MAKALAH
BIOREMEDIASI

KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Bioremediasi ”. Makalah ini merupakan salah satu
tugas mata kuliah Mikrobiologi pada Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penulis mengharapkan agar makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca. Dan penulis menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu penulis
mengharapakan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Makassar, April 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Lingkungan kita sedang
terancam. Secara mengejutkan udara yang kita hirup, air yang kita minum
dan tanah yang kita andalkan untuk menanam bahan makanan telah terkontaminasi
secara langsung oleh hasil aktivitas manusia.Polusi dari sampah industri
seperti tumpahan bahan kimia, produk rumah tangga dan peptisida telah
menyebabkan kontaminasi pada lingkungan.Bertambahnya jumlah bahan kimia beracun
menyebabkan ancaman bagi kesehatan lingkungan dan organisme hidup yang ada di
dalamnya.
Perkembangan pembangunan di Indonesia
khususnya bidang industri, senantiasa meningkatkan kemakmuran dan dapat
menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat kita. Namun di lain pihak,
perkembangan industri memiliki dampak terhadap meningkatnya kuantitas dan
kualitas limbah yang dihasilkan termasuk di dalamnya adalah limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3). Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, limbah
B3 akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.
Pencemaran atau polusi bukanlah merupakan hal baru, bahkan tidak
sedikit dari kita yang sudah memahami pengaruh yang ditimbulkan oleh pencemaran
atau polusi lingkungan terhadap kelangsungan dan keseimbangan ekosistem.Polusi
dapat didefinisikan sebagai kontaminasi lingkungan oleh bahan-bahan yang dapat
mengganggu kesehatan manusia, kualitas kehidupan, dan juga fungsi alami dari
ekosistem. Walaupun pencemaran lingkungan dapat disebabkan oleh proses alami,
aktivitas manusia yang notabenenya sebagai pengguna lingkungan adalah sangat
dominan sebagai penyebabnya, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak.
Berdasarkan kemampuan terdegradasinya di lingkungan, polutan
digolongkan atas dua golongan:
1. Polutan yang mudah terdegradasi (biodegradable pollutant), yaitu
bahan seperti sampah yang mudah terdegradasi di lingkungan. Jenis polutan ini
akan menimbulkan masalah lingkungan bila kecepatan produksinya lebih cepat dari
kecepatan degradasinya.
2. Polutan yang sukar terdegradasi atau lambat sekali terdegradasi
(nondegradable pollutant), dapat menimbulkan masalah lingkungan yang cukup
serius.
Bahan polutan yang banyak dibuang ke
lingkungan terdiri dari bahan pelarut (kloroform, karbontetraklorida),
pestisida (DDT, lindane), herbisida (aroklor, antrazin, 2,4-D), fungisida
(pentaklorofenol), insektisida (organofosfat), petrokimia (polycyclic aromatic
hydrocarbon [PAH], benzena, toluena, xilena), polychlorinated biphenyls (PCBs),
logam berat, bahanbahan radioaktif, dan masih banyak lagi bahan berbahaya yang
dibuang ke lingkungan, seperti yang tertera dalam lampiran Peraturan Pemerintah
RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Untuk mengatasi limbah (khususnya limbah
B3) dapat digunakan metode biologis sebagai alternatif yang aman, karena
polutan yang mudah terdegradasi dapat diuraikan oleh mikroorganisme menjadi
bahan yang tidak berbahaya seperti CO2 dan H2O. Cara biologis atau biodegradasi
oleh mikroorganisme, merupakan salah satu cara yang tepat, efektif dan hampir
tidak ada pengaruh sampingan pada lingkungan. Hal ini dikarenakan tidak
menghasilkan racun ataupun blooming (peledakan jumlah bakteri). Mikroorganisme
akan mati seiring dengan habisnya polutan dilokasi kontaminan tersebut.
Hanya bioteknologi yang
dipertimbangkan untuk menjadi kunci dalam mengidentifikasi dan memecahkan
masalah kesehatan manusia.Bioteknologi juga menjadi peralatan yang bagus untuk
pembelajaran atau perbaikan terhadap buruknya kesehatan akibat polusi
lingkungan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penyusun
menemukan beberapa permasalahan dalam pembuatan makalah ini, yaitu diantara
sebagai berikut :
1. Apakah pengertian Bioremediasi ?
2. Apakah tujuan dari biormediasi ?
3. Apa sajakah mikroorganisme yang berperan dalam proses
bioremediasi ?
4. Bagaimanakah proses bioremediasi ?
5. Apa sajakah jenis-jenis bioremediasi ?
C.
Tujuan dan Maksud Penulisan
Adapun tujuan dan maksud penulisan makalah ini, diantaranya :
1. Untuk Mengetahui pengertian bioremediasi
2. Untuk mengetahui tujuan penggunaan dari biremediasi
3. Untuk mengetahui mikroorganisme yang berperan dalam bioremedisi
4. Untuk mengetahui proses bioremediasi
5. Untuk mengetahui jenis-jenis bioremediasi
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses degradasi
biologis dari sampah organik pada kondisi terkontrol menjadi suatu bahan yang
tidak berbahaya atau konsentrasinya di bawah batas yang ditentukan oleh lembaga
berwenang. Sedangkan menurut United States Environmental Protection Agency
(dalam Surtikanti, 2011:143), bioremediasi adalah suatu proses alami untuk
membersihkan bahan-bahan kimia berbahaya. Ketika mikroba mendegradasi bahan
berbahaya tersebut,akan dihasilkan air dan gas tidak berbahaya seperti CO2.
