HALAMAN
PENGESAHAN
Laporan
lengkap praktikum Kimia Analitik dengan judul percobaan “Ekstraksi Pelarut” yang disusun oleh :
Nama :
NIM :
Kelas : Pendidikan IPA
Kelompok : II
Telah diperiksa dan dikoreksi oleh
Asisten dan Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.
Makassar, Desember 2017
Koordinator Asisten Asisten
Jusriani
A.Husnul Haerana
NIM. 1516041006 NIM. 15160410
Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab
Dr. Hasri, M.Si
NIP. 1965 1103 199802 2001
A. Judul Percobaan
Percobaan ini berjudul “Ekstraksi
Pelarut”.
B. Tujuan Percobaan
Pemisahan
asam lemak dari sabun dan penentuan asam lemak dengan ekstraksi pelarut dan
titrasi.
C.
Landasan Teori
Salah
satu sapek yang menarik dari ekstraksi pelarut adalah bahwa ekstraksi ini
berhasil mulai dari kadar terendah (misalnya isotop logam radioaktif yang bebas
mengemban) sampai ke kuantitas makro. Pemisahan itu “bersih” dalam arti logam
lain tak akan terseret kedalam pelarut organik oleh speses pengekstraksi
melebihi kuantitas yang ditentukan oleh nilai Du-nya sendiri (Bandingkan dengan
Kompresipitasi) (Day,2002:466).
Elstraksi
adalah proses penarikan komponen aktif (minyak asin) yang terkandung dalam tanaman
mengunakan larutan pelarut yang sesuai dengan kelarutan komponen aktifnya. Cara
ekstraksi menggunakan pelarut menguap lebih menguntungkan, tetai prosesnya
tidak mudah diterapkan dibandingkan dengan cara penyulingan. Faktor yang
menentukan berhasilnya proses ekstraksi adalah kualitas dari pelarut yang
dipakai (Yuliani,2012:46).
Proses
ekstraksi yang bertujuan untuk mempertahankan sifat-sifat bawaan dari bahan
yang diekstraksi seperti bau, rasa, warna, dan komponen aktif tertetu dalam
kondisi operasional yang lunak. Ekstraksi digunakan dengan menggunakan gas-gas
inert yang dapat dicairkan seperti CO2, butane, dan sebagainya. Cara
ini mendasar pada prinsip perbedaan kelarutan dengan senyawa pada pelarut yang
berbeda-beda. Dengan memilih pelarut yang tepat, maka suatu senyawa dapat
dimurnikan atau dipisahkan dari campurannya (Rubiyanto,2017:8-9).
Metode
ekstraksi digunakan untuk mengambil zat terlarut dalam air dengan menggunakan
pelarut organik yang tidak saling bercampur dengan air, sehingga sering disebut
dengan ekstraksi pelarut atau disebut juga ekstraksi cair-cair. Pemisahan ini
dapat dilakukan baik dalam skala makro maupun mikro. Tidak memerlukan peralatan
yang khusus atau canggih, hanya dengn corong pisah (Hasri,2017:20).
Cara
kerja ekstraksi menggunakan pelarut menguap yaitu dengan memasukkan bunga yang akan diekstraksi kedalam alat
ekstraktor khusus, kemudian ekstraksi berlangsung pada suhu kamar dengan
menggunakan pelarut. Cara ekstraksi menggunakan pelarut menguap lebih
menguntungkan, tetapi prrosesnya tidak mudah diterapkan dibandingkan dengan
cara penyulingan. Pelarut yang ideal harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut. 1) pelarut harus dapat melarutkan semua zat wangi (votatii) dengan cepat
dan sempurna, serta dapat sedikit melarutkan zat warna, albumin, dan lilin. 2)
pelarut bersifat inert atau tidak. 3) pelarut harus mempunyai titik didih yang
cukup rendah serta mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu yang tinggi
(Yuliani,2012:46).
Ekstraksi
sampel dilakukan dengan menggunakan 2 pelarut yang memiliki tingkat kepolaran
yang berbeda-beda yaitu aseton sebagai pelarut polar dan e til asetat sebagai
pelarut semipolar. Setiap tahapan ekstraksi yang dilakukan diharapkan dapat
mengekstrak senyawa yang mempunyai kepolaran yang sesuai dengan kepolaran
pelarut. Penggunaan kedua pelarut dipilih karena untuk mendapatkan target
senyawa yang tepat sebagai antioksidan, selain itu mampu menarik senyawa
berdasarkan tingkat kepolaran dari non polar, semi polar, hingga polar dalam
ekstrak yang dikehendaki (Firdiyani,2015).
