PANDUAN KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM
BERBASIS IPA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
1. AINUNG SABRINA (1616040008)
2. HERSYAH AINUN (1616040009)
3. MUH. YUSUF ISLAM (1616040010)
4. NURUL HIKMAH HASANUDDIN (1616040011)
5. HILDA (1616040012)
6. NIA AGUSTINA (1616041001)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA REGULER 2016
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Laboratorium adalah
suatu tempat melakukan
percobaan dan penyelidikan.
Tempat yang dimaksudkan dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan
terbuka, kebun misalnya.
Secara terbatas, laboratorium
dapat dipandang sebagai suatu
ruangan yang tertutup dimana suatu percobaan dan penyelidikan dilakukan.
Umumnya ruangan dalam
hal ini adalah tempat
berlangsungnya kegiatan
pembelajaran secara praktik
yang memerlukan peralatan khusus
yang tidak mudah dihadirkan di
ruang kelas (Dr Dadan Rosada, 2017)
Menurut
PERMENPAN No. 3 tahun 2010 laboratorium adalah unit penunjang akademik pada
lembaga pendidikan, berupa ruangan tertutup atau terbuka, bersifat permanen
atau bergerak, dikelola secara sistematis untuk kegiatan pengujian, kalibrasi
dan/atau produksi dalam skala terbatas, dengan menggunakan peralatan dan bahan
berdasarkan metode keilmuan tertentu, dalam rangka pelaksanaan pendidikan,
penelitian, dan/atau pengabdian kepada masyarakat (Meiske S.
Sangi, 2018)
Adanya
berbagai kegiatan dalam laboratorium seperti praktikum, penelitian dll, maka
pengguna laboratorium perlu memahami keselamatan kerja di dalam laboratorium
karena banyaknya alat dan bahan yang berbahaya. Keamanan dan keselamatan kerja
dii dalam laboratorium merupakan factor penting dalam pengelolaan laboratorium.
Hal ini perlu perhatian dari penanggung jawab laboratorium agar menyediakan
panduan keselamatan kerja laboratorium sebagai upaya menjaga keselamatan kerja
untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di
laboratorium dan penanganannya sewaktu terjadi kecelakaan. Untuk itu kami
mencoba menyusun sebuah tulisan tentang panduan keselamatan kerja di
laboratorium.
B.
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk membuat panduan keselamatan kerja di
laboratorium.
Dalam
pekerjaan sehari-hari petugas laboratorium IPA selalu dihadapkan pada
bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik,
peralatan listrik maupun gelas yang digunakan secara rutin. Secara garis besar
bahaya yang dihadapi dalam laboratorium dapat digolongkan dalam :
1. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah
terbakar atau meledak.
2. Bahan beracun, korosif dan kaustik
3. Bahaya radiasi
4. Luka bakar
5. Syok akibat aliran listrik
6. Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam
7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.
Pada
umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan, antara
lain dengan penjelasan, peraturan serta penerapan disiplin kerja. Beberapa
peristiwa yang pernah terjadi di laboratorium dapat merupakan cermin bagi
setiap orang untuk meningkatkan kewaspadaannya ketika bekerja di laboratorium.
Peristiwa-peristiwa tersebut kadang-kadang terlalu pahit untuk dikenang, namun
meninggalkan kesan pendidikan yang baik, agar tidak melakukan kesalahan dua
kali pada peristiwa yang sama. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan di
laboratorium IPA memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik
masing-masing. Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan
alat dan bahan di laboratorium IPA dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan,
terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit. Cara
memperlakukan alat dan bahan di laboratorium IPA secara tepat dapat menentukan
keberhasilan dan kelancaran kegiatan.
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan alat dan bahan di laboratorium :
1.
Aman Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang
mudah dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari
terkunci. Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan
sehingga fungsinya berkurang. 2. Mudah dicari Untuk memudahkan mencari letak
masing – masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan
label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci). 3. Mudah
diambil Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti
lemari, rak dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang
tersedia.
Cara penyimpanan alat dan bahan dapat berdasarkan jenis
alat, pokok bahasan, golongan percobaan dan bahan pembuat alat :
1. Pengelompokan alat – alat fisika berdasarkan pokok
bahasannya seperti : Gaya dan Usaha (Mekanika), Panas, Bunyi, Gelombang, Optik,
Magnet, Listrik, Ilmu, dan Alat reparasi.
2. Pengelompokan alat – alat biologi menurut golongan
percobaannya, seperti : Anatomi, Fisiologi, Ekologi dan Morfologi.
3. Pengelompokan alat – alat kimia berdasarkan bahan pembuat
alat tersebut seperti : logam, kaca, porselen, plastik dan karet.
Jika
alat laboratorium dibuat dari beberapa bahan, alat itu dimasukkan ke dalam
kelompok bahan yang banyak digunakan.
*Penyimpanan
alat dan bahan selain berdasar hal – hal di atas, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu :
1. Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat
higroskopis dan dipasang lampu yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap
kering dan mencegah tumbuhnya jamur.
2. Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set
yang tidak terpasang.
3. Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer,
neraca lengan dan beaker glass.
4. Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat
yang tingginya tidak melebihi tinggi bahu.
5. Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan
disusun menurut abjad.
6. Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan
terkunci, zat kimia yang mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah
dengan ventilasi yang baik.
Cara
menyimpan bahan laboratorium IPA Cara
menyimpan bahan laboratorium IPA dengan memperhatikan kaidah penyimpanan,
seperti halnya pada penyimpanan alat laboratorium. Sifat masingmasing bahan
harus diketahui sebelum melakukan penyimpanan, seperti :
1. Bahan yang dapat bereaksi dengan kaca sebaiknya disimpan
dalam botol plastik.
2. Bahan yang dapat bereaksi dengan plastik sebaiknya disimpan
dalam botol kaca.
3. Bahan yang dapat berubah ketika terkenan matahari langsung,
sebaiknya disimpan dalam botol gelap dan diletakkan dalam lemari tertutup.
Sedangkan bahan yang tidak mudah rusak oleh cahaya matahari secara langsung
dalam disimpan dalam botol berwarna bening.
4. Bahan berbahaya dan bahan korosif sebaiknya disimpan
terpisah dari bahan lainnya.
5. Penyimpanan bahan sebaiknya dalam botol induk yang berukuran
besar dan dapat pula menggunakan botol berkran. Pengambilan bahan kimia dari
botol sebaiknya secukupnya saja sesuai kebutuhan praktikum pada saat itu. Sisa
bahan praktikum disimpam dalam botol kecil, jangan dikembalikan pada botol
induk. Hal ini untuk menghindari rusaknya bahan dalam botol induk karena bahan
sisa praktikum mungkin sudah rusak atau tidak murni lagi.
6. Bahan disimpan dalam botol yang diberi simbol karakteristik
masingmasing bahan.
Penyimpanan
Bahan Kimia Berbahaya Mengelompokkan bahan kimia berbahaya di dalam
penyimpanannya mutlak diperlukan, sehingga tempat/ruangan yang ada dapat di
manfaatkan sebaikbaiknya dan aman.
Mengabaikan sifat-sifat fisik dan kimia dari bahan yang disimpan akan
mengandung bahaya seperti kebakaran, peledakan, mengeluarkan gas/uap/debu
beracun, dan berbagai kombinasi dari pengaruh tersebut. Penyimpanan bahan kimia
berbahaya sebagai berikut :
1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)
Bahan ini dalam kondisi
normal atau dalam kondisi kecelakaan ataupun dalam kondisi kedua-duanya dapat
berbahaya terhadap kehidupan sekelilingnya.
