LAPORAN UJI FORMALIN PADA MAKANAN


HALAMAN PENGESAHAN
            Laporan lengkap praktikum Kimia Analitik dengan judul percobaan “Uji Formalin pada Makanan” yang disusun oleh :
            Nama                           :
            NIM                            :
            Kelas                           : Pendidikan IPA
            Kelompok                   : II
telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten dan Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.

Makassar,   Desember 2017
Koordinator Asisten                                                       Asisten



Jusriani                                                                           Dien Aulia Bonsu
NIM.                                                                                NIM.



Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab




Dr. Hasri, M.Si
NIP. 19651103 1998 02 2001


A.    Judul Percobaan
Percobaan ini berjudul “Uji Formalin pada Makanan”.
B.     Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi adanya formalin pada makanan
C.    Landasan Teori
Boraks dan formalin seringkali digunakan sebagai pengawet untuk mi, bakso, tahu, saus tomat, ikan segar, ikan asin, dan ayam potong. Hasil uji sampling diberbagai daerah tahun 2005-2006, terlihat bahwa penggunaan bahan pengawet boraks dan formalin pada bahan makanan tersebut mencapai 60-70%. Formalin yang dipasarkan tersedia dalam bentuk larutan 40% digunakan dalam pembuatan karpet, lem, plywood, tekstil, antiseptik, disenfektan, dan pengawet mayat. Dalam tubuh manusia kadar formalin yang tinggi akan bereaksi dengan hampir semua zat dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel (Saparinto, 2010:78).
Formalin adalah senyawa toksin dan beracun pada manusia yang  menyebabkan sakit perut, sakit kepala, kematian, serta bersifat karsinogen / penyebab kanker. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar 10%- 40%. Dalam air formaldehida mengalami polimerasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerasinya. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehuda lainnya (Hasri, 2017:9).
Formaldehida sebenarnya sudah lama digunakan sebagai bahan baku perekat untuk kayu lapis, resin, desinfektan sabun cuci piring, pembersih lantai, dan detergen, sebagai fungsida pada makanan dan sayuran, serta sebagai insektisida. Formaldehida pada masa kini sudah diproduksi didalam negeri pada 23 perusahaan kimia yang menghasilkan ± 866.000 ton/ tahun. Oleh karena itu, formaldehida mudah didapat dengan harga yang relatif murah (Widmar, 2007:42).
Formalin adalah larutan yang baning berbau menyengat, mengandung sedikit Metanol. Formalin biasanya digunakan untuk bahan pengawet dan pembunuh kuman, terutama sebagai pengawet spesimen jaringan atau mayat sehingga dapat diproses dan diperiksa dibawah mikroskop. Namun, saat ini tidak sedikit formalin yang disalahgunakan, antara lain untuk mengawetkan makanan, termasuk buah- buahan (Andrianto, 2008: 18).
Hal penting yang harus disadari adalah formaldehida merupakan bahan kimia yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Formaldehid yang dipakai dalam produksi damar sintetik atau bahan perekat menguapkan gas berbahaya secara terus-menerus yang kemudian dihirup oleh manusia. Gas formaldehida tidak berwarna tetapi memiliki bau tajam dan menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. Dalam jangka pendek, firmaldehid mengakibatkan terjadinya iritasi, saluran pernapasan, muntah, pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, dan gatal ( Widmar,2007: 43).
Banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan formalin bagi tubuh manusia menyebabkan formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan. Formaldehida dalam makanan dapat menyebabkan keracunan dengan gejala sakit perut, muntah- muntah, diare, serta depresi susunan saraf. Selain itu formaldehid juga bersifat kotosif, iriatif, dapat menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, serta bersifat karsinogen. Paparan formaldehida dapat menyebabkan turunnya kadar antioksidan dalam tubuh seperti superoksid dismutase dan glutathione tereduksi GSH, dan meningkat produksi senyawa reactive oxigen species (ROS) yang dapat menyebabkan terjadinya stres oksidatif ( Yulisa, 2014).
Formalin sangat mudah mengikat protein. Jika masuk ke tubuh manusia, formalin akan menyerang protein yang terdapat dalam tubuh, seperti pada lambung. Terlebih bila formalin tersebut masuk ke tubuh dengan dosis tinggi. Jika digunakan sebagai pengawet makanan dalam dosis rendah, efek formalin tidak seketika dirasakan. Efek formalin bagi tubuh manusia antara lain, menyebabkan kanker karena adanya karsinogen, gangguan pada saraf berupa susah tidur, sensitif, mudah lupa, dan sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilitas ( Andrianto,2008: 18).
Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan pengguanaan formalin pada pangan yaitu mengatur peredaran bahan kimia berbahaya termasuk bahan pengawet, melakukan pengawasan intensif terhadap toko kimia yang menjual formalin, serta pemerintah melakukan pembinaan terhadap produsen yang belum mengetahui bahaya formalin dalam pangan bagi tubuh manusia. Selain upaya dari pemerintah, upaya dari konsumen juga diperlukan agar tidak memilih produk makanan yang mengandung formalin ( Yulisa, 2014).
Ciri- ciri bakso yang mengandung formalin memang sama dengan bakso yang tidak mengandung formalin, namun jika diamati dengan seksama, baksi yang mengandung formalin memiliki ciri- ciri fisik yang berbeda dengan bakso yang tidak mengandung formalin. Bakso yang mengandung formalin warnanya terlihat lebih putih pucat dibandingkan dengan bakso yang tidak mengandung formalin, namun jika dibelah didalamnya terlihat berwarna lebih merah. Hal ini disebabkan karena senyawa formalin memiliki kandungan zat pemutih. Aroma dagingnya juga tidak terlalu kuat seperti baksi yang tidak mengandung formalin dan jika bakso yang mengandung formalin dilemparkan dia akan memantul, berbeda dengan bakso yang tidak mengandung formalin ( Faradilla, 2014).
Formalin pada mulanya berbentuk padat dengan sebutan formaldehida atau istilah asing nya disebut formaldehyde. Zat yang sebetulnya memiliki nama lain berdasarkan senyawa campurannya ini memiliki senyawa CH2OH yang reaktif dan mudah mengikat air. Bila zat ini sudah bercampur dengan air dia disebut formalin yang memiliki rumus kimia CH2O. Bahan formalin yang banyak ditemukan dipasar umumnya mempunyai konsentrasi 37% - 40%. Formalin mempunyai fungsi sebagai antibacterial agent, dapat memperlambat aktivitas bakteri dalam makanan yang mengandung banyak protein, maka formalin bereaksi dengan protein dalam makanan yang membuat makanan menjadi awet (Singgih, 2013).
Sebuah lembaga konsumen menemukan penggunaan formalin pada produk tahu dan bakmi. Ternyata kasus ini terulang lagi waktu ke waktu. Formalin dipakai sebagai zat pengawet dalam bahan pangan yang sudah diolah. Bahan makanan yang mengandung formalin dalam konsentrasi tinggi adalah tahu, bakmi basah, ayam potong, beraneka jenis ikan dan cumi- cumi. Akibat dari kesehatan orang yang menelan formalin adalah sakit kepala, mulut, tenggorokan, dan perut terasa terbakar, sakit saat menelan, mual, muntah, dan diare, pendarahan, tekanan darah rendah, kejang, dan tidak sadarkan diri hingga koma (Widmar, 2006: 42).
Pada beberapa penelitian, pada pekerja yang terpapar formaldehida terjadi peningkatan ikatan silang DNA. Ikatan silang DNA dapat tereduksi oleh perlakuan fisik maupun zat kimia, seperti formalin. Pembentukan ikatan silang DNA semakin meningkat sesuai dengan meningkatnya konsentrasi formalin yang ada didalam tubuh. Semakin banyak paparan formalin maka semakin meningkat ikatan silang DNA dan menyebabkan kerusakan berupa denaturasi DNA ( Yulisa, 2014).