Dalam
suatu pemisahan yang ideal oleh ekstraksi pelarut, seluruh zat yang diinginkan
akan berakhir dalam suatu pelarut dan semua zat-zat pengganggu dalam pelarut
yang lain. Transfer semua atau sama sekali tidak semacam itu dari satu ke lain
pelarut adalah langka, dan lebih boleh jadi bahwa kita menjumpai campuran
zat_zat yang hanya berbeda sedikit dalam kecenderungannya untuk beralih dari
satu ke lain pelarut. Suatu contoh
adalah ekstraksi berulang-ulang suatu larutan air dengan porsi suatu pelarut organik secara berurutan.
Ekstraktor soxhlet akan termasuk dalam kategori ini, seperti juga teknik
pengendapan ulang analisis gravimetri (Day,2002:470).
Pelarut memiliki kemampuan yang
berbeda-beda dalam mengambil senyawa bioaktif suatu sampel. Kedua pelarut
memiliki tingkat kepolaran yang berbeda, sehingga dapat melarutkan senyawa
polar, semu polar dan dapat pula melarutkan senyawa yang bersifat non polar.
Pelarut polar dapat melarutkan senyawa polar maupun senyawa non polar karena
mempunyai momen dipole yang besar (Firdiyani,2015).
Ekstraksi
yang dilakukan secar sekunsal dengan pelarut akuades untuk memisahkan senyawa
metabolit sekunder dengan endapan. Ekstraksi menggunakan pelarut pengekstraksi
pertama dapat memisahkan senyawa metabolit sekunder, sedangkan pelarut
pengekstraksi kedua dapat memisahkan senyawa metabolit sekunder. Adapun tujuan
teknik proses ekstraksi ini adalah untuk medapatkan pati sagu baru kaya akan komponen fitokimia yang dapat berfungsi
sebagai antioksidan dibandingkan dengan
teknik ekstraksi secara tradisional (Momuat,2015).
Teknik
ekstraksi pelarut dimana kedua cairan yang tidak dapat campur bergerak dengan
arah yang berlawanan dalam suatu kontak berkesinambungan satu sama lain
sehingga zat-zat terlarut dapat berpisah. Jarang dijumpai dalam laboratorium
(namun kadng-kadang proses yang tidak benar-benar arus lawan disebut arus
lawan). Dalam eksperimen ekstraksi craig itu, fase cairan yang berat tetap
stasioner, sedangkan fase ringan dialirkan sepanjang deretan sel, dengan
mengangkut zat terlarut bersamanya, yang kuantitasnya beraneka sesuai dengan
sifat positifnya (Day,2002:481).
Prinsip
metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu
antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Benzena, karbon tetraklorida,
atau kloroform. Proses pemisahan didasarkan atas perbedaan sifat partisi zat
terlarut (solut) dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur. Jika zat
terlarut terdistribusi dalam suatu fasa cair dan organik maka kesetimbangan
yang dihasilkan sebagai berikut :
C17H35COOH
+ NaOH ®
C17H35COONa + H2O
Dimana aq dan org masing-masing fasa
cair dan fasa organik (Hasri,2017:20).
Sebelum
proses ekstraksi dimulai, sebaiknya dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi
peralatan yang akan digunakan. Dengan demikian, proses ekstraksi dapat berjalan
dengan lancar. Ekstraksi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu ekstraksi
dengan pelarut uap, ekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan lemak
panas. Jenis pelarut yang biasa digunakan dalam metode ekstraksi pelarut
menguap adalah antar lain alkohol,
heksana, benzena, toluen, kloroform, petroleum eter, dan etil asetat.
(Yuliani,2012:46-48).
Metode
ekstraksi yang digunakan juga diduga sangat berpengaruh terhadap aktivitas
antioksidan. Perbedaan nilai aktivitas antioksidan ini disebabkan oleh metode
ekstraksi, metode pengujian, serta kondisi operasi yang digunakan saat proses
ekstraksi juga berbeda (volume pelarut, ukuran serbuk daun, waktu ekstraksi,
suhu dan tekanan). Aktivitas antioksidan
dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan kondisi operasi yang digunakan
pada saat ekstraksi (Firdiyani,2015).
Ekstraksi
menggunakan pelarut uap dibutuhkan seperangkat peralatan ekstraksi yang
meliputi alat teaching, evaporator, pompa vakum, pendingin, heater, saringan
dan alat-alat lainnya. Tabung ekstraktor berputar dan tabung evaporator
berfungsi untuk menguapkan pelarut. Tabung evaporator juga dilengkapi dengan
petunjuk tekanan dan suhu serta saluran unlet dan kran outlet
(Yuliani,2012:47).
D.
