelaskan
secara ilmiah.
Tiap teori belajar menitikberatkan pada tumpuan yang berbeda–beda,
ada yang lebih mementingkan proses belajar, pada hasil belajar, pada isi atau
konten bahan ajar, ada pula yang mengutamakan kepada pembentukan atau
mengkonstruksi pengetahuan, sikap atau keterampilannya sendiri
Kegiatan pembelajaran tidak dapat dilakukan
sembarangan, tetapi harus berlandaskan peda teori–terori dan prinsip–prinsip
belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat. Artinya
teori–teori belajar ini diharapkan dapat mengarahkan dalam merancang dan
mealksanakan kegiatan pembelajaran. Walaupun teori belajar tidak dapat
diharapkan menentukan langkah demi langkah dalam kegiatan pembelajaran, namun
akan dapat memberikan arah prioritas dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena
itu para pelaku pembelajaran baik guru, perancang pembelajaran dan para
pengembang program pembelajaran yang profesional harus dapat memilih teori
belajar yang tepat untuk digunakan dalam desain pembelajaran yang akan
dikembangkannya.
Definisi Teori Belajar Sosial dan Teori
Gagne
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional
(behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura
(1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori
belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat
- isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam
teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan
reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami
bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial, manusia
itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul
oleh stimulus- stimulus lingkungan.
Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan,
namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan
indiviu seseorang meliputi lingkungan
rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang
akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan
menentukan akan menjadi apa ia nantinya. Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar
itu bersifat kompleks. Dalam
pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan
perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang.
Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.
Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus,
dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi.
Selanjutnya, Gagne juga mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar,
sistematika lima jenis belajar, fase-fase belajar, implikasi
dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam pembelajaran.
Konsep Teori
Belajar Sosial
Teori Belajar
Sosial (Social Learning Theory) dari Bandura didasarkan pada tiga konsep :
1.
Determinis Resiprokal
(reciprocal determinism)
Determinis Resiprokal
(reciprocal determinism) pendekatan yang
menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi timbal–balik yang terus
menerus antara determinan kognitif, behavioral dan lingkungan. Orang
menentukan/mempengaruhi tingkah lakunya dengan mengontrol lingkungan, tetapi
orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu. Determinis resiprokal adalah konsep yang penting dalam teori belajar
sosial Bandura, menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku.
Teori belajar sosial
memakai saling–determinis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena
psiko-sosial di berbagai tingkat kompleksitas, dari perkembangan intrapersonal
sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif dari organisasi dan
sistem sosial.
2. Tanpa
Renforsemen (beyond reinforcement)
Bandura memandang teori Skinner dan
Hull terlalu bergantung pada reinforcement. Jika setiap unit respon sosial yang
kompleks harus dipilah-pilah untuk direforse satu persatu, bisa jadi orang
malah tidak belajar apapun. Menurutnya, reforcement penting dalam menentukan
apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan
satu-satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu
hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar
melalui observasi tanpa ada renforsemen yang terlibat, berarti tingkah laku
ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar
sosial.
3. Kognisi
dan Regulasi diri (Self-regulation/cognition)
Teori
belajar tradisional sering terhalang oleh ketidaksenangan atau ketidak mampuan
mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep bandura
menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self
regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan,
menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi bagi tingkahlakunya
sendiri.
Fase – Fase
Belajar Menurut Gagne
Ada 4 Fase Belajar Menurut Gagne:
1. Fase pengenalan (apprehending phase)
Pada fase ini siswa memperhatikan
stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut
untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. ini berarti bahwa
belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya
setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang
dia terima pada situasi belajar.
2. Fase perolehan (acqusition phase)
Pada fase ini siswa memperoleh
pengetahuan baru dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan
pengetahuan sebelumya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk
asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
3. Fase penyimpanan (storage phase)
Fase storage atau
retensi adalah fase penyimpanan informasi, ada informasi yang disimpan dalam
jangka pendek ada yang dalam jangka panjang, melalui pengulangan informasi
dalam memori jangka pendek dapat dipindahkan ke memori jangka panjang.
4. Fase pemanggilan (retrieval phase)
Fase retrieval atau recall adalah
fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.
Kadang-kadang dapat saja informasi itu hilang dalam memori atau kehilangan
hubungan dengan memori jangka panjang. Untuk lebih daya ingat maka perlu
informasi yang baru dan yang lama disusun secara terorganisasi, diatur dengan
baik atas pengelompokan-pengelompokan menjadi katagori, konsep sehingga lebih
mudah dipanggil.
Tipe – Tipe Belajar Menurut Gagne:
Tipe–tipe
belajar menurut Gagne, teridiri atas 8 yaitu:
1.
Belajar Isyarat (Signal Learning)
Belajar isyarat mirip dengan
conditioned respons atau respon bersyarat. Seperti menutup mulut dengan
telunjuk, isyarat mengambil sikap tidak bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk
datang mendekat. Menutup mulut dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan
diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan
merespons suatu isyarat. Jadi respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur
dan emosional. Menurut Krimble (1961) bentuk belajar semacam ini biasanya
bersifat tidak disadari, dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.
