MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK (FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN)


MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

(Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan)








DISUSUN OLEH :
KELOMPOK III






PRODI PENDIDIKAN IPA REGULER 2016
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR






KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat ALLAH SWT, berkat rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Perkembangan Peserta Didik yang berjudul “Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan”
            Kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Drs. Abdul Mun’im, M,Si. yang telah memberikan dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
            Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah kami ini.
            Kami berharap, semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak  dan pengalaman bagi para pembaca terutama bagi para penyusun sendiri.



Makassar, 5 Maret 2018

Kelompok 3





DAFTAR ISI






BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Perkembangan dimaknai dengan suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, secara fisik maupun psikis, menuju tingkat kedewasaan atau kematangan. Perkembangan itu berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan. Secara psikis perkembangan mengarah kepada pembentukan kepribadian, yang sangat menentukan seseorang dalam bersosialisasi
Mempelajari perkembangan peserta didik, merupakan upaya yang sangat strategis bagi para pendidik (guru), mahasiswa calon guru, atau semua pihak yang terkait dengan Pendidikan. Dengan mempelajari perkembangan peserta didik, parapendidik akan memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang perkembangan peserta didik, yang berguna bagi upaya mendidik, membimbing, atau memfasilitasi anak dalam mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan?
2.      Bagaimana faktor lingkungan sekolah terhadap perkembangan anak?
3.      Bagaimana peran teman sebaya (peer group) terhadap perkembangan anak?
4.      Bagaimana media massa mempengaruhi perkembangan anak?

C.     Manfaat

1.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
2.      Mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap perkembangan anak
3.      Mengetahui peran teman sebaya (peer group) terhadap perkembangan anak
4.      Mengetahui pengaruh media massa terhadap perkembangan anak.

BAB II

PEMBAHASAN


A.      Faktor Genetika (Hereditas)

        Hereditas merupakan “totalitas karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi (baik fisik maupuan psikis) yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen”
        Masa dalam kehidupan dipandang sebagai periiode yang kritis dalam perkembangan kepribadian individu, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagai masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran agar janin dalam kandungan petumbuhannya sehat, ibu yang mengandung perlu memerhatikan kesehatan dirinya , baik fisik maupun psikis.
       Pengaruh gen terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung karena yang dipengaruhi gen secara langsung adalah : (a) kualitas sistem syaraf (b) keseimbangan biokimia tubuh dan (c) struktur tubuh.
      Lebih lanjut dapat dikemukaan bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah (a) sebagai sumber bahan mentah (raw materials), kepribadian seperti fisik, intelegensi dan temperamen (b) membatasi perkembangan kepribadian (meskipun kondisi lingkungan sangat kondusi, perkembangan kepribadian itu tidak bisa melebihi kapasitas atau potensi hereditas)  dan (c) memengaruhi keunikan kepribadian.
        Sehubungan dengan hal di atas, Cattel dkk, mengemukakan bahwa “kemampuan belajar dan penyesuaian diri individu dibatasi oleh sifat-sifat yang inheren dalam organisme individu itu sendiri” misalnya kapasitas fisik (perawakan, energi, kekuatan dan kemenarikannya), dan kapasitas intelektual (cerdas, normal atau terbelakang). Meskipun ebgitu batas-batas perkembangan kepribadian, bagaimanapun lebih besar dipengaruhi oleh factor lingkungan.

B.       Faktor lingkungan

        Lingkungan adalah “keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik/alam atau sosial yang memengaruhi atau dipengaruhi perkembangan individu”. Adapun bebrapa factor lingkungan diantaranya :