D. Alat dan Bahan
1. Alat
a.    Gelas ukur
b.    Gelas kimia
c.    Pipet tetes
d.   Timabangan
e.    Mortar
f.     Tabung reaksi
g.    Rak tabung
h.    Pembakar spritus
i.      Penjepit tabung
j.      Corong
k.    Batang pengaduk
l.      Korek api
m.  Pisau/ cutter
n.    Kaca arloji
o.    Kamera handphone
p.    Stopwatch
2.Bahan
a. Larutan fehling
b. Kalium permanganat
c. Kunyit
d. Bakso
e. Mie kering
f. Aquades
g. Lap/ tissue

D.  Prosedur Kerja
1.    Uji fehling
a.    Mie kering dan bakso dihaluskan menggunakan mortar
b.    Setelah halus, mie kering dan baksi ditimbang hingga 10 gram
c.    Mie dan bakso sebanyak 10 gram ditambahkan air secukupnya dan diaduk
d.   Setelah encer, nie dan bakso disaring dicorong yang telah diberi kertas saring
e.    Hasil dari saringan, diambil sebanyak 2 mL, dan ditambahkan larutan fehling sebanyak 3 mL.
f.     Setelah itu campuran dipanaskan selama 10 menit, dan diamati perubahan warna yang terjadi.
g.    Setiap perubahan warna yang terjadi dicatat waktunya.
2.         Uji kalium permanganat
a.    Sebanyak 10 mL larutan mie / bakso hasil ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi.
b.    Larutan mie dan bakso diteteskan 1 tetes larutan KMNO4.
c.    Setelah diteteskan larutan dihomogenkan  dan ditunggu hingga 30 menit. Kemudian dicatat perubahan yang terjadi.
3.         Cara ketiga
a.    Kunyit bubuk dioleskan pada kertas saring. Setelah kunyit bubuk dioleskan, bakso atau mie dioleskan lagi pada kertas saring tersebut
b.    Keras saring dikeringkan selama kurang lebih 30 menit.
c.    Setelah kering, dicatat hasil pengamatan.

E.  Hasil Pengamatan
1.         Uji Fehling
No
Perlakuan
Pengamatan
1.       
Bakso
1.1          bakso yang sudah dihaluskan + aquades secukupnya

1.2          Larutan sampel larutan sampel

1.3          2 ml larutan sampel + 3 ml larutan fehling

1.4          Larutan sampel dipanaskan selama 10 menit


Larutan sampel keruh+ ampas bakso

Larutan sampel keruh

Larutan berwarna biru


a.     Menit keempat timbul endapan
b.    Menit ke 8:21 endapan bertambah banyak.
2.       
Mie
2.1          mie yang sudah dihaluskan + aquades secukupnya
2.2          Larutan sampel disaring
2.3          2 ml larutan sampel + 8 ml larutan fehling
2.4          Larutan sampel di panas akan selama 10 menit

Larutan sampel berwarna putih + ampas.
Larutan sampel keruh.
Larutan sampel berwarna biru.
a.       Pada menit kedua terdapat warna hijau pada bagian atas
b.      Tidak mengalami lagi perubahan
2.uji KMnO4
No
Perlakuan
Pengamatan
1111ke111
Bakso
1.1      bakso yang sudah dihaluskan + aquades secukupnya
1.2      Text Box: Larutan sampellarutan sampel
disaring
1.3      10 ml larutan sampel + 10 tetes KmnO4

1.4      Larutan sampel didiamkan selama 30 menit

Larutan sampel keruh + ampas
Larutan sampel keruh

Larutan sampel berwarna pink
a.       Pada menit ke 15, berubah warna menjadi coklat
b.      Menit selanjutnya tidak mengalami perubahan warna, yaitu tetap bewarna coklat

Mie kering
1.5      Mie kering yang sudah dihaluskan + aquades secukupnya

1.6      Text Box: Larutan sampellarutan sampel
disaring
1.7      10 ml larutan sampel + 10 tetes larutan KMnO3

1.8      Larutan sampel didiamkan selama 3 menit

Larutan sampel berwarna putih+ ampas.
Larutan sampel keruh

Larutan sampel berwarna pink
a.       Pada deti ke 3, larutan sampel berubah menjadi keruh
b.      Detk selanjutnya mengalami perubahan warna