Bioremediasi merupakan pengembangan dari
bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam
mengendalikan pencemaran dan cukup menarik. Selain hemat biaya, dapat juga
dilakukan secara in situ langsung di tempat dan prosesnya alamiah (Hardiani,
dkk. 2011:32). Laju degradasi mikroba terhadap logam berat tergantung pada
beberapa faktor, yaitu aktivitas mikroba, nutrisi, derajat keasaman dan faktor
lingkungan (Hardiani, dkk., 2011:32). Teknologi bioremediasi ada dua jenis,
yaitu ex-situ dan in situ. Ex-situ adalah pengelolaan yang meliputi pemindahan
secara fisik bahan-bahan yang terkontaminasi ke suatu lokasi untuk penanganan
lebih lanjut (Vidali dalam Hardiani, dkk., 2011:32 ).
Penggunaan bioreaktor, pengolahan lahan (landfarming),
pengkomposan dan beberapa bentuk perlakuan fase padat lainnya adalah contoh
dari teknologi ex-situ, sedangkan teknologi in situ adalah perlakuan yang langsung
diterapkan pada bahan-bahan kontaminan di lokasi tercemar (Vidali dalam
Hardiani, dkk., 2011:32).
Berdasarkan
agen proses biologis serta pelaksanaan rekayasa, bioremediasi dapat dibagi
menjadi dalam Empat kelompok, yaitu:
a) Fitoremediasi;
b) Bioremediasi
insitu
c) Bioremediasi
exsitu
d) Bioagumentasi
Fitoremediasi merupakan proses teknologi yang
menggunakan tumbuhan untuk memulihkan tanah yang tercemar oleh bahan polutan
secara in situ (Surtikanti, 2011:144). Teknologi ini dapat ditunjang dengan
peningkatan perbaikan media tumbuh dan ketersediaan mikroba tanah untuk
meningkatkan efesiensi dalam proses degradasi bahan polutan. Proses
fitoremediasi bermula dari akar tumbuhan yang menyerap bahan polutan yang
terkandung dalam air. Kemudian melalui proses transportasi tumbuhan, air yang
mengandung bahan polutan dialirkan keseluruh tubuh tumbuhan, sehingga air yang
menjadi bersih dari polutan.
Tumbuhan ini dapat berperan langsung atau tidak
langsung dalam proses remediasi lingkungan yang tercemar. Tumbuhan yang tumbuh
di lokasi yang tercemar belum tentu berperan aktif dalam penyisihan kontaminan,
kemungkinan tumbuhan tersebut berperan secara tidak langsung. Agen yang
berperan aktif dalam biodegradasi polutan adalah mikroorganisme tertentu,
sedangkan tumbuhan dapat berperan memberikan fasilitas penyediaan akar tumbuhan
sebagai media pertumbuhan mikroba tanah sehingga pertumbuhan lebih cepat
berkembang biak (Surtikanti dan Surakusumah, 2011:145).
Ada beberapa kriteria tumbuhan yang dapat digunakan
dalam proses fitoremdiasi, (Youngman dalam Surtikanti, 2011:145), yaitu harus:
memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi; hidup pada habitat yang kosmopolitan;
mampu mengkonsumsi air dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat; mampu
meremediasi lebih dari satu jenis polutan; mempunyai toleransi tinggi terhadap
polutan; dan mudah dipelihara. Contoh tumbuhan yang dapat digunakan untuk dalam
bioremediasi polutan adalah: Salix sp,
rumput- rumputan (Bermuda grass, sorgum), legum (semanggi, alfalfa), berbagai
tumbuhan air dan hiperakumulator untuk logam (bunga matahari, Thlaspi sp).
Dalam
proses remediasi, tumbuhan dapat bersifat aktif maupun pasif dalam mendegradasi
bahan polutan. Secara aktif tumbuhan memiliki kemampuan yang berbeda dalam
fitoremediasi. Ada yang melakukan proses transformasi, fitoekstraksi
(pengambilan dan pemulihan dari kontaminan pada biomassa bawah tanah),
fitovolatilisasi, fitodegrradasi, fitostabilisasi (menstabilkan daerah limbah
dengan kontrol penyisihan dan evapotrannspirasi), dan rhizofiltrasi (menyaring
logam berat ke sistem akar) (Kelly dalam Surtikanti, 2011:145). Keenam proses
ini dibedakan berdasarkan proses fisik dan biologis. Sedangkan secara pasif
tumbuhan melakukan biofilter, transfer oksigen, menghasilkan karbon, dan
menciptakan kondisi lingkungan (habitat) bagi pertumbuhan mikroba.

Gambar 2.1
Fitoremediasi
Fitotransformasi adalah pengambilan
kontaminan bahan organik dan nutrien dari tanah atau air tanah yang kemudian
dtransformasikan oleh tumbuhan.
Proses trannsformasi poluttan dalam tumbuhan dapat
berubah menjadi nontoksik atau menjadi lebih toksik. Metabolit hasil
transformasi tersebut terakumulasi dalam tubuh tumbuhan.Fitoekstraksi merupakan penyerapan polutan oleh tanaman air atau
tanah dan kemudian diakumulasi atau disimpan dalam bagian suatu tumbuhan (daun
atau batang).Tanaman tersebut dinamakan hiperakumulator.Setelah polutan
terakumulasi, tumbuhan dapat dipanen dan tumbuhan tersebut tidak boleh
dikonsumsi tetapi harus dimusnahkan dengan insinerator atau ditimbun dalam landfill.
Fitovolatillisasi
merupakan
proses penyerapan polutan oleh tumbuhan, kemudian polutan tersebut diubah
menjadi bersifat volatile (mudah menguap), setelah itu ditranspirasikan oleh
tumbuhan. Polutan yang dilepaskan oleh tