MAKALAH KIMIA ANORGANIK
IKATAN METALIK
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I
AINUNG SABRINA (1616040008)
NURUL HIKMAH HASANUDDIN (1616040011)
HILDA (1616040012)
NUR AMALIANA PUTRI (1616041004)
PRODI PENDIDIKAN IPA REGULER 2016
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah Kimia Anorganik tentang “Ikatan Metalik” dengan
tepat waktu.
Dalam kesempatan
ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya kepada dosen
pengampu mata kuliah Kimia Anorganik yang telah membimbing kami selama mata
kuliah Kimia Anorganik.
Kami menyadari
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh
sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga menjadi
pembelajaran bagi kami agar terciptanya makalah yang lebih baik lagi. Demikian,
semoga makalah ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan bermanfaat bagi kita
semua.
Makassar,
05 April 2019
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam
mempelajari ilmu kimia, kita sudah banyak mengenal berbagai macam ikatan, salah
satu di antaranya adalah ikatan logam (ikatan metalik).Ikatan logam didefinisikan
sebagai ikatan antar atom logam tanpa membentuk suatu molekul. Teori ikatan metalik ini yang nantinya akan
menjelaskan mengenai sifat-sifat utama logam seperti dapat menghantarkan
listrik dan panas, mempunyai kilap khusus, titik didih dan titik leleh tinggi,
mempunyai sifat dapat ditempa, dibengkokkan dan tersusun dalam kristal logam.
Di antara ikatan metalik yang ada, yang paling sederhana adalah teori elektron
bebas (lautan elektron).
Menurut teori
ini, di dalam kristal logam, setiap atom melepaskan elektron valensinya
sehingga terbentuk awan elektron dan ion bermuatan positif yang tersusun rapat
dalam awan elektron tersebut. Elektron dalam lautan ini adalah bebas (tidak
terikat pada ion manapun). Karena elektron valensi tidak terikat pada salah
satu ion logam, tetapi terdelokalisasi terhadap semua ion logam, maka elektron
valensi tersebut bebas bergerak keseluruh bagian dari kristal logam. Gerakan
elektron valensi inilah yang membawa dan menyampikan arus listrik serta memindahkan kalor dalam logam.
Teori orbital
molekular merupakan teori yang mampu menjelaskan bahwa ikatan kovalen ternyata
mampu menyediakan model ikatan metalik yang lebih komprehensif yang sering
disebut teori pita (band theory). Tataan atom-atom dalam kristal logam dapat ditafsirkan
dalam bentuk bola-bola keras, baik pada logam maupun ionik padatan. Selain itu
teori pita jug dapat menjelaskan mengenai sifat logam sebagai konduktor,
semikonduktor dan isolator.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan teori orbital molekular
2. Apa
yang dimaksud dengan struktur metal dan model kemas geometri
3. Apa
yang dimaksud dengan satuan sel dan perhitungan geometri
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui tentang teori orbital molekular
2. Untuk
mengetahui tentang struktur metal dan model kemas geometri
3. Untuk
mengetahui tentang teori satuan sel dan perhitungan geometri
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Model
Ikatan
Dalam ilmu kimia, kita mengenal berbagai macam ikatan.
Salah satunya adalah ikatan metalik. Diantara teori ikatan metalik yang ada,
yang paling sederhana adalah model larutan elektron. Setiap elektron valensi
mampu bergerak bebas di dalam tumpukan bangun logam dan oleh karena itu dipakai
istilah larutan elektron dan bahkan meninggalkannya sehingga menghasilkan ion
positif. Elektron valensi inilah yang membawa dan menyampaikan arus listrik.
Teori Elektron
Bebas (Lautan Elektron) dikemukakan oleh Drude dan Lorentz pada awal abad
ke-20. Menurut teori ini, di dalam kristal logam, setiap atom melepaskan
elektron valensinya sehingga terbentuk awan elektron dan ion bermuatan positif
yang tersusun rapat dalam awan elektron tersebut. Elektron dalam lautan ini
adalah bebas (tidak terikat pada ion manapun). Karena elektron valensi tidak
terikat pada salah satu ion logam, tetapi terdelokalisasi terhadap semua ion
logam, maka elektron valensi tersebut bebas bergerak keseluruh bagian dari
kristal logam, sama halnya dengan molekul-molekul gas yang dapat bergerak bebas
dalam ruangan tertentu.
