
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan
lengkap praktikum Kimia Analitik dengan judul percobaan “Gravimetri” yang disusun oleh :
Nama :
NIM :
Kelas :
Pendidikan IPA Reguler
Kelompok :
II (Dua)
telah diperiksa
dan dikoreksi oleh Asistenda dan Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.
Makassar, Desember 2017
Koordinator
Asisten Asisten
Jusriani
Harlina
NIM:
1516041006 NIM: 1516041001
Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab
Dr. Hasri, M.Si
NIP:
19651103 199802 2 001
A. Judul Percobaan
Percobaan
ini berjudul “Gravimetri”.
B. Tujuan Percobaan
Menghitung
kadar terusi (CuSO4) dalam CuSO4.xH2O secara
gravimetri.
C. Landasan Teori
Analisis
kimia dapat dilakukan dengan analisis kuantitatif yang bertujuan untuk
menentukan kadar ion atau molekul dalam suatu sampel.Analisis kuantitatif
bertujuan untuk mencari jenis ion, molekul, atau radikal yang terdapat dalam
sampel. Analisis instrumentasi yakni analisis kualitatif dan kuantitatif dengan
menggunakan peralatan elektronik. Analisis kuantitatif konvensional dapat
dilakukan dengan cara volumetri (titrimetri) dan grafimetri. Peralatan kimia
yang canggih dewasa ini banyak dipakai untuk pemeriksaan jenis dan kadar zat
dalam bahan atau campuran bahan. Berdasarkan ukuran sampel yang tersedia untuk
dianalisis, analisis kuantitatif dapat dikelompokkan menjadi analisis makro,
analisis semimikro dan analisis mikro (Sumardjo,2004:4).
Gravimetri
adalah metode analisis kuantitatif unsur atau senyawa berdasarkan bobotnya yang
diawali pengendapan dan diikuti pemisahan serta pemanasan endapan dan diakhiri
dengan penimbangan. Untuk memperoleh keberhasilan pada analisis secara
gravimetri maka harus diperhatikan tiga hal. Pertama unsur atau senyawayang
ditentukan harus terendapkan secara sempurna. Kedua, bentuk endapan yang
ditimbang harus diketahui dengan pasti rumus molekulnya. Endapan yang diperoleh
harus murah dan mudah ditimbang, sehingga analisis gravimetri berhasil
(Wiryawan,2007 : 42).
Metode
gravimetri digunakan untuk menentukan konsentri debu yang terdeposit pada
filter. Berat debu ditentukan dengan menimbang filter sebelum dan setelah
pengambilan sampel. Untuk meminimasi dampak dari uap air atau kelembapan
(moisture), filter harus dikondisikan dengan mendiamkannya selama semalaman di
lingkungan penimbangan sebelum dilakukan setiap penimbangan. Blanko harus
ditimbang pada waktu yang bersamaan untuk mengecek efek uap air ini satu blanko
harus disiapkan untuk sepuluh sampel, dengan minimum tiga yang digunakan per
survai. Filter harus ditangani dengan pinset untuk mencegah kontaminasi, dan kehilangan
sampel (lestari, 2010: 191).
Suatu
metode analisis gravimetri biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti
dimana
a molekul analit A, bereaksi dengan r molekul reagennya R. Produknya yakni AaRr
biasanya merupakan substansi yang larut yang bisa ditimbang setelah pengeringan
atau yang bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui untuk
kemudian di timbang ( Day, 2002: 189).
Menurut,
wiryawan (2007: 42), dalam analisis gravimetri meliputi beberapa tahap sebagai
berikut:
1.
Pelarut sampel (untuk sampel padat)
2.
Pembentukan endapan dengan menambahkan
pereaksi pengendap secara berlebih agar semua unsur / senyawa diendapkan oleh
pereaksi. Pengendapan dilakukan pada suhu tertentu dab pH tertentu yang
merupakan kondidi optimum reaksi pengendapan. Tahap ini merupakan tahap paling
penting.