Bahan beracun harus disimpan dalam ruangan yang sejuk, tempat yang ada
peredaran hawa, jauh dari bahaya kebakaran dan bahan yang inkompatibel (tidak
dapat dicampur) harus dipisahkan satu sama lainnya. Jika panas mengakibatkan
proses penguraian pada bahan tersebut maka tempat penyimpanan harus sejuk
dengan sirkulasi yang baik, tidak terkena sinar matahari langsung dan jauh dari
sumber panas.
2. Bahan Kimia Korosif (Corrosive)
Beberapa jenis dari bahan
ini mudah menguap sedangkan lainnya dapat bereaksi dahsyat dengan uap air. Uap dari asam dapat menyerang/merusak bahan
struktur dan peralatan selain itu beracun untuk tenaga manusia. Bahan ini harus disimpan dalam ruangan yang
sejuk dan ada peredaran hawa yang cukup untuk mencegah terjadinya pengumpulan
uap. Wadah/kemasan dari bahan ini harus
ditangani dengan hati-hati, dalam keadaan tertutup dan dipasang label. Semua logam disekeliling tempat penyimpanan
harus dicat dan diperiksa akan adanya kerusakan yang disebabkan oleh korosi.
Penyimpanannya harus terpisah dari bangunan lain dengan dinding dan lantai yang
tahan terhadap bahan korosif, memiliki perlengkapan saluran pembuangan untuk
tumpahan, dan memiliki ventilasi yang baik.
Pada tempat penyimpanan harus tersedia pancaran air untuk pertolongan
pertama bagi pekerja yang terkena bahan tersebut.
3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable)
Praktis semua pembakaran
terjadi antara oksigen dan bahan bakar dalam bentuk uapnya atau beberapa
lainnya dalam keadaan bubuk halus. Api
dari bahan padat berkembang secara pelan, sedangkan api dari cairan menyebar
secara cepat dan sering terlihat seperti meledak. Dalam penyimpanannya harus diperhatikan
sebagai berikut :
a. Disimpan pada tempat yang cukup dingin untuk mencegah
penyalaan tidak sengaja pada waktu ada uap dari bahan bakar dan udara
b. Tempat penyimpanan mempunyai peredaran hawa yang cukup,
sehingga bocoran uap akan diencerkan konsentrasinya oleh udara untuk mencegah
percikan api
c. Lokasi penyimpanan agak dijauhkan dari daerah yang ada
bahaya kebakarannya
d. Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat,
bahan yang mudah menjadi panas dengan sendirinya atau bahan yang bereaksi
dengan udara atau uap air yang lambat laun menjadi panas
e. Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan
mudah dicapai
f.
Singkirkan semua sumber api
dari tempat penyimpanan
g. Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok
h. Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta
dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa secara periodik
4. Bahan Kimia Peledak (Explosive)
Terhadap bahan tersebut
ketentuan penyimpananya sangat ketat, letak tempat penyimpanan harus berjarak
minimum 60[meter] dari sumber tenaga, terowongan, lubang tambang, bendungan,
jalan raya dan bangunan, agar pengaruh ledakan sekecil mungkin. Ruang penyimpanan harus merupakan bangunan
yang kokoh dan tahan api, lantainya terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan
loncatan api, memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas dari kelembaban, dan
tetap terkunci sekalipun tidak digunakan.
Untuk penerangan harus dipakai penerangan alam atau lampu listrik yang
dapat dibawa atau penerangan yang bersumber dari luar tempat penyimpanan. Penyimpanan tidak boleh dilakukan di dekat
bangunan yang didalamnya terdapat oli, gemuk, bensin, bahan sisa yang dapat
terbakar, api terbuka atau nyala api.
Daerah tempat penyimpanan harus bebas dari rumput kering, sampah, atau
material yang mudah terbakar, ada baiknya memanfaatkan perlindungan alam
seperti bukit, tanah cekung belukar atau hutan lebat.
5.