2.
Belajar Stimulus – respons (
Stimulus Respons Learning)
Berbeda dengan belajar isyarat, respons
bersifat umum, kabur dan emosional. Tipe belajar S – R, respons bersifat
spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S-R. Mencium bau masakan
sedap, keluar air liur, itupun ikatan S-R. Jadi belajar stimulus respons sama
dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan
reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.
3.
Belajar Rangkaian ( Chaining)
Rangkaian atau rantai dalam chaining
adalah semacam rangkaian antar S-R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam
rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan, minum, atau
gerakan verbal seperti selamat tinggal, bapak-ibu.
4.
Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)
Suatu kalimat “unsur itu berbangun
limas” adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa unsur
berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, atau
kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk jika unsur-unsurnya terdapat
dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.
5.
Belajar Diskriminasi (
Discrimination Learning)
Tipe belajar ini adalah pembedaan
terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, waktu,
binatang, atau tumbuh-tumbuhan.
6.
Belajar Konsep (Concept Learning)
Konsep merupakan simbol berpikir.
Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta. Dengan konsep
dapat digolongkan binatang bertulan belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas),
seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, burung, ikan. Dapat pula
digolongkan, manusia berdasarkan ras (warna kulit) atau kebangsaan, suku bangsa
atau hubungan keluarga. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi jika orang dapat
melakukan diskriminasi.
7.
Belajar Aturan (Rule Learning)
Hukum, dalil atau rumus adalah rule
(aturan). Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah,
seperti benda memuai jika dipanaskan, besar sudut dalam segitiga sama dengan
180 derajat. Belajar aturan ternyata mirip dengan verbal chaining (rangkaian
verbal), terutama jika aturan itu tidak diketahui artinya. Oleh karena itu
setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.
8.
Belajar Pemecahan masalah ( Problem
Solving Learning)
Memecahkan masalah adalah biasa
dalam kehidupan. Ini merupakan pemikiran. Upaya pemecahan masalah dilakukan
dengan menghubungkan berbagai urusan yang relevan dengan masalah itu. Dalam
pemecahan masalah diperlukan waktu, adakalanya singkat adakalanya lama. Juga
seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam
masalah itu, mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu. Dalam segala
langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan
tiba-tiba (insight). Dengan ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan, dan apa
yang dipecahkan sendiri-yang penyelesaiannya ditemukan sendiri- lebih mantap
dan dapat ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan
masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.
Kapabilitas Menurut Gagne Yang
merupakan Hasil Belajar
Gagne membagi hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas
sebagai berikut:
1.
Informasi Ferbal
Kapabilitas informasi verbal
merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuan tentang
fakta-fakta. Informasi verbal diperoleh secara lisan, membaca buku dan
sebagainya. Informasi ini dapat diklasifikasikan sebagai fakta, prinsip, nama
generalisasi. Contoh, siswa dapat menyebutkan dalail Phytagoras yang berbunyi
,”pada segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah
kuadrat sisi-sisi siku-sikunya.
2.
Ketrampilan Intelektual
Kapabilitas ketrampilan intelektual
merupakan kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep, aturan, dan
memecahkan masalah. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh melalui belajar.
3.
Strategi kognitif
Kapabilitas strategi kognitif adalah
kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berpikir dengan
cara merekam, membuat analisis dan sintesis. Kapabilitas ini terorganisasikan
secara internal sehingga memungkinkan perhatian, belajar, mengingat, dan
berpikir anak terarah. Contoh tingkahlaku akibat kapabilitas strategi kognitif,
adalah menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah.
4.
Sikap
Kapabilitas sikap adalah
kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar
penilaian terhadap stimulus tersebut. Respon yang diberikan oleh seseorang
terhadap suatu objek mungkin positif mungkin pula negatif, hal ini tergantung
kepada penilaian terhadap objek yang dimaksud, apakah sebagai objek yang
penting atau tidak.
5.
Ketrampilan motorik
Untuk mengetahui seseorang memiliki
kapabilitas ketrampilan motorik, kita dapat melihtnya dari segi kecepatan,
ketepatan, dan kelancaran gerak otot-otot, serta anggota badan yang
diperlihatkan orang tersebut. Kemapuan dalam mendemonstrasikan alat-alat peraga
matematika merupakan salah satu contoh tingkahlaku kapabilitas ini.
BAB II
KESIMPULAN
Dalam Teori
pembelajaran sosial
yang dikembangkan oleh
Albert Bandura (1986), Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip teori–teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan
pada kesan dari isyarat–isyarat pada
perilaku, dan pada proses–proses
mental internal.
Sedangkan dalam Teori Gagne, belajar tidak dapat
didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Yang
menekankan bahwa hasil belajar akan
mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa
perubahan kemampuan, perubahan sikap,
perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap
meskipun hanya sementara.
DAFTAR
PUSTAKA
Sardiman A.M 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar
Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.
Winkel,W.S. 1991. Psikologi pengajaran.Jakarta:Gramedia
Komentar
Posting Komentar