3.
Penyaringan endapan
4.
Pencucian endapan, dengan cara menyiram
endapan di dalam penyaring dengan larutan tertentu
5.
Penyaringan endapan sampai mencapai
berat konstan
6.
Penimbangan endapan
7.
Perhitungan
Parameter
sampel yang dianalisis secara kimiawi meliputi pH, kadar SO, Ca, Mg, Fe, CO dan
Cl. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode secara gravimetri
(berdasarkan pengukuran berat) dan titrimetri (berdasarkan pengukuran volume
suatu larutan standar dengan cara titrasi). Penentuan kadar SO dan CO dilakukan
dengan analisa gravimetri dimana berat yang didapat dari suatu pelarut sampel
kemudian ditimbang. Sedangkan penentuan kadar bertanya seperti Ca, Mg, Fe, dan
SO ditentukan dengan metode titrimetri. Metode ini berdasarkan pengukuran
volume suatu standar secara titrasi dengan menggunakan indikator (Haryono,
2003: 61).
Standar
yang sudah dipubliaksi menyatakan konsentrasi secara gravimetri atau volumetri,
yaitu dalam satuan massa polutan per satuan volume udara, seperti miligram per
meter kubik (mg/m3) atau volume per volume, seperti part per polutan
per million part udara (p.p.m). Teknik sampling ialah mengumpulkan sampel
polutan selama mungkin. Selama itu aliran udara dan lamanya melalui alat sampel
diatur secara teliti. Analisis kimia akan memberikan sejumlah miligram sampel
yang dikumpulkan yang kemudian dibagi dengan jumlah meter kubik udara sampel
agar diperoleh hasil gravimetrik. Hasil volumetrik dapat dihitung dari hasil gravimetrik
dicantumkan pada alat baca langsung (Effendi, 2004: 51).
Untuk
pengecekan jumlah air kristal maka dilakukan proses pengovenan terhadap kristal
CuSO4.5H2O. Ini bertujuan agar untuk menguapkan air
kristal. Kristal yang diperoleh berwarna biru cerah. Ketika air kristal
dihilangkan, warnanya menjadi putih untuk membuktikan jumlah air kristal pada
kristal CuSO4.5H2O, dilakukan analisa sederhana dengan
menggunakan oven untuk mengecek jumlah air kristal (Fitrony, 2013).
Rendahnya
hasil pengukuran kadar glukomanan dengan gravimetri diduga akibat proses
koagulasi dan presipitasi tidak sempurna. Proses koagulasi dan ukuran koagulan
dipengaruhi tiga faktor, yaitu pemanasan, pengadukan, dan penambahan
elektrolit. Pengadukan yang dilakukan pada proses ini tidak seragam sehingga
ukuran partikel tidak seragam juga. Hal ini mengakibatkan banyaknya presipitat
ukuran kecil yang kemudian lolos dari kertas saring halus, sehingga tidak
tertimbang dan tidak terhitung sebagai glukomanan. Ukuran partikel yang
bervariasi menyebabkan jumlah partikel yang lolos dari kertas saring juga
bervariasi yang berakibat variasi data yang didapat menjadi tinggi dan
presisinya menurun (Widjanartko, 2015).
Analisis
gravimetrik merupakan salah satu divisi dari kimia analitik. Tahap pengukuran
dalam metode gravimetrik adalah penimbangan. Analitnya dipisahkan secara fisik
dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya. Pengendapan
merupakan teknik yang paling meluas penggunaanya untuk memisahkan analit dari
pengganggu-pengganggunya; elektrolisis; ekstraksi pelarut; kromatografi dan
pengatsirian (volabilisasi) merupakan metode penting lain untuk pemisahan itu
(Day, 2002: 189).