1.      Lingkungan keluarga

Lingkungan keluarga dianggap sebagai factor penentu utama terhadap perkembangan anak. Alasan tentang pentingnya peranan keluarga bagi perkembangan anak adalah :
a.       Keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak
b.      Keluarga merupakan lingkungan pertama yang menganalkan nilai-nilai keluarga pada anak.
c.       Orangtua dan anggota keluarga lainnya merupakan “significant people” bagi perkembangan kepribadian anak.
d.      Keluarga institusi yang memfasilitasi kebutuhan dasar insani (manusiawi) baik yang bersifat fisik-biologis, maupun sosiopsikologis, dan
e.       Anak banyak menghabiskan waktu dilingkungan keluarga.
`           Menurut Hammeer dan TUnner
a.       Orang tua sebagai perawat. Ibu dan/atau ayah mempunyai peranan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan anak, seperti memberikan asupan makanan yang bergizi memandikan dan memakaikan pakaian yang bersih.
b.      Orang tua sebagai pelindung. Pada saat anak sudah mulai merangkak dan berjalan, orangtua perlu memberikan perhatian ekstra untuk menjaga atau melindunginya karen apada saat itu anak sudah mulai melakukan eksplorasi lingkunagnnya.
c.       Orang tua sebagai pengasuh. Ketika anak sudah menginjak usia prasekolah, pada umumnya (terutama yang bertempat tinggal di perkotaan) anak sudah masuk TK atau RA. Untuk itu orangtua harus memberikan asuhan atau bimbingan kepasda anak seperti (1) membiasakan anak untuk memakai pakaian sendiri dan maklan sendiri (2) memelihara kebersihan diri dari lingkuangan (3) membimbuing cara-cara berhubungan sosial dengan teman di sekolah dan (4) membiasakan anak untuk mengerjakan PR sendiri.
d.      Orang tua sebagai pendorong. Anak usia SD sudah memiliki aktivitas yang cukup banyak, terutama yang terkait dengan bidang akademik dan sosial (ekstrakurikuler). Dengan hal ituorangtua perlu memotivasi dan mendorongnya agar anak tetap bersemangat untuk aktof dalam mengikuti kegiatan tersebut.
e.       Orang tua sebagai konselor. Istilah konselor disini bukan dimaksudkan seorang konselor professional yang memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, tetapi bagaimana orang tua menerapkan sikap dan perlakuan terhadap anak layaknya konselor yang berfungsi sebagai fasilitator dan motivator bagi anak dalam mencapai perkembangannya.
       Faktor-faktor lingkungan keluarga yang dipandang memengaruhi perkembangan anak diklasifikasikan kedalam dua faktor
a.       Keberfungsian keluarga
Keluarga yang fungsional atau yang ideal menurut Alexander A. Schneiders (1960:405). Memliki karakteristik sebagai berikut
1)      Minimnya perselisihan antar orang tua atau antar orang tua-anak
2)      Ada kesempatan untuk menyatakan keinginan
3)      Penuh kasih sayang
4)      Menerapkan disipilin yang tidak keras
5)      Memberikan peluang utnuk bersikap mandiri dalam berpikir, merasa, dan berperilaku
6)      Saling mengharagai atau menghormati antar anggota keluarga
7)      Menyelenggarakan konferensi (musyawarah) keluarga dalam memecahkan masalah.
8)      Menjalin kebersamaan antar anggota keluarga
9)      Orangtua memiliki emosi yang stabil
10)  Berkecukupan dalam bidang ekonomi
11)  Mengamalkan nilai-nilai moral agama

Sementara keluarga yang disfungsional menurut Dadang Hawari (1997:165) ditandai dengan karakteristik sebagai berikut
1)      Kematian salah satu atau kedua orang tua
2)      Orang tua berpisah atau cerai (divorce)
3)      Hubungan kedua orang tua kurang baik
4)      Hubungan orang tua dengan akan tidak baik
5)      Suasana rumahtangga yang tegang dan tanpa kehangatan
6)      Orang tua sibuk dan jarang berada di rumah
7)      Salah satu atau kedua orangtua mengalami kelainan kepribadian atau gangguan jiwa

b.      Pola hubungan orang tua-anak (sikap atau perlakuan orang tua terhadap anak)
         Diana Baumrind (Weiten & Lioyd, 1994: 359-360, Sigelman & Saffer, 1995: 396) mengemukakan hasil penelitiannya melalaui observasi dan wawancara terhadap siswa TK (Taman Kanak-kanak).
Parenting Style
Sikap atau perlakuan orang tua
Profil perilaku anak
Authoritarian
1.     Sikap ‘acceptance’ (dukungan/penerimaan) rendah namun kontrolnya tinggi
2.     Suka menghukum secara fisik
3.     Bersifat mengomando (mengharuskan / memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi)
4.      Cenderung emosional dan bersikap menolak
1.      mudah tersinggung
2.      penakut
3.      pemurung, tidak bahagia
4.      mudah terpengaruh
5.      mudah stress
6.      tidak mempunyai arah masa depan yang jelas
7.      tidak bersahabat
Permissive
1.       sikap ‘acceptance’ (dukungan/penerimaan)  tinggi namun kontrolnya rendah.
2.       memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan / keinginannya
1.      bersikap impulsif dan agresif.
2.       suka memberontak
3.      kurang memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri
4.      suka mendominasi
5.      tidak jelas arah hidupnya
6.      prestasinya rendah
Authoritative
1.      sikap ‘acceptance’ (dukungan/penerimaan) dan kontrolnya tinggi.
2.      bersifat responsif terhadap kebutuhan anak.
3.      mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan.
4.      memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan yang buruk