Bahan Kimia Oksidator
(Oxidation)
Bahan ini adalah sumber oksigen dan dapat memberikan oksigen
pada suatu reaksi meskipun dalam keadaan tidak ada udara. Beberapa bahan oksidator memerlukan panas
sebelum menghasilkan oksigen, sedangkan jenis lainnya dapat menghasilkan
oksigen dalam jumlah yang banyak pada suhu kamar. Tempat penyimpanan bahan ini harus diusahakan
agar suhunya tetap dingin, ada peredaran hawa, dan gedungnya harus tahan api. Bahan ini harus dijauhkan dari bahan bakar,
bahan yang mudah terbakar dan bahan yang memiliki titik api rendah. Alat-alat
pemadam kebakaran biasanya kurang efektif dalam memadamkan kebakaran pada bahan
ini, baik penutupan ataupun pengasapan, hal ini dikarenakan bahan oksidator
menyediakan oksigen sendiri.
Dua
belas prinsip bahan kimia ramah lingkungan dapat diterapkan ke semua
laboratorium dan digunakan sebagai panduan untuk merancang dan melaksanakan
eksperimen yang bijak.
1. Cegah limbah. sintesis Rancang kimia yang
tidak menyisakan limbah apapun yang harus diolah atau dibersihkan.
2. Rancang bahan kimia dan produk yang lebih
aman.
3. Rancang produk kimia yang sangat efektif,
namun bahaya mengandung sedikit racun atau tidak sama sekali.
4. Rancang sintesis bahan kimia yang tidak
terlalu berbahaya. Rancang sintesis untuk menggunakan dan menghasilkan zat
dengan toksisitas rendah atau tidak beracun sama sekali bagi manusia dan
lingkungan.
5. Gunakan bahan mentah yang dapat diperbarui.
Hindari menghabiskan bahan mentah untuk industry yang dapat diperbarui dibuat
dari produk pertanian atau limbah dari proses lainnya.Bahan mentah untuk
industri yang tidak dapat diperbarui ditambang atau terbuat dari bahan bakar
fosil (yaitu minyak tanah, gas alam, batu bara).
6. Gunakan katalis bukan reagen stoikiometrik.
Katalis digunakan dalam jumlah kecil dan dapat melakukan reaksi tunggal
beberapa kali. Katalis tersebut sebaiknya reagen stoikiometrik yang digunakan
dalam jumlah berlebihan dan hanya bekerja sekali.
7. Hindari derivatif kimia.
8. Rancang sintesis sehingga produk akhir
mengandung proporsi maksimal bahan awal. Hanya boleh ada sedikit, jika ada atom
yang terbuang.
9. Gunakan pelarut dan kondisi reaksi yang lebih
aman. Hindari menggunakan pelarut, bahan pemisah, atau bahan kimia tambahan
lainnya. Jika bahan ini diperlukan, gunakan bahan kimia yang tidak berbahaya.
10. Tingkatkan efisiensi energi. Jalankan reaksi
kimia pada suhu ruang dan tekanan bila memungkinkan 10. Rancang bahan kimia dan
produk agar terurai menjadi zat yang tidak berbahaya setelah digunakan.
11. Analisis langsung untuk menghindari polusi.
12. Batasi potensi terjadinya kecelakaan. Rancang
bahan kimia dan bentuknya (padat, cair, atau gas) untuk meminimalkan potensi
terjadinya kecelakaan akibat bahan kimia termasuk ledakan, kebakaran, dan
pelepasan ke lingkungan.
Mencegah Limbah.
Beberapa strategi untuk mencegah limbah
1. Pikirkan cara penggunaan produk reaksi dan
buat sejumlah keperluan saja.
2. Pikirkan biaya pembuatan dan penyimpanan
bahan yang tidak dibutuhkan.
3. Cari cara untuk mengurangi jumlah langkah
dalam eksperimen
4. Tingkatkan hasil
5. Daur ulang dan gunakan ulang bahan jika
mungkin.
6. Koordinasikan pekerjaan dengan rekan kerja
yang mungkin menggunakan beberapa bahan kimia yang sama.
7. Gunakan metode analitik paling sensitif yang
ada saat melakukan analisis.