Alat dan Bahan
1. alat
a. Corong pisah 1
buah
b. Statif 1
buah
c. Buret 1
buah
d. Gelas ukur 1
buah
e. Gelas Kimia 2
buah
f. Corong biasa 1 buah
g. Timbangan
analitik 1
buah
h. Penangas air 1
buah
i. Kasa 1
buah
j. Batang
pengaduk 1
buah
k. Erlenmeyer 1
buah
l. Kamera HP 1
buah
M. Pipet tetes 2
buah
2. Bahan
a. Sabun yang
telah diiris-iris
b. Larutan HNO3
4N (Asam
Nitrat)
c. Alkohol (C2H5OH)
d. Aquades (H2O)
e. Kloroform
f. larutan NaOH
0,5 N
g. Indikator
fhenolfhalein
h. Tissue
E.
Prosedur Kerja
1. Sebanyak 2
gram sabu ditimbang dengan timbangan digital.
2. Sabun
dilarutkan menggunkan aquades sebanyak 15 mL dalam gelas kimia.
3.
Sabun yang berada dalam air dipanaskan diatas penangas air hingga mendidih dan
larut.
4.
Setelah larutan larut dan dingin ditambahkan 3 mL alrutan HNO3 4N.
Setelah itu ditambahkan 10 mL alkohol lalu diaduk.
5.
Setelah dingin, larutan dimasukkan kedalam corong pisah fan ditambahkan 10 mL
kloroform, kemudian diekstrak denga cara dikocok.
6.
Setelah terbentuk 2 lapisan, kedua larutan ditampung didalam wadah yang
berbeda. Lapisan bawah dimasukkan di dalam gelas kimia dan lapisan atas
dimasukkan di dalam erlenmeyer.
7.
Selanjutnya cairan pada gelas kimia dimasukkan kembali ke corong pisah dan
ditambahkan 10 mL kloroform. Kemudian diekstrak kembali lalu dipisahkan seperti
perlakuan sebelumnya.
8.
Larutan blanko dibuat dengan dicampurnya (10 mL aquades + 3 mL HNO3 4N
+ 10 mL alkohol + 20 mL kloroform). Setelah itu dimasukkan kedalam corong pisah
dan diekstraksi. Larutan benzena dipisahkan dan dijadikan larutan blanko.
9.
Hasil ekstraksi dan larutan blanko masing-masing dititrasi dengan larutan HNO3
0,5 N dengan diberi 3 tetes indikator PP.
10.
Jumlah NaOH yang digunakan dalam titrasi dicatat.
F.
hasil Pengamatan
|
NO.
|
Perlakuan
|
Pengamatan
|
|
1.
2
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
|
Sebanyak 2 gram sabun
ditimbang dengan timbangan digital
Sampel sabun + 15 mL
H2O
Sabun didalam air
dipanaskan hingga mendidih
Larutan + 2,5 mL HNO3 4 N
Gumpalan asam lemak +
10 mL alkohol, diaduk
Larutan keruh + 20 mL
kloroform, dimasukkan ke corong pisah, diekstrak
Lapisan bawah + 10 mL
klorofor, diekstrak kembali
Lapisan atas
dimasukkan kedalam erlenmeyer
Hasil ekstraksi dari
smapel ditambahkan indikator PP 3 tetes, dititrasi dengan 9,5 mL NaOH 0,15 N
Larutan blanko (10 mL
aquades + 3 mL HNO3 + 20 mL kloroform + 10 mL aquades) di
ekstraksi
Hasil ekstraksi
lapisan bawah larutan blanko, ditambahkan indikator PP, dititrasi dengan NaOH
0,5 N 1,3 mL
|
Sabun berwarna putih
Sabun larut sebagian
dalam air
Larutan berwarna
putih
Terbentuk gumpalan
putih dari asam lemak
Larutan menjadi keruh
dan terlihat sedikit gumpalan.
Terbentuk 2 lapisan,
lapisan atas agak keruh dan lapisan bawah agak jernih.
Terbentuk 2 lapisan,
lapisan atas keruh, dan lapisan bawah bening.
Hasil ekstraksi
tampak keruh.
Larutan berwarna pink
muda dan agak kental.
Terbentuk 2 lapisan, lapisan
atas keruh dan lapisan bawah agak jernih.
Larutan berwarna
pink.
|
G.
Analisis Data
Dik : V NaOH =
9,5 mL
V NaOH blanko =
1,3 mL
M NaOH =
0,5 M
Gram sabun yang diiris = 2
gram
BE C17H37COOH =
7,88
Dit : % asam lemak = .....?
Peny :
% Asam lemak = 
=
100%
= 
=

= 0,0161
100%
% asam lemak = 1,61%
H.