1.      bersikap bersahabat
2.      memiliki rasa percaya diri.
3.      mampu mengendalikan diri (self control)
4.      bersikap sopan
5.      mau bekerja sama
6.      memiliki rasa ingin tahu
7.      mempunyai tujuan / arah hidup yang jelas
8.      berorientasi terhadap prestasi


2.      Lingkungan sekolah

       Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan dalam rangka membantu para siswa agar mampu mengembangakan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual,intelektual emosional, sosial maupun fisik-motoriknya.
       Beberapa factor lingkungan sekolah yang berkontribusi positif terhadap perkembangan siswa atau anak di antaranya
a.       Kejelasan visi, misi dna tujuan yang akan dicapai
b.      Pengelolaan atau manajerial yang professional
c.       Para personel sekolah memiliki komitmen yang tinggi tehadap visi, misi dan tujuan sekolah.
d.      Para personel sekolah memiliki semangat kerja yang tinggi, merasa senang, disiplin dan rasa tanggungjawab
e.       Para guru memiliki kemampan akademik dan professional yang memadai
f.       Sikap dan perlakuan guru terhadap siswa bersifat positif, bersikap ramah dan respek terhadap siswa,memberikan kesempatan siswa untuk berpendapat dan bertanya .
g.      Para guru menampilkan perananya sebagai guru dalam cara-cara yang selaras dengan harapan siswa, begitupun siswa menampilkan peranannya sebagai siswa dengan cara-cara yang selaras dengan guru.
h.      Tersedianya sarana-prasarana memadai, seperti : kantor kepala dan guru, ruang kelas, ruang laboratorium, perlengkapan kantor, perlengkapan belajar mengajar, perpustakaan, alat peraga, halaman sekolah, dan fasilitas bermain, tempat beribadah dan toilet.
i.        Suasana hubungan sosio-emosional antarpimpinan sekolah, guru-guru, siswa petugas administrasi dan orang tua siswa berlangsung secara harmonis.
j.        Para personil sekolah merasa nyaman dalam bekerja karena terpenuhi kesejahteraan hidupnya
        Seiring dengan program pemerintah mengenai Pendidikan karakter, maka sekolah memiliki tanggungjawab untuk merealisasikannya melalui pengintegrasian Pendidikan karakter tersebut kedalam program Pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan karakter ini bukan mata pelajaran, tetapi nilai-nilai karakter itu harus ditanamkan kepada para peserta didik melalui proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.

            Untuk memahami apa itu karakter,karakter apa yang perlu dikembangkan dan bagaimana mengembangkannya,berikut penjelasannya.
a.      Pengertian Karakter
Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa karakter adalah “watak,tabiat,akhlak,atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan(virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang,berfikir,bersikap,dan bertindak.Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai,moral,dan norma seperti jujur,berani bertindak,dapat dipercaya,dan hormat kepada orang lain”.Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa.
b.      Karakter yang Dikembangkan
       Kemendiknas (2010) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber sebagai berikut.
1.)    Agama: Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama.Oleh karena itu,kehidupan individu,masyarakat dan bangsa selalu di dasari pada ajaran agama dan kepercayaannya.
2.)    Pancasila: Negara kesatuan republic Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut pancasila.Artinya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan,budaya dan seni.
3.)    Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu.Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu.
4.)    Tujuan Pendidikan Nasional: Sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga Negara Indonesia,dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan diberbagai jenjang dan jalur.Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga Negara Indonesia.