8. Pertimbangkan jumlah reagen, pelarut, dan
bahan berbahaya yang digunakan dengan peralatan laboratorium otomatis saat
membeli sistem baru.
9. Pisahkan limbah tidak berbahaya dan limbah
berbahaya.
10. Pertimbangkan penggunaan sistem pemurnian
kolom untuk mendaur ulang pelarut yang digunakan. Menggunakan
KESELAMATAN
KERJA DI LABORATORIUM
Kecelakaan dapat terjadi dalam setiap kegiatan
manusia. Kecelakaan merupakan suatu kejadian di luar kemamapuan manusia,
terjadi dalam sekejap dan dapat menimbulkan kerusakan baik jasmani maupun jiwa.
Kegiatan yang membahayakan sering terjadi di laboratorium, tetapi hal ini tidak
harus membuat kita takut untuk melakukan kegiatan di laboratorium.
1.
Sumber Terjadinya Kecelakaan
Terjadinya
kecelakaan dapat disebakan oleh banyak hal, tetapi dari analisis terjadinya
kecelakaan menunjukkan bahwa hal-hal berikut adalah sebabsebab terjadinya
kecelakaan di laboratrorium :
a.
Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan-bahan kimia dan proses-proses
serta kperlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan di
laboratorium. b. Kurang jelasnya petunjuk kegiatan laboratorium dan juga
kurangnya pengawasan yang dilakukan selama melakukan kegiatan laboratorium. c.
Kurangnya bimbingan terhadap mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan
laboratorium. d. Kuranganya atau tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan
perlengkapan pelindung kegiatan laboratorim. e. Kurang atau tidak mengikuti
petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya harus ditaati. f. Tidak menggunakan
perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau menggunakan peralatan
atau bahan yang tidak sesuai. g. Tidak bersikap hati-hati di dalam melakukan
kegiatan. Terjadinya kecelakaan di laboratorium dapat dikurangi sampai tingkat
paling minimal jika setiap orang yang menggunakan laboratorium mengetahui
tanggung jawabnya.
2.
Kecelakaan yang Sering Terjadi di Laboratorium a. Luka bakar b. Luka karena
benda tajam dan benda tumpul c. Cedera pada mata, seperti : - kelilipan (benda
kecil masuk mata) - luka di mata - luka kelopak mata - tersiram bahan kimia d.
Keracunan
3. Perlengkapan Keselamatan Kerja
Perlengkapan
keselamatan dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu :
a.
Perlengkapan yang digunakan untuk perlindungan diri dan alat-alat laboratorium
dalam kasus darurat dan peristiwa yang tidak biasa. b. Perlengkapan yang
digunakan sehari-hari sebagai perlindungan untuk mengantisipasi bahan-bahan
yang diketahui berbahaya.
Dalam
bekerja juga perlu menggunakan perlengkapan keselamatan pribadi sebagai
perlindungan untuk mencegah luka jika terjadi kecelakaan. Beberapa perlengkapan
pribadi yang biasa digunakan adalah:
a.
Jas laboratorium, untuk mencegah kotornya pakaian. b. Pelindung lengan, tangan,
dan jari untuk perlindungan dari panas, bahan kimia, dan bahaya lain. c. Pelindung mata digunakan untuk mencegah mata
dari percikan bahan kimia. d. Respirator dan lemari uap. e. Sepatu pengaman,
untuk menghindari luka dari pecahan kaca dan tertimpanya kaki oleh benda-benda
berat. f. Layar pelindung digunakan jika kita ragu akan terjadinya ledakan dari
bahan kimia dan alat-alat hampa udara.
PENANGANAN
KEBAKARAN DI LABORATORIUM
Di
laboratorium sangat mungkin terjadi kebakaran. Kebakaran dilaboratorium dapat
disebabkan oleh arus pendek, pemanasan zat yang mudahterbakar atau kertas yang
berserakan di atas meja pada saat ada api. Untukmenghindari hal tersebut
lakukan hal berikut.
a.
