
Iklim bumi telah berganti beberapa
kali sepanjang sejarah sampai saat ini,
terentang
mulai jaman es sampai periode-periode panjang bumi menjadi hangat dan es
mencair.
Berdasarkan sejarah, faktor-faktor alam seperti erupsi vulkanik, perubahan
orbit
bumi, dan jumlah energi yang
dilepaskan oleh matahari dapat mempengaruhi iklim bumi.
Sejak
akhir abad 18, aktivitas manusia yang berhubungan dengan revolusi industri juga
telah
mengubah komposisi atmosfer sehingga mempengaruhi iklim bumi.
Menurut
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC),
perubahan
iklim adalah perubahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara
langsung
maupun tidak langsung yang mengubah komposisi atmosfer secara global dan
mengakibatkan
perubahan variasi iklim yang dapat diamati dan dibandingkan selama
kurun
waktu tertentu.
A. Penyebab
terjadinya global warming
Ada beberapa yang menjadi penyebab terjadinya global warming
di bumi ini.Manusia termasuk salah satu penyebab terjadinya global
warming/pemanasan global.Mengapa manusia juga termasuk salah satu penyebab
terjadinya global warming?Jawabannya adalah karena manusia telah meningkatkan
jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika mereka membakar bahan
bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan bangunan, menggerakkan
kendaraan dan menghasilkan listrik. Lho, apa hubungannya antara manusia dengan
karbondioksida? Manusia saat bernafas menghirup oksigen dan melepaskannya dalam
bentuk karbondioksida. Sedangkan karbondioksida merupakan salah satu faktor
penyebab Gas Rumah Kaca yang menjadi penyebab terjadinya Global Warming yang
nanti akan kita bahas dibawah. Oleh karena itu tumbuhan sangat kita perlukan
untuk mengurangi dampak Global Warming/Pemanasan Global. Karena
tumbuhan/tanaman dapat menyerap karbondioksida saat proses fotosintesis.
Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta
mengambil atom karbonnya.
Penyebab Terjadinya Global Warming/Pemanasan Global yang
saya kutip dari Wikipedia :
1. Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari
Matahari.Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek.
Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah menjadi panas yang menghangatkan
Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali
sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang
ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi
akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida,
sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan
Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini
terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus
meningkat.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk
hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin.
Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas
33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi
hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi
sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan
mengakibatkan pemanasan global.
2. Efek Umpan Balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai
proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan
air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2,
pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke
atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus
berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu
kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih
besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. Umpan balik ini hanya
berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di
atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek
penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali
radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan.
Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar
Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek
pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan
tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian
awan tersebut.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan
memantulkan cahaya (albedo) oleh es.Ketika suhu global meningkat, es yang
berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan
dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik
daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila
dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi
Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari
melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi
terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga
menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang
bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunnya tingkat nutrien pada
zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton
yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
3. Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari
Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat
memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini
dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari
akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan
stratosfer.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi
Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan dari Duke
University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap
45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar
25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model
iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap
efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga
mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga
telah dipandang remeh.Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa dengan
meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian
besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh
gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuwan dari Amerika Serikat,
Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan
tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus
Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat
“keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk
berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan
Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan
variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari
maupun variasi dalam sinar kosmis.
B. Cara
Menanggulangi Global Warming
1. Matikan
listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan
standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak
mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil
penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam
lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini
lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan
lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa
memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk
secukupnya, sekitar 21-24o C).
5. Gunakan timer
(untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas
limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di
lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian
di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer)
yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan
kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat
penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to
plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar.
Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan
berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta
dalam menyelamatkan bumi.
C. Dampak Global warming di indonesia
Dampak pemanasan global/global warming di Indonesia
diantaranya adalah terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi
lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran
hutan.
Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan
fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan
karang seluas 30 persen atau sebanyak 90-95 persen karang mati di Kepulauan
Seribu akibat naiknya suhu air laut. Selain itu, penelitian dari Badan
Meteorologi dan Geofisika menyebutkan, Februari 2007 merupakan periode dengan
intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia. Hal ini
menandakan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.
Indonesia yang terletak di equator, merupakan negara yang
pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah
dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin
meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu
rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu
pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut.
Dengan adanya tugas makalah ini kita diharap untuk lebih
memperdulikan lingkungan terutama masalah global warming.Apabila kita bisa
lebih memperdulikan lingkungan, sumber daya yang ada di alam ini bisa
diwariskan kepada anak cucu kita nanti.
DAFTAR
PUSTAKA
www.cahayamu.com/artikel-tentang-global-warming.html/
www.globalwarmingonline.blogspot.com/
www.artikellingkunganhidup.com
Santosa,
Kukuh. 2006. Pengantar Ilmu Lingkungan. UNNES Press. Semarang.
Komentar
Posting Komentar