      Berdasarkan keempat sumber nilai itu,teridentifikasi sejumlah nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut.
Tabel 2. Karakter yang dikembangkan
NILAI/
KARAKTER

DESKRIPSI
1.Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah yang lain,dan hidup rukun dengan pemeluk agama yang lain.
2.Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,tindakan,dan pekerjaan.
3.Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya.
4.Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan.
5.Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh dalam mengatasi semua hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6.Kreatif
Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7.Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.Demokratis
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain.
9.Rasa Ingin   Tahu
Sikap dan tindakannya yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesatu yang dipelajarinya,dilihat dan didengar.
10.Semangat Kebangsaan
Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan ,kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial,budaya,ekonomi dan politik bangsa.
12.Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.Bersahabat/ Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,bergaul,dan bekerja sama dengan orang lain.
14.Cinta Damai
Sikap,perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15.Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan padalingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang telah terjadi.
17.Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan  pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku sesorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya ia lakukan,terhadap dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan( alam,sosial dan budaya), Negara dan Tuhan yang maha Esa.

c.       Strategi Pengembangan Karakter di Sekolah
            Pada dasarnya fungsi sekolah dari awal pendiriannya mempunyai misi untuk membangun karakter atau akhlak para siswa,di samping mengembangkan wawasan dan penguasaan ilmu dan teknologi. Untuk melaksanakan pendidikan karakter di sekolah ada beberapa strategi yang seyogianya ditempuh,yaitu:
1.)    Menciptakan iklim religious yang kondusif. Strategi ini dimaksudkan adalah bahwa sekolah, dalam hal ini pihak pimpinan sekolah,guru-guru,dan staf sekolah lainnya perlu memiliki komimtmen yang sama untuk merealisasikan milai-nilai agama atau ketakwaan kepada Allah,Tuhan yang maha Esa,dalam proses pendidikan di sekolah. Pengalaman nilai agama-agama itu, terutama menyangkut akhlak mulia, seperti ketaatan beribadah mahdzah(seperti shalat), kedisiplinan dalam bekerja, menegakkan amanah,tanggung jawab,dan sikap jujur, memelihara kebersihan dan keasrian lingkungan dan menjalin silaturahmi(persaudaraan).
2.)    Menata iklim sosio-emosional. Sekolah merupakan lingkungan yang diharapkan dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional siwa. Untuk itu sekolah dapat memfungsikan dirinya sebagai lingkungan yang mendukung berkembangnya kedua kompetensi siswa tersebut. Beberapa factor yang perlu mendapat perhatian terkait dengan hal itu,diantaranya yaitu: (a) hubungan interpersonal(human relationship) yang positif antar pimpinan, guru,staf dan siswa, (b) sikap dan perlakuanguru terhadap siswa yang penuh kasih saying dan respek terhadap perilaku siswa (c) Kepemimpinan kepala sekolah yang berwibawa dan bijak.
3.)    Membangun budaya akademik. Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu membangun budaya akademik di kalangan siswa. Dalam hal ini pimpinan sekolah dan guru-guru perlu menempilkan dirinya sebagai figur atau penutan yang memberikan suri teladan kepada para siswa dalam membangun budaya akademik ini. Yang dimaksud dengan budaya akademik disini adalah merujujk pada sikap mental, kebiasaan dan perilaku yang terkait dengan proses pengembangan intelektual dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk didalamnya aspek kejujuran akademik (tidak mencontek atau menjadi plagiator),dan etos belajar sepanjang hayat,yang diwujudkan dalam aktivitas kedisiplinan belajar, kebiasaan membaca buku,mengerjakan tugas tugas tepat waktu,dan mencari informasi dari berbagai media(cetak atau elektronik) yang terkait dengan materi pelajaran atau ilmu pengetahuan lainnya yang positif.
4.)    Terpadu dengan proses pembelajaran. Pendidikan karakter bukan mata pelajaran, tetapi setiap guru dituntut untuk menanamkan nila i-nilai karakter(akhlak mulia) itu kepada para siswa. Cara yang dapat ditempuh oleh guru dalam menanamkan karakter tersebut, diantaranya adalah (a) Memberi teladan kepada siswa dalam bertutur kata yang santun,berpakaian yang bersih dan sopan (Menutup aurat bagi yang muslim),dan sisiplin dalam mengajar, (b) mengaitkan nilai-niali karakter dengan pelajaran,(c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat, atau mengajukan pertanyaan,(d) bersikap objektif dalam memberikan nilai,(e) memberikan reward(pujian/penghargaan) kepada siswa yang berprestasi atau berperilaku baik dan memberikan hukuman yang bersifat edukatif kepada siswa yang berperilaku kurang baik dan (d) membangun sikap toleransi,saling menghargai dan tolong menolong diantara siwa.
5.)    Terpadu dalam program bimbingan dan konseling. Bagi sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan program bimbingan dan konseling,pendidikan karakter itu diintegrasikan juga ke dalam program tersebut.Dalam pelaksanaannya guru bimbingan dan konseling atau konselor dapat memasukkannya ke dalam empat area/bidang garapan bimbingan, yaitu bidang bimbingan pribadi , sosial,akademi,karier.
a.)    Bimbingan dan konseling pribadi merupakan proses bantuan kepada individu agar dapat memahami dan menerima dirinya secara positif,dan mengarahkannya secara konstruktif untuk mencapai kematangan pribadi yang mandiri.Tujuan bimbingan dan konseling pribadi terkait dengan pengembangan karakter personal,yaitu siswa mapu mengaktualisasikan karakter berikut dalam kehidupan sehari-hari; kejujuran, kedisiplinan ,self respect, self control,komitmen, kompeten, daya juang dan estetika.
b.)    Bimbingan dan konseling sosial adalah prose bantuan kepada individu (siswa) agar siswa dapat memahami norma,aturan atau adat yang dijunjung tinggi di lingkungan keluarga ,sekolah atau masyarakat,dan mampu menyesuaikan diri terhadap norma tersebut secara positif dan konstruktif. Tujuan bimbingan dan konseling sosial terkait dengan pengembangan karakter sosial, yaitu siswa mampu mengaktualisasikan sikap dan perilaku berikut dalam kehidupansehari-hari: sikap respek terhadap orang lain,empati,altruis, toleransi, sikap bertanggung jawab,dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.
c.)    Bimbingan dan konseling akademik (belajar) adalah proses bantuan untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan pemahaman ,sikap dan keterampilan dalam belajar dan memecahkan masalah-masalah belajar atau akademik. Terkait dengan pengembangan karakter siswa, maka bimbingan belajar diorientasikan untuk membangun kesadaran untuk belajar sepanjang hayat,minat(perasaan senang) membaca (memiliki budaya baca) ,menghindari dari mencontek, bersikap rasional dan objektif, dan berorientasi masa depan.
d.)   Bimbingan dan konseling karier adalah proses pemberian bantuan kepada siswa agar memiliki kemampuan untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan karirnya. Melalui bimbingan karier ini diharapkan siswa memiliki (1) keyakinan bahwa bekerja adalahibadah kepada Allah s.w.t (2) sikap positif terhadap dunia kerja (3) sikap disiplin waktu (4) sikap bertanggung jawa atas tugas dan perannya (5) Penguasaan informasi tentang pendidikan dan dunia kerja (6) Pemahaman tentang kompetensi yang dipersyaratkan suatu pekerjaan dam (7) semangat interpreneurship(kewirausahaan)
6.)    Terpadu dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pendidikan karakter dapat juga dipadukan dalam kegiatan ekstrakulrikuler, seperti kepramukaan , palang merah remaja, olahraga, kesenian dan kerohanian. Nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler diantaranya: kedisiplinan , kejujuran, sportivitas, tanggung jawab, kebersamaan, toleransi, keberanian dan kehalusan budi pekerti.
7.)    Kerja sama dengan pihak lain. Untuk membangun karakter para siswa, sekolah dapat juga bekerja sama dengan pihak lain, baik instansi pemerintah/swasta,organisasi kemsyarakatan maupun para pengusaha. Jalinan kerja sama ini semakin dirasakan pentingnya, apabila dikaitkan dengan banyaknya faktor penyebab rusaknya moral atau karakter siswa yang berasal dari luar sekolah. Usaha sekolah dalam menanamkan karakter kepada siswa ,akan kurang baik hasilnya, bahkan cenderung sia-sia, apabila factor yang menyebabkan rusaknya moral tersebut tidak diperhatikan atau diberantas. Faktor-faktor tersebut seperti dekadensi moral di kalangan orang dewasa, tayangan kekerasan dan pornografi dalam televise,beredarnya vcd-vcd porno,merebaknya perdagangan narkoba dan minuman keras, dan tidak terkontrolnya penjualan alat-alat kontrasepsi.