Pembahasan
Metode ekstraksi digunakan
untuk mengambil zat terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organik yang
tidak saling bercampur dengan air, hingga sering disebut dengan ekstraksi
pelarut atau disebut dengan ekstraksi cair-cair. Pemisahan ini dpaat dilakukan
baik dalam skala makr maupun mikro. Tidak memerlukan peralatan yang khusus atau
canggih, hanya dengan corong pisah(Hasri,2017:20).
Prinsip dasar dari percobaan ini yaitu distribusi zat
terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling
bercampur. Adapun prinsip kerja dari percobaan ini yaitu penimbangan,
pemanasan, pencampuran, pengocokan, pemisahan, dan titrasi.
Langah pertama yang dilakukan yaitu menimbang sabun yang
telah dihancurkan, setelah itu melarutkannya dengan aquades dengan cara
dipanaskan. Setelah itu larutan ditambahkan dengan HNO3 lalu diaduk
hingga larutan dingin. Fungsi penambahan HNO3 yaitu agar timbul
endapan yaitu berupa timbul endapan asam lemak dari sabun. Setelah larutan
dingin, larutan ditambahkan kloroform dan alkhol. Fungsi penambahan alkohol
agar larutan tidak berbuih dan larutan menjadi keruh. Adapun fungsi penambahan
kloroform agar terbentuk 2 lapisan pada larutan. Terbentuknya 2 lapisan
dikarenakan larutan kloroform merupakan larutan organik yang bersifat non polar
sedangkan aquades bersifat polar. Setelah semua larutan telah bercampur maka
dimasukkan kedalam corong pisah, lalu diekstrak dengan cara dikocok. Fungsi
pengocokan agar larutan yang berada di dalam corong dapat membentuk dua
lapisan. Dimana lapisan atas merupakan air dan lapisan bawah merupakan larutan
asam lemak sabun. Setelah larutan tersebut dipisahkan lapisan bawah, dimasukkan
lagi kedalam corong pisah dan ditambahkan kloroform. Fungsi penambahan lagi
kloroform agar terbentuk lagi 2 lapisan. Setelah itu diekstrak kembali
menggunakan corong pisah. Lapisan atas dimasukkan kedalam erlenmeyer dan
lapisan bawah dimasukkan kedalam gelas kimia.
Lapisan atas merupakan hasil ekstraksi, ditambahkan
indikator phenolfthalein, kemudian dititrai dengan menggunakan NaOH. Fungsi
penambahan indikator PP sebagai penentu titik akhir daripada titrasi, sedangkan
fungsi NaOH sebagai larutan basa yang dapat menentukan titik akhir titrasi.
Percobaan kedua yang dilakukan yaitu ekstraksi larutan
blanko yang terdiri dari aquades, lautan HNO3, kloroform, dan
larutan alkohol. Setelah itu larutan diekstraksi dan terbentuk 2 lapisan dimana
lapisan atas nampak keruh, laisan bawah nampak jerih. Setelah itu lapisan bawah
larutan blanko dititrasi menggunakan larutan NaOH hingga larutan berwarna pink.
Fungsi larutan blanko yaitu sebagai larutan pembanding.
I.
Kesimpulan
Ekstraksi adalah proses pemisahan zat terlarut dalam air
dengan menggunkan pelaut organik yang tidak saling bercampur dengan air. Zat
yang akan dipisahkan adalah asam lemak yang terkandung dalam sabun dengan
menggunakan pelarut yaitu klroform, alkohol, aquades. Adapun persen asam lemak
yang terkandung yaitu 1,61%.
J.
Saran
a. Saran untuk laboran
agar menjaga dan merawat peralatan praktikum dengan baik.
b. Saran untuk asisten
agara tetap semangat dan sabar dalam menghadapi praktikan.
c.
Saran untuk praktikan selanjutnya agar berhati-hati saat menggunakan alat di
laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Day, JR.R.A; A.L.
Underwood.2002. Analisis Kimia Kualitatif.
Jakarta: Erlangga.
Firdiyani, Fiya; tri
Winarti agustina; Widodo Farid Ma’ruf.2015. ekstraksi
Senyawa Bioaktif sebagai antioksidan Alami Spirulina Plantesis segar dngn
Pelarut yang berbeda. Masyarakat Pengolahan
Hasil Perikanan Indonesia. Vol. 18 No. 1
Hasri.2017.Kimia Analitik. Makassar: Universitas
Negeri Makassar.
Momuat, Lidya
Irma.2015. Perbandingan Senyawa Fenolik
dan Aktivitas Antioksidan Antara Sagu Baruk Dan Kering. Chem.Prog.Vol.8 No.
1.
Rubiyanto, Diarso.2017.
Metode Kromatografi.
Yogyakarta : Deepublish Publisher.
Yuliani, Sri; Suyanti
Satuhu.2012. Panduan Lengkap Minyak Asiri.
Jakarta : Swadaya
Komentar
Posting Komentar