2.    Uji dengan kunyit
No
Perlakuan
Pengamatan
1.       
Kunyit
1.1   kunyit bubuk + aquades secukupnya kemudian dioleskan pada kertas saring

Kertas saring berwarna kuning
2.       
Bakso
2.1   bakso yang telah dihaluskan dioleskan pada kertas saring yang telah diberikan kunyit
2.2   Text Box: 30 menitkertas saring
dikeringkan

Kertas saring mengalami perubahan warna
Terdapat bintik- bintik merah pada kertas saring
3.       
Mie
3.1   Mie yang telah dihalukan dioleskan pada kertas saring yang telah diberi kunyit
3.2   Text Box: 30 menitkertas saring
dikeringkan

Kertas saring belum mengalami perubahan warna
Terdapat bintik- bintik merah pada kertas saring

G. Pembahasan
Formalin adalah larutan bening berbau menyengat, mengandung sedikit metanol. Formalin biasanya digunakan untuk bahan pangawet dan pembunuh kuman, terutama sebagai pengawet spesimen jaringan atau mayat sehingga dapat diproses dibawah mikroskop. Formalin sangat mudah mengikat protein, jika masuk ketubuh manusia akan meyerang protein dalam tubuh, seperti pada lambung ( Andrianto, 2008: 18).
Prinsip dasar dari  formalin mengidentifikasi adanya formalin dengan menggunakan larutan fehling, kalium permanganat, dan kunyit. Adapun prinsip kerja yang digunakan yaitu penghalusan sampel yang bertujuan untuk mempermudah pelarutan zat- zat yang terdapat dalam sampel. Yang kedua yaitu pemanasan, yang dilakukan pada uji fehling. Yang ketiga yaitu penyaringan untuk mendapatkan larutan sampe tanpa ampas. Yang terakhir yaitu pengeringan kertas saring agar sampel dapat bereaksi dengan kunyit.
Bahan pengujian yang digunakan yaitu mie kering dan bakso. Pada pengamatan uji fehling, larutan bakso yang telah ditambahkan fehling berwarna biru. Selanjutnya larutan tersebut dipanaskan. Setelah beberapa menit dipanaskan timbul endapan pada larutan. Fungsi fehling pada percobaan ini untuk mengetahui adanya gugus aldehid atau adanya formaldehid pada sampel.
Tahapan- tahapan dalam pengujian ini yaitu, pertama sampel yang akan kita uji yaitu bakso dan mie kering terlebih dahulu dihaluskan menggunakan mortar, sehingga tekstur yang diperoleh dari bakso dan ie kering akan lebih halus. Sehingga dapat memudahkan dalam melarutkannya dengan aquades. Adapun fungsi pelarutan agar proses identifikasi yang dilakukan lebih mudah yakni dalam betuk cairan (larutan). Kemudian larutan yang diperoleh disaring. Fungsi penyaringan yaitu untuk dapat memisahkan larutan sampel/ filtrat dengan endapan- endapannya sehingga yang terambil hanya larutannya saja. Setelah diambil filtratnya kemudian sampel ditambahkan fehling lalu dilakukan proses pemanasan. Tujuan dari pemanasan agar gugugs aldehid yang mungkin ada pada sampel dapat cepat bereaksi dengan fehling sehingga akan membentuk suatu asam karboksilat.
Hasil pengujian diperoleh bahwa pada mie kering dan bakso terdapat endapan saat dipanaskan, walaupun endapan yang dihasilkan hanya sedikit. Dengan adanya endapan, maka menandakan bahwa dalam mie kering dan bakso menganding formalin. Reaksi yang terjadi dalam uji fehling yaitu:
dimana pada reaksi ini, gugus aldehid pada formalin akan bereaksi  dengan gugus OH dari pereaksi fehling dengan membentuk asam karboksilat, dan akan terbentuk endapan CuSO4 yang mengindikasi mie dan baksi mengandung formalin. Hal etrsebut dikarenakan, senyawa aldehid (formaldehida) yang ada dalam sampel makanan dapat mereduksi CU2+ dari peraksi fehling menjadi Cu+ membentuk CU2O berupa endapan merah bata.
Pengujian yang kedua yaitu mengganakan kalium permanganat (KMnO4) dimana larutan sampel ditambahkan beberapa tetes KMnO4, sehingga larutan tersebut berbah menjadi warna pink, baik pada larutan bakso maupu pada larutan mie kering. Pada menit ke- 15 setelah dimasukkannya kalium permanganat yaitu larutan bakso kembali ke warna semula seperti sebelum diteteskan kalium permanganat yaitu berwarna coklat. Hal tersebut menandakan bahwa bakso mengandung frmalin meskipun hanya sedikit karena membutuhkan aktu yang lama untuk berubah warna. Sedangkan pada larutan mie seteah diteteskan kalium permanganat hanya membutuhka waktu 3 detik untuk berubah warna dari warna pink ke putih keruh. Hal tersebut menandakan bahwa mie mengandung banyak formalin ditandai dengan cepatnya perubahan warna yang terjadi.
Pengujian ketiga yang dilakukan yaitu mengguakan kunyit, dimana kunyit dioleskan pada kertas saring lalu dioleskan bakso dan mie yang telah dihaluskan dikertas saring yang terpisah. Setelah dikeringkan beberapa menit, kertas saring yang berisi sampel mie dan bakso terdapat bintik- bintik merah. Dengan adanya bintik bintik merah menandakan bahwa bakso dan mie mengandung formalin. Berubahnya warna kunyit menjadi merah dikarenakan ekstrak kunyit mengandung senyawa kurkumin. Kurkumin dapat mendeteksi adanya kandungan boraks atau formalin pada makanan karena kurkumin mampu menguraikan ikatan- ikatan boraks / formalin dan mengikatnya menjadi senyawa kompleks yang akan merubah warna kunyit.

H. Kesimpulan
       Dari percoban yang telah dilakukan, sampel bakso dan  mie kering positif mengandung formalin. Hal ini terbukti dari setiap uji coba yaitu pada uji coba fehling, sampel bakso mengalami endapann begitupun dengan mie. Pada uji coba KMnO4, sampel bakso mengalami perubahan dari warna pink menjadi lebih bening. Sedangkan uji cba menggunakan kunyit, kedua sampel ditemukan bintik- bintik merah pada kertas saring.
I. Saran
1.    Saran untuk laboran agar menyiapakan bahan- ahan yang lengkap dan juga menjaga alat dan bahan laboratorium.
2.    Saran untuk asisten agar  tetap sabar dalam membimbing praktikan.
3.    Saran untuk praktikum selanjutnya agar membawa bahan yang diperintahkan dengan lengkap agar dapat membandingkan ahsil yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Catur. 2013. Tips Memilih dan Menyimpan Buah- Buahan. Yogyakarta: Suaka Media

Faradilla; Yustini Alioes dan Elmatris. 2014. Identifikasi Formalin pada Bakso yang dijual pada Beberapa Tempat di Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 3(2).

Hasri. 2017. Kimia Analitik. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Saparinto, Cahyo dan Diana Hidayati. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta : Kanisius.

Singgih, Hariyadi. 2013. Uji Kandungan Formalin pada Ikan Asin Menggunakan Sensor Warna dengan Bantuan FMR (Formalin Main Reangent). Uji Kandungan Formalin. Vol 11. No 1.

Widmer, Petra dan Heinz Frinck. 2007. Hak Konsumen dan Ekolabel. Jakarta: kanisius.

Yulisa, Nadya; Enikarmila Asni dan Miftah Azrin. 2014. Uji Ikan Asin pada Ikan Asin Gurami di Pasar Tradisional Pekanbaru. Jomfk. Vol 1 No 2.

Komentar