3.      Kelompok Teman Sebaya(Peer Group) 

                Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi anak mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan dirinya. Melalui kelompok sebaya,anak mampu memenuhi kebutuhannya untuk belajar berinteraksi sosial( berkomunikasi dan bekerja sama),belajar menyatakan pendapat dan perasaan,belajar merespon atau menerima pendapat dan perasaan orang lain,belajar tentang norma-norma kelompok,dan memperoleh pengakuan dan penerimaan sosial.

   Pengaruh kelompok teman sebaya terhadap anak bisa positif atau negative. Berpengaruh positif apabila anggota kelompok itu memiliki sikap dan perilaku yang positif,atau berakhlak mulia. Sementara yang negative,apabila anggota kelompoknya berperilaku menyimpang, kurang memiliki tatakrama atau berahlak buruk.
   Untuk mencegah terjadinya perilaku penyimpangan remaja, khususnya pada kelompok teman sebaya,maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut.
a.)    Orang tua perlu menjalin hubungan yang harmonis antara mereka sendiri (suami-istri) dan mereka dengan anak. Hal ini perlu karena pada umumnya perilaku penyimpangan anak disebabkan oleh keluarga yang tidak harmonis.
b.)    Orang tua perlu mencurahkan kasih saying dan perhatian kepada anak. Dengan kasih saying ini anak merasa betah di rumah, sehingga dia dapat mengurangi perhatiannya untuk bermain di luar.
c.)    Orang tua berdiskusi dengan anak tentang cara memilih atau bergaul dengan teman.
d.)   Orang tua harus menjadi suri teladan dan menanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada anak,seperti persaudaraan,tolong menolong, dan semangat dalam belajar.
e.)    Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah rumah,perlu diciptakan sebagai lingkungan belajar yang memfasilitasi perkembangan siswa, baik fisik, intelektual, emosional,sosial maupun moral spiritual.

4.      Media Massa

Salah satu media massa yang dewasa ini sangat menarik perhatian warga masyarakat, khususnya anak-anak adalah televise. Televisi sebagai media massa elektronik memiliki misi untuk memberikan informasi, pendidikan dan hiburan kepada para pemirsanya. Dilihat dari sisi ini televisi bias memberikan dampak positif bagi masyarakat (termasuk anak-anak) karena melaui berbagai tanyangan yang disajikan mereka memperoleh (a) berbagai informasi yang dapat memperluas wawasan pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan (b) hiburan baik berupa film maupun music dan (c) pendidikan, baik yang bersifat umum ataupun agama.
Tayangan-tayangan televise itu, selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negative terhadap gaya hidup warga masyarakat,terutama anak-anak.Tayangan televisi yang berupa hiburan, baik film ataupun music banyak yang tidak cocok dinonton oleh anak-anak.
Meskipun kita sudah tahu dampak negative dari televisi bagi anak,tetapi tidak mungkin kita melarang anak untuk menontonnya. Sebagai jalan keluarnya, Santrock dan Yussen (Conny R. Semiawan, 1998/1999;139)mengemukakan saran-saran dari Dorothy & Singer, tentang bagaimana membimbing anak dalam menonton tv,yaitu sebagai berikut:
                   a.)    Kembangkan kebiasaan nonton yang baik sejak awal kehidupan anak.
             b.)    Doronglah anak untuk menonton program-program khusus secara terencana, bukan                 menonton sembarang program. Aktiflah bersama anak saat menonton program-program yang terencana tersebut.
              c.)    Carilah program-program yang menonjolkan peran anak dalam kelompok usianya.
              d.)   Menonton TV hendaknya tidak digunakan untuk mengganti kegiatan lain.
           e.)    Lakukan pembicaraan dengan anak tentang tema-tema yang sensitif. Berilah kese untuk bertanya tentang program tersebut.
             f.)     Seimbangkan antara kegiatan membaca (belajar) dengan menonton televisi. Anak-anak dapat menindaklanjuti program-program televisi yang menarik.
        g.)    Bantulah anak dalam mengembangkan jadwal nonton yang seimbang antara program pendidikan, aksi, komedi, seni, fantasi, olahraga dan seterusnya.
         h.)    Tunjukkan contoh-contoh positif yang menunjukkan bagaimana etnik (suku bangsa seperti Jawa, Sunda, Padang, dan suku-suku lainnya) yang bervariasi dan kelompok budaya berkontribusi( memberi sumbangan) dalam menciptakan suatu masyarakat yang baik.
          i.)      Tunjukkan contoh-contoh positif dari wanita yang kompeten, baik di rumah maupun dalam profesi.

BAB III

PENUTUP


Kesimpulan

Perkembangan adalah suatu proses perubahan dalam diri organisme baik fisik maupun psikis menuju kedewasaan atau kematangan. Setiapanak memiliki sifat yang diwariskan orang tuanya (Hereditas) faktor tersebut dapat mempengaruhi perkembangan anak, tanpa mengurangi maupun menambah potensi hereditas tersebut. Adapun faktor luar atau faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak antara lain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, teman sebaya (peer group), dan media massa.



Komentar