Teori awan atau
lautan elektron pada ikatan logam itu didefinisikan sebagai gaya tarik antara
muatan positif dari ion-ion logam (kation logam) dengan muatan negatif yang
terbentuk dari elektron-elektron valensi dari atom-atom logam. Jadi logam yang
memiliki elektron valensi lebih banyak akan menghasilkan kation dengan muatan
positif yang lebih besar dan awan elektron dengan jumlah elektron yang lebih
banyak atau lebih rapat. Hal ini menyebabkan logam memiliki ikatan yang lebih
kuat dibanding logam yang tersusun dari atom-atom logam dengan jumlah elektron
valensi lebih sedikit.
Teori teori
elektron bebas (lautan elektron) atau awan elektron ini juga dapat menjelaskan
berbagai sifat fisika dari logam, yaitu:
1.
Logam dapat ditempa,
dapat dibengkokkan, direntangkan dan tidak rapuh. Hal ini disebabkan atom-atom
logam tersusun secara teratur dan rapat sehingga ketika diberi tekanan
atom-atom tersebut dapat tergelincir di atas lapisan atom yang lain, serta
atom-atom pada logam semua sejenis sehingga atom-atom yang bergeser saat diberi
tekanan seolah-olah tetap pada kedudukan yang sama. Dengan kata lain apabila
sebuah ikatan logam putus maka akan segera terbentuk ikatan logam baru.
2. Sifat
Mengkilap. Di dalam ikatan logam, terdapat elektron-elektron bebas. Sewaktu
cahaya jatuh pada permukaan logam, maka elektron-elektron bebas akan menyerap
energi cahaya tersebut. Elektron-elektron akan melepas kembali energi tersebut
dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan frekuensi yang sama dengan
frekuensi cahaya awal. Oleh karena frekuensinya sama, maka kita melihatnya
sebagai pantulan cahaya yang datang. Pantulan cahaya tersebut memberikan
permukaan logam tampak mengkilap. Bila cahaya tampak jatuh pada permukaan logam,
sebagian elektron valensi yang mudah bergerak tersebut akan tereksitasi. Ketika
elektron yang tereksitasi tersebut kembali kepada keadaan dasarnya, maka energi
cahaya dengan panjang gelombang tertentu akan dipancarkan kembali. Peristiwa
ini dapat menimbulkan sifat kilap yang khas pada logam.
3. Daya
hantar listrik. Di dalam ikatan logam terdapat elektron valensi yang bebas
(mudah bergerak) yang dapat membawa muatan listrik. Jika diberi suatu beda
tegangan, maka elektron-elektron ini akan bergerak dari kutub negatif menjadi
kutub positif.
4. Daya
hantar panas. Elektron-elektron yang bergerak bebas di dalam kristal logam
memiliki energi kinetik. Jika dipanaskan, elektron-elektron akan memperoleh
energi kinetik yang cukup untuk dapat bergerak/bervibrasi dengan cepat. Dalam pergerakannya,
elektron-elektron tersebut akan bertumbukkan dengan elektron-elektron lainnya.
Hal ini menyebabkan terjadinya transfer energi dari bagian bersuhu tinggi ke bagian bersuhu
rendah.
5.
Titik didih dan titik
leleh tinggi. Pada logam, ikatan logam tidak sepenuhnya putus sampai logam
mendidih, ini menunjukkan bahwa ikatan logam memiliki titik didih yang tinggi. Hal
ini dikarenakan atom-atom logam terikat oleh ikatan logam yang kuat. Untuk
mengatasi ikatan tersebut, diperlukan energi dalam jumlah yang besar.
Pada teori
ikatan valensi melibatkan pemakaian bersama pasangan elektron oleh dua atom (masing-masing
dengan orbital valensi dan sebuah elektron) saling mendekati sampai jarak
tertentu sehingga orbital valensi dari dua atom tersebut saling tumpang tindih
dan dua buah elektron yang ada saling berpasangan atau memiliki spin yang
berlawanan. Dua buah elektron yang berpasangan tersebut ditarik oleh inti
masing-masing atom sehingga dua buah atom tersebut terikat satu dengan yang
lain.
Akibat
delokalisasi semua ikatan kovalen yang ada, struktur kanonis dari logam litium
yang dapat digambarkan jumlahnya menjadi sangat banyak. Sebagai konsekuensinya
ikatan antara atom-atom Li pada logam litium menjadi semakin kuat, melebihi
kekuatan ikatan pada molekul diatomiknya (Li2). Untuk logam alkali perbandingan
kekuatan ikatan tersebut ditunjukkan dengan perbandingan harga entalpi
atomisasi dari logam dan entalpi atomisasi molekul diatomiknya yang diberikan.
Akibat dapatnya
semua ikatan kovalen terdelokalisasi ke atom-atom yang lain di dalam kristal
maka elektron valensi atom-atom litium tersebut dapat dianggap bersifat mudah
bergerak, sehingga memungkinkan untuk dapatnya
logam litium menghantarkan arus listrik apabila pada logam tersebut
diberi beda potensial.
B.
Teori
Orbital Molekular
Teori orbital
molekular mengandaikan bahwa apabila dua atom atau lebih bergabung membentuk
suatu spesies, maka spesies ini tidak lagi memiliki sifat orbital atomik secara
individual, melainkan membentuk orbital molekular baru. Elektron yang terlibat
dalam ikatan dipengaruhi secara serentak oleh kedua inti atom yang bergabung.
Pendekatan sederhana menyarankan bahwa hanya elektron - elektron dalam orbital
atomik luar saja yang dianggap membentuk ikatan, sehingga elektron ikatan ini
berada dalam orbital molekular sedangkan elektron-elektron dalam orbital dalam
masih tetap sebagaimana keadaannya dalam masing masing atom secara individual.
Menurut
pendekatan kombinasi lurus (linear combination), jumlah orbital molekular yang
terbentuk sama dengan jumlah orbital atomik yang bergabung. Bila dua atom yang
bergabung masing-masing menyediakan satu orbital atomik maka dihasilkan dua
orbital molekular, salah satu merupakan kombinasi jumlahan kedua orbital atomik
yang saling menguatkan dan lainnya kombinasi kurangan yang saling meniadakan.
Kombinasi jumlahan menghasilkan orbital molekular ikat (bonding) yang mempunyai
energi lebih rendah, dan kombinasi kurangan menghasilkan orbital molekular
antiikat (antibonding) yang mempunyai energi lebih tinggi. Hal ini bukan
berarti bahwa semua orbital molekular ini harus ditempati oleh elektron,
melainkan elektron mengisi orbital orbital molekular menurut tingkat energinya
dari rendah ke tinggi. Dengan demikian, terdapat perbedaan jumlah elektron dalam
orbital antiikat; numerik perbedaan ini dibagi dengan jumlah atom yang
berikatan disebut derajat ikatan / orde ikatan (bond order) yang dapat dipakai
sebagai petunjuk kekuatan ikatan yang bersangkutan.
Orbital
molekular ikat adalah orbital yang rapatan elektron ikat terpusat mendekat pada
daerah antara kedua inti atom yang bergabung, dan dengan demikian menghasilkan
situasi yang lebih stabil. Orbital molekular antiikat adalah orbital di mana
rapatan elektron ikat terpusat menjauhi daerah antaraa kedua inti atom yang
bergabung, dan dengan demikian menghasilakan situasi yang kurang stabil.
Relative
terhadap energi orbital atomik, penurunan energi orbital molekular ikat sama
dengan kenaikan energi orbital molekular anti ikat. Untuk molekul homonuklir,
orbital atomik yang sama mempunyai tingkat energi yang sam pula, tetapi dalam
molekul heteronuklir menjadi lebih rendah bagi atom yang bersifat lebih
elektronegatif. Jika perbedaan elektronegatifitas antara kedua atom yang
bergabung ini sangat besar, yang berarti
relatif lebih kecil, karakteristik orbital molekular ikat praktis
didominasi oleh orbital atomik dari atom yang lebih elektronegatif dan
sebaliknya orbital molekular antiikat didominasi oleh orbital atomik dari atom
yang bersifat kurang elektronegatif. Jika pada daerah tumpang-tindih (overlap)
ada orbital atomik yang tidak berinteraksi dalam pembentukan ikatan, orbital
molekular yang dihasilkan disebut orbital nonikat (nonbonding) dan mempunyai
tingkat energi tetap sama dengan orbital atomik dari atom yang bersangkutan.
a.
Konstruksi Diagram
Energi dan Konfigurasi Elektronik Spesies Diatomik
Diagram
orbital molekular untuk molekul diatomik homonuklir periode dua, Li2
hingga F2 dapat disusun menurut kerangka dengan energi πp > σp
namun diagram ini mengabaikan adanya interaksi orbital s dengan orbital p dari
atom yang lain dan ini hanya dapat berlaku jika perbedaan orbital 2s dan 2p
cukup besar seperti dalam atom oksigen dan fluorin. Perbedaan energi 2s-2p
unsur Li-Ne naik secara nyata sebagaimana dinyatakan dengan kenaikan potensial
ionisasi, 2eV-27eV.
Oleh
karena itu untuk unsur Li hingga N, interaksi s-p’ dan s’-p tidak dapat
diabaikan lagi karena perbedaan energi 2s-2p dianggap kecil, dan akibatnya
orbital molekular σp berinteraksi dengan orbital 2s sehingga berakibat lanjut
naiknya energi yang bersangkutan hingga menjadi lebih tinggi daripada energi
πp.
Perlu
diingat bahwa orbital-orbital “dalam” tidak pernah berperan pada pembentukan
orbital molekular. Konfigurasi elektronik ini dalam keadaan dasar, ground state
menunjukkan adanya dua elektron tak berpasangan dalam molekul oksigen (cair)
sehingga dapat menjelaskan sifat paramagnetik molekul ini, dan inilah yang
merupakan salah satu keunggulan dari teori orbital molekular dibanding dengan
teori ikatan yang lain.
b. Konstruksi
Diagram Energi Logam
Konstruksi
diagram energi orbital molekular, misalnya untuk dua atom Li dalam fase gas
yang membentuk molekul Li2. Selanjutnya apabila terdapat empat
orbital atom 2s dari empat atom Li bergabung dalam molekul Li4 maka
akan diperoleh empat orbital molekular σ2s yaitu dua orbital ikat
dan dua yang lainnya adalah antiikat. Namun agar tidak melanggar hukum kuantum
energi orbital-orbital ini tidak setingkat, artinya energi orbital σ2s yang
satu tidak boleh mempunyai energi yang persis sama dengan orbital σ2s
yang lain. Oleh karena itu, konstruksi diagram energi orbital molekular Li4.
Dalam
kristal logam, sejumlah besar (n) orbital atomik dari n atom logam bergabung.
Orbital-orbital ini berinteraksi secara tiga dimensional membentuk n orbital
molekular dengan prinsip yang sama seperti halnya pada pembentukan orbital
molekular Li4 tersebut. Karena demikian banyaknya tingkat energi
orbital-orbital ini, jarak tingkat yang satu dengan yang lain menjadi
sedemikian dekatnya sehingga menghasilkan suatu bentuk kontinu (sinambung) atau
“pita”. Dengan adanya pita energi tersebut, sifat konduktivitas listrik suatu
logam secara sederhana dapat dijelaskan yaitu bahwa sebuah elektron mampu
mencapai ke tingkat-tingkat energi orbital antiikat yang kosong dan sangat
sedikit lebih tinggi energinya dan kemudian bergerak bebas melalui struktur
logam sebagai arus listrik. Secara sama, sifat konduktivitas termal dapat
dijelaskan oleh karena adanya elektron-elektron bebas melalui seluruh bangun kristalnya.
C.
Struktur
Metal dan Model Kemas Geometri
Struktur logam
dipandang terbentuk oleh tataan atom-atom yang terkemas (packing) bersama dalam
suatu kristal. Dalam suatu Kristal logam, atom-atom tertata dalam rangkaian
terulang yang disebut kisi kristal. Pengemasan atom-atom logam merupakan
problem geometri. Cara yang paling mudah yaitu menata bola-bola atom dalam
bentuk satu lapis (layer)lalu menempatkan lapisan selanjutnya di atas lapisan
terdahulu.
Ada dua macam
tatanan bola-bola dalam lapisan yaitu pertama, bola tertata persis
sebelah-menyeblah (side by side) satu sama lain; hasilnya, setiap disentuh oleh
empat bola lain sehingga menyusun dua diagonal bujursangkar. Penataan yang
kedua yaitu berdasarkan pembentukan lapisan heksagon. Dalam lapisan ini, tiap
bola disentuh oleh enam bola yang lain, dan tataan demikian ini merupakan cara
yang paling rapat (mampat), oleh sebab itu disebut kemas rapat.
D.
Satuan
Sel dan Perhitungan Geometri
Tatanan
bola-bola paling sederhana yang apabila pada pengulangan diperoleh seluruh
bangun Kristal disebut unit sel atau satuan sel. Satuan sel yang paling mudah dilihat
yaitu kubus sederhana yang dibangun oleh delapan bola yang menempati kedelapan
titik sudut kubus.
Jadi, tiap
satuan sel berisi sejumlah tertentu atom-atom atau ion-ion. Kristal molecular
intan misalnya, mengadopsi bangun utama fcc (face centered cube) ditambah 4
atom terikat secara tetrahedral di dalamnya (interior); oleh karena itu, setiap
satuan sel intan terdapat: (8 x 1/8 atom)+(6 x 1/2 atom pusat muka)+ 4 atom
interior = 8 atom.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori awan
elektron disebut juga elektron bebas atau lautan elektron yang menjelaskan
berbagai sifat fisika dari logam, seperti logam dapat ditempa, dapat
dibengkokkan, direntangkan dan tidak rapuh, sifat mengkilap logam, sifat logam
yang dapat menghantarkan listrik, dapat menghantarkan panas, dan sifat logam
yang memiliki titik leleh dan titik didih tinggi. Teori ikatan valensi
melibatkan pemakaian bersama pasangan elektron oleh dua atom, yang menjelaskan
bahwa ikatan logam terbentuk karena adanya delokalisasi elektron valensi atom
pusat yang berinteraksi dengan atom disekelilingnya.
Teori orbital
molekular mengandaikan bahwa apabila dua atom atau lebih bergabung membentuk
suatu spesies, maka spesies ini tidak lagi memiliki sifat orbital atomik secara
individual, melainkan membentuk orbital molekular baru. Elektron yang terlibat
dalam ikatan dipengaruhi secara serentak oleh kedua inti atom yang bergabung.
Konstruksi
Diagram Energi dan Konfigurasi Elektronik Spesies Diatomik adalah diagram
orbital molekular untuk molekul diatomik homonuklir periode dua, Li2
hingga F2 dapat disusun menurut kerangka dengan energi πp > σp
namun diagram ini mengabaikan adanya interaksi orbital s dengan orbital p dari
atom yang lain dan ini hanya dapat berlaku jika perbedaan orbital 2s dan 2p
cukup besar seperti dalam atom oksigen dan fluorin.
Konstruksi
Diagram Energi Logam molekular, misalnya untuk dua atom Li dalam fase gas yang
membentuk molekul Li2. Selanjutnya apabila terdapat empat orbital
atom 2s dari empat atom Li bergabung dalam molekul Li4 maka akan
diperoleh empat orbital molekular σ2s yaitu dua orbital ikat dan dua
yang lainnya adalah antiikat. Namun agar tidak melanggar hukum kuantum energi
orbital-orbital ini tidak setingkat, artinya energi orbital σ2s yang
satu tidak boleh mempunyai energi yang persis sama dengan orbital σ2s
yang lain.
Struktur logam
dipandang terbentuk oleh tataan atom-atom yang terkemas (packing) bersama dalam
suatu kristal. Dalam suatu Kristal logam, atom-atom tertata dalam rangkaian
terulang yang disebut kisi kristal. Pengemasan atom-atom logam merupakan
problem geometri. Cara yang paling mudah yaitu menata bola-bola atom dalam
bentuk satu lapis (layer)lalu menempatkan lapisan selanjutnya di atas lapisan
terdahulu.
Satuan Sel dan
Perhitungan Geometri adalah tatanan bola-bola paling sederhana yang apabila
pada pengulangan diperoleh seluruh bangun Kristal disebut unit sel atau satuan
sel. Satuan sel yang paling mudah dilihat yaitu kubus sederhana yang dibangun
oleh delapan bola yang menempati kedelapan titik sudut kubus.
B. Saran
Masih banyak
kekurangan pada penulisan makalah kami,
untuk itu kami harap kepada pembaca untuk memberikan saran yang membangun serta
kepada penulis selanjutnya untuk terus memperbaiki lagi penulisannya baik dari
segi konten maupun format penulisan makalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Petrucci, R.H. 1987. Kimia Dasar : Prinsip dan Terapan Modern. Jilid II Edisi ke empat
(alih
bahasa Suminar Achmadi). Jakarta: Erlangga.
Sugiyarto, KH., dan Suyanti, Retno D. 2010. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Syarifuddin, Nuraini. 1994. Ikatan Kimia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Komentar
Posting Komentar