Pemendekan
melibatkan konsep serta teori lampau tepu kunca analisis klasik. Ini termasuk
mekanisme, kesan benda asing dan pemendekan homogen. Pemendekan telah diketahui
secara umum untuk memisahkan suatu bahan sebelum dianalisis selanjutnya.
Analisis boleh dibuat dengan menimbang bahan tersebut seperti dalam analisis
gravimetri ataupun dengan cara-cara lain yang sesuai. Pemisahan yang
berdasarkan kepada pemendekan boleh dijalankan jika didalamnya terdapat
perbedaan kelarutan bahan-bahan yang terlibat (Sanagi, 1998:25).
Kandungan
lumpur ditentukan dengan metode gravimetri. Sejumlah tertentu cairan lumpur
aktif disaring, kemudian residu yang diperoleh dipanaskan selama satu jam pada
suhu 105°C dan ditimbang. Hasil diperoleh dalam satuan g/liter. Metode
pengukuran lain yang dapat digunakan adalah metode avaporasi. Metode ini akan
memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan metode gravimetri
(Siregar, 2005:108).
Metode
analisis laboratorium untuk aplikasi di bidang higiene industri secara umum
adalah berdasarkan prinsip-prinsip analisis logam (analisis spektroskopi) atau
gravimetri. Sebelum sampel dianalisis menggunakan metode tersebut, sampel
terlebih dahulu harus dipersiapkan sehingga dapat dianalisis. Tahapan preparasi
ini bertujuan untuk mempersiapkan sampel sehingga dapat terbaca oleh instrumen
laboratorium. Analisis langsung (direct analysis), purtikulat pada filter
langsung dianalisis tanpa perparasi terlebih dahulu, misalnya dengan cara:
gravimetrri (penimbangan bobx partikulat) ataupun pemeriksaan dengan mikroskop
(Lestari, 2010:190).
D. Alat dan Bahan
1.
Alat
a.
Krus porselen 1 buah
b.
Desikator 1
buah
c.
Oven 1
buah
d.
Spatula 1
buah
e.
Neraca analitik 1 buah
f.
Stopwatch 1 buah
g.
Penjepit tabung 1 buah
h.
Kamera Hp 1 buah
2. Bahan
a.
CuSO4.xH2O (Tembaga (II) Sulfat Pentahidrat )
E. Prosedur Kerja
1.
Krus porselen kosong ditimbang pada
timbangan digital .
2.
0,5 gram kristal terusi ditimbang
menggunakan krus porselen, (dicatat sebagai berat awal terusi = W0).
3.
Krus porselen yang berisi terusi
dipanaskan selama 15 menit menggunakan oven.
4.
Setelah 15 menit, dimasukkan dalam
desikator selama 10 menit.
5.
Setelah dingin, ditimbang dan dicatat
sebagai berat W1.
6.
Dipanaskan kembali selama 15 menit.
7.
Dimasukkan dalam desikator dan
didinginkan selama 10 menit.
8.
Kemudian ditimbang, hasil timbangan
dianggap sebagai W2.
9.
Setelah itu, dipanaskan kembali selama
15 menit.
10.
Dinginkan lagin selama 10 menit
menggunakan desikator.
11.
Dan ditimbang lagi, hasil timbangan
sebagai W3.
12. Kandungan
air terusi dihitung.
F.
Hasil
Pengamatan
|
No
|
Perlakuan
|
Pengamatan
|
|
1.
|
Ditimbang
krus porselen kosong.
|
Wkrus
porselen kosong = 54,35 gram
|
|
2.
|
Ditimbang
kristal CuSO4.xH2O 0,5 gram
|
W0
+ Wkrus = 54,86 gram
Wa
= (W0 + Wkrus) – Wkrus kosong
= 54,86
- 54,35
= 0.51 gram
|
|
3.
|
kristal
CuSO4.xH2O dipanaskan selama 15 menit.
|
Kristal
terusi mengalami perubahan warna dari warna biru menjadi abu-abu.
|
|
4.