Hindari penggunaan kabel yang bertumpuk pada satu stop kontak
b.
Gunakan penangas bila hendak memanaskan zat kimia yang mudah terbakar
c.
Bila hendak bekerja dengan menggunakan pembakaran (api) jauhkan alat/bahan yang
mudah terbakar (misal kertas, alkohol) dan bagi siswa perempuan yang berambut panjang
untuk diikat
d. Gunakan alat pemadam kebakaran jika terjadi
kebakaran Diitinjau dari aspek kimia, api merupakan proses oksidasi gas
yangberlangsung “hebat” sambil melepaskan energi yang cukup besar sehinggagas
yang bereaksi tersebut memancarkan cahaya.
Api
atau kebakaran dapat terjadi jika tiga faktor berada secara bersamaan pada
suatu saat. Ketigafaktor tersebut adalah:
a. Bahan bakar, yaitu bahan yang dapat bereaksi hebat dengan
oksigen, yang menimbulkan gejala berupa api. Bahan bakar dapat berupa zat
padat, zat cair, atau gas.
b. Oksigen, biasanya dari udara (1/5 bagian udara adalah
oksigen) tetapi dapat juga berasal dari bahan kimia yang bereaksi sambil
menghasilkan oksigen. Oksigen inilah yang nantinya bersenyawa (bereaksi) dengan
bahan bakar, jika suhu mencapai tinggi tertentu. Tanpa oksigen, kebakaran tidak
dapat terjadi.
c. Kalor yang cukup mengakibatkan suhu naik mencapai suhu
tertentu yang disebut suhu penyulutan (ignition temperature). Di bawah suhu ini
reaksi oksidasi disertai cahaya tidak dapat terjadi. Sekali reaksi terjadi,
energi kalor yang ditimbulkan oleh reaksi, biasanya sudah mencukupi untuk
mempertahankan reaksi, yang berarti mempertahankan kebakaran, sampai bahan
bakar atau oksigen habis.
Ketiga
faktor tersebut di atas disebut sebagai “Segitiga api”. Berdasarkan konsep
segitiga api, maka untuk memadamkan apiadalah menghilangkan salah satu (atau
lebih dari satu) dari ketiga faktor yangmemungkinkan api itu ada, yaitu:
a. Menghentikan pasokan bahan bakar b. Menurunkan suhu sampai di bawah suhu
penyulutan c. Menghentikan pasokan
oksigen Bila di laboratorium terjadi kebakaran, harus segera diatasi dengan
caraseksama dan jangan panik. Gunakan alat pemadam kebakaran yang telah
disediakan.
Beberapa
hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Jika baju/pakaian yang terbakar, korban harus merebahkan
dirinya sambil berguling-guling. Jika ada selimut tutuplah pada apinya agar
cepat padam. Jangan sekali-kali membiarkan korban berlari-lari karena akan
memungkinkan terjadinya kebakaran yang lebih besar.
b. Jika terjadi kebakaran kecil, misalnya terbakarnya larutan dalam
gelas kimia atau dalam penangas, tutuplah bagian yang terkena api dengan karung
atau kain basah.
c. Jika terjadi kebakaran yang besar, gunakan alat pemadam
kebakaran. Kemudian sumber-sumber yang dapat menimbulkan api, misalnya listrik,
gas, kompor, agar segera dimatikan dan jauhkan bahan-bahan yang mudah terbakar.
d. Jika terjadi kebakaran karena zat yang mudah terbakar
(pelarut organik) untuk mematikan jangan menggunakan air, karena hal itu akan
menyebabkan apinya lebih besar dan menyebar mengikuti air. Untuk mematikannya
gunakanlah pasir atau tabung pemadam kebakaran.
Klasifikasi
Kebakaran Kebakaran dapat digolongkan menjadi 4 kelas, yaitu:
a.
KELAS A, merupakan jenis
kebakaran yang melibatkan bahan- bahan “biasa” yang mudah terbakar seperti
kayu, kertas, karet dan plastik
b.
KELAS B, merupakan jenis
kebakaran yang melibatkan bahan yang mudah terbakar, meliputi cairan, seperti
minyak tanah, bensin, alcohol
c.
KELAS C, kebakaran yang
disebabkan oleh arus listrik
d.
KELAS D, kebakaran berasal
dari logam (metal) yang mudah terbakar seperti natrium, kalium, dan
magnesium.
Jenis- jenis Pemadam Kebakaran
Di
laboratorium kimia sekolah perlu disediakan alat pemadam kebakaranyang dapat di
bawa-bawa atau dipindah-pindah. Alat pemadam sepertiini berbentuk tabung yang dapat
digantungkan di dinding laboratoriumatau bagian lain bangunan yang mudah
dijangkau. Alat pemadamkebakaran tersebut mempunyai berbagai jenisPenggunaan
jenis pemadam kebakaran bergantung pada bahan yangterbakar. Jika bahan yang
terbakar berbeda maka akan berbeda pulapenggunaaan jenis pemadam kebakaran.
Namun pada saat sekarangtersedia alat pemadam kebakaran yang bisa mengatasi
kebakaran dariberbagai sifat bahan yang terbakar yang disebut dengan alat
pemadam“Multy purpose”. Model alat pemadam kebakaran jenis tabung, dapat
dilihat pada tayangan power point. Beberapa jenis alat pemadam kebakaran dari
jenis lain:
a. Pemadam Kebakaran Jenis Air.
Pemadam jenis air ini
bekerja atas dasar pendinginan. Suhu benda yang terbakar dapat diturunkan.
Bentuk yang sederhana dari pemadam kebakaran jenis air ini adalah air yang
disiramkan dengan menggunakanember. Akan tetapi ada pula alat pemadam kebakaran
jenis air yang tersimpan dalam tabung atau silinder. Tabung itu berisi
kira-kira 10 literair. Di dalam tabung atau silinder itu terdapat silinder lain
yang berisi karbondioksida yang bertekanan. Pada waktu digunakan silinder
yangberisi karbondioksida itu dibocorkan dengan jalan ditusuk sehingga
karbondioksida akan mendesak air dan air akan keluar dengan deras. Sekali
dijalankan, semprotan air itu tidak dapat dihentikan dan alat ini bersifat
sekali pakai. Ada pula alat pemadam kebakaran jenis air yang menggunakan
larutan natrium bikarbonat (NaHCO3) yang disimpan dalam tabung logam. Dalam
tabung logam itu terdapat pula asam sulfat yang ditempatkan dalam satu wadah.
Pada waktu digunakan, asam sulfat bereaksi dengan natrium bikarbonat dan
menimbulkan karbondioksida. Karbondioksida ini yang mendesak dan menyemprotkan
air (larutan) itu keluar melalui selang (pipa).
b. Pemadam kebakaran Jenis Karbondioksida.
Pemadam kebakaran jenis ini
bekerja atas dasar mengurangi persediaan oksigen. Karena massa jenis gas
karbondioksida lebih besar daripada massa jenis udara, maka gas ini dapat
membentuk suatu selimut yang mencegah bahan berhubungan dengan udara
(oksigen).Tabung pemadam ini dilengkapi dengan penyalur/selang gas yangujungnya
berbentuk corong yang terbuat dari plastik/karet. Melaluicorong ini gas
diarahkan ke api yang hendak dipadamkan. Semprotangas karbondioksida ini sangat
dingin dan dapat membekukan uap air di udara yang melewati gas itu, sehingga
terbentuk sejenis kabut putih.,kabut ini berfungsi menghalangi oksigen
berhubungan dengan bahanbakar.
c. Pemadam Kebakaran Jenis Busa.
Alat pemadam kebakaran ini
mengandung larutan bahan-bahanyang bila bercampur/bereaksi dapat menimbulkan
busa. Busa ini yangdapat menghalangi udara (oksigen) berhubungan dengan bahan
bakar.Dalam hal ini terjadi sedikit pendinginan agar berhasil memadamkan
api,dalam pelaksanaannya lapisan busa yang menutupi api tidak terputus-putus.
Jadi bahan bakar itu betul-betul terselimuti dengan lapisan busa,sehingga bahan
bakar dapat terisolasi dari oksigen di udara.
d. Pemadam Kebakaran Jenis Serbuk.
Serbuk yang digunakan
adalah pasir atau bahan kimia kering, yaitunatrium bikarbonat. Jenis pemadam
kebakaran ini merupakan pemadamkebakaran yang paling sederhana. Penggunaannya
adalah dengandisiramkan pada nyala api yang akan dipadamkan sampai
tertimbunsehingga udara tidak dapat masuk ke bahan yang sedang terbakar Lapisan
natrium bikarbonat menyelimuti api saat karbondioksidamendorongnya keluar.
Karbondioksida keluar karena picu ditekan.Pemanasan terhadap natrium bikarbonat
oleh api yang adamenyebabkan terjadinya karbondioksida. Persamaan Reaksi: 2
NaHCO3 Na2CO3 + H2O + CO2Catatan:“Siapkan pasir dalam ember di laboratorium
kimia untuk digunakan sewaktu- waktu ketika diperlukan”
e. Pemadam Kebakaran Jenis Selimut.
Selimut yang paling
sederhana yang dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran adalah karung/kain
basah. Selimut ini ditutupkan pada nyala api yang hendak dipadamkan, dengan
demikian penyediaan oksigen dihentikan. Selain karung/kain dapat pula digunakan
bahan serat yang tahan api. Selimut pemadam kebakaran, kebanyakan terbuat dari
bahan kaca serat (fiber glass) yang bersifat agak lemas. Selimut yang terbuat
dari asbes tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan kanker jika terhirup
serat-seratnya.
Pokok- pokok Tindakan PPPK
Pertolongan
pertama pada kecelakaan dimaksudkan untuk memberikan perawatan darurat bagi
korban sebelum pertolongan yang lebih lanjut diberikan oleh dokter. Tindakan
yang diambil dalam PPPK tidak dimaksudkan untuk memberikan pertolongan sampai
selesai. Hal-hal yang belum dapat diselesaikan harus diserahkan kepada dokter.
Namun demikian usaha yang dilakukan dalam PPPK harus semaksimal mungkin dan
ditujuksn untuk :
a. Menyelamatkan jiwa korban.
b. Meringankan penderitaan korban serta mencegah terjadinya
cedera yang lebih parah.
c. Mempertahankan daya tahan korban sampai pertolongan yang
lebih pasti dapat diberikan.
Kecelakaan biasanya dating ketika kita
tidak siap menghadapinya. Kekagetan yang ditimbulkan oleh peristiwa mendadak
itu dan rasa takut melihat akibatnya membuat orang cepat panik. Oleh karena itu
ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tindakan PPPK, yaitu:
a. Jangan panik tidak berarti boleh lamban. Bertindaklah cekatan tetapi tetap
tenang. b. Perhatikan pernafasan korban. Jika terhenti segera kerjakanlah
pernafasan buatan dari mulut ke mulut. c. Hentikan pendarahan. d. Perhatikan
tanda-tanda shock. e. Jangan memindahkan korban terburu-buru.
DAFTAR PUSTAKA
Jahya, Ranawidjaja. 1998. Panduan Pengelolaan Laboratorium IPA.
Bhratara: Jakarta.
Sangi, Meiske; Adei Tanauma. 2018. Keselamatan Dan Keamanan Laboratorium IPA. Jurnal MIPA UNSRAT. 7. (1). 20-24
Suraya. 1988. Pedoman Penggunaan Laboratorium IPA SMP-SMA. Bhratara: Jakarta.
Wirjosoemarto,Koesmadji. 2004. Teknik Laboratorium Universitas
Pendidikan Indonesia. Bandung
Komentar
Posting Komentar