|
Kristal
terusi dimasukkan kedalam desikator selama 10 menit, lalu ditimbang.
|
W1
+ Wkrus = 54,68 gram
Wb
= (W1 + Wkrus) – Wkrus kosong
= 54,68 -
54,35
= 0,33 gram
|
|
5.
|
kristal
CuSO4.xH2O dipanaskan selama 15 menit.
|
Kristal
terusi tetap berwarna abu-abu.
|
|
6.
|
Kristal
terusi dimasukkan kedalam desikator selama 10 menit, lalu ditimbang.
|
W2
+ Wkrus = 54,70 gram
Wc
= (W2 + Wkrus) – Wkrus kosong
= 54,70 -
54,35
= 0,35 gram
|
|
7.
|
kristal
CuSO4.xH2O dipanaskan selama 15 menit.
|
Kristal
terusi tetap berwarna abu-abu.
|
|
8.
|
Kristal
terusi dimasukkan kedalam desikator selama 10 menit, lalu ditimbang.
|
W3
+ Wkrus = 54,69 gram
Wd
= (W3 + Wkrus) – Wkrus kosong
= 54,69 -
54,35
= 0,34 gram
|
|
|
CuSO4.xH2O =
![]() |
CuSO4.xH2O =
=
|
|
|
|
=
=
=
9 gram
|
G. Analisis Data
Dik
: Wa =
0,51 gram
Wb = 0,35 gram
Mr H2O = 18 mol/L
Mr CuSO4.xH2O = 249,5 mol/L
Dit
: x CuSO4.xH2O =
...... ?
Peny
: CuSO4.xH2O =
= 
= 
=

=
9 gram
1.
mol x CuSO4.xH2O =

= 
= 0,0020 mol
2.
mol CuSO4
1 CuSO4 + H2O à 1 CuSO4 + 5 H2O
mol =
x
mol CuSO4 H2O
=
x
0,0020
= 0,0020 mol
3.
mol H2O =
x mol
CuSO4 H2O
=
x
0,0020
= 0,01
mol
x CuSO4 x H2O à x CuSO4 + x H2O
mol
CuSO4 :
mol H2O
0, 0020 :
0.0100
1 : 5
Jadi, x CuSO4 x H2O
= CuSO4 5H2O
·
Massa H2O teori
mol = 
gram =
mol x Mr
= 0,01 x 18
= 0,18 gram
· Massa
H2O praktek
gram = Wa - Wd
= 0,51
- 0,34
= 0,17 gram
Rendamen %
=
x
100%
=
x
100%
= 94,44 %
H. Pembahasan
Gravimetri
adalah metode analisis kuantitatif unsur atau senyawa berdasarkan bobotnya yang
diawali dengan pengendapan dan diikuti dengan pemisahan dan pemanasan endapan
dan diakhiri dengan penimbangan (Wiryawan, 2007 ).
Percobaan
ini bertujuan untuk menghitung kadar terusi (CuSO4) dalam CuSO4
. xH2O secara gravimetri. Prinsip dasar dari percobaan ini yaitu
pengurangan kadar air pada sampel. Sedangkan prinsip kerja dari percobaan ini
yaitu penimbangan, pemanasan dan pendinginan.
Percobaan
ini dilakukan dengan cara menimbang krus porselin kosong menggunakan neraca
analitik, hal ini dilakukan agar dapat menentukan berat sampelnya yang sesuai
keinginan dan mengetahui berat porselin kosong itu sendiri. Kemudian terusi
ditimbang dengan krus porselin. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berat awal
dari sampel. Setelah itu dipanaskan menggunakan oven agar kadar air terusi
menguap. Selanjutnya didinginkan dengan menggunakan desikator. Desikator
merupakan tempat yang didalamnya terdapat silika gel yang dapat menyerap molekul
air sehingga sampel dapat terbebas dari udara. Silika gel bersifat higroskopis
yang berfungsi untuk menyerap molekul-molekul air yang ada pada ruang tersebut.
Kemudian ditimbang untuk mengetahui berat sampel setelah kadar air menguap.
Percobaan inidilakukan atau diulangi sebanyak tiga kali, agar kadar air dalam
terusi benar-benar hilang, sehingga didapatkan berat konstan dari sampel dan
mencapai berat sampel yang murni. Adapun reaksi yang terjadi yaitu :
CuSO4
5H2O à CuSO4 +
5H2O
Pada
pemanasan warna terusi dari biru beruabah menjadi abu-abu. Hal ini menandakan
bahwa kadar air dalam sampel sudah teruapkan. Data yang didapatkan dari
percobaan ini diperoleh selisih penimbangan 0,34 gram. sehingga kita dapat
menghitung rumus hidrat pada sampel.
Rumus
awal terusi CuSO4 xH2O. Nilai x inilah yang ingin
diketahui dengan menggunakan analisis gravimetri. Dari analisis data yang
didapatkan 9 gram dan koefisien H2O adalah, yang berarti
sesuai dengan teori. Adapun bentuk geometri terusi adalah :
SO42-
|
|
||||||
![]() |
|||||||
|
|
||||||
I. Kesimpulan
Gravimetri
adalah metode analisis kuantitatif unsur atau senyawa berdasarkan bobot yang
diawali dengan pengendapan kemudian diikuti dengan pemisahan, pemanasan endapan
dan diakhiri dengan dengan penimbangan. Berdasarkan analisis data dari
percobaan ini adalah 9 gram sebagai hasil untuk menentukan kadar air terusi dan
5 sebagai koefisien dari H2O, sehingga rumus senyawa dari terusi ini
adalah CUSO4 5H2O. Adapun reaksi yang terjadi yaitu :
CuSO4
5H2O à CuSO4 +
5H2O
(biru) (abu-abu)
J. Saran
a.
Laboratorium, sebaiknya merawat alat
praktikum.
b.
Asisten, sebaiknya membimbing praktikan
dengan baik.
c.
Praktikan, sebaiknya teliti dalam
menganalisis data dari gravimetri.
DAFTAR PUSTAKA
Day,
R.A dan A.L Underwood. 2002. Analisis
Kimia Kuantitatif. Jakarta :
Erlangga.
Effendi, Hefni.
2004. Telaah Kalitas Air Bagi Pengelolaan
Sumber Daya dan
Lingkungan
Perairan. Yogyakarta : Konisius.
Fitrony ; Rizoy
Fauzi ; Lailatul Qadariyah ; dan Mahfud. Pembuatan Kristal
Tembaga
Sulfat Pentahidrat (CuSO4 5H2O) dari Tembaga Bekas
Kumparan. Jurnal Teknik Pomits. Vol. 2 No. 2.
Haryono, Timbali
; dkk. 2003. Pelapukan Batu Candi Siswa
Prambanan dan
Upaya Penanganannya.
Jakarta : EGC.
Lestari,
Fatma. 2010. Bahaya Kimia. Jakarta :
EGC.
Sanagi,
Mohd Marsin. 1998. Teknik Pemisahan dalam
Analisis Kimia. Malaysia : Universitas Teknologi Malaysia.
Siregar, Sakti A. 2005.
Instalasi Pengolahan Air Limbah.
Yogyakarta : Konisius.
Sumardjo,
Damin. 2004. Pengantar Kimia. Jakarta
: EGC.
Widjanarko,
Siman Bambang dan Johana Megawati. 2015. Analisis Metode
Kolorimetri dan Gravimetri Pengukuran Kadar Glukonan
pada Konjak
(Amarphophallus
konjac). Jurnal Pangan dan Agroindustri.
Vol. 3 No.2
Wiryawan,
Adam ; Rinni Retnawati dan Akhmad Sabarudin. 2007. Kimia Alitik.
Jakarta : Erlangga.

Komentar
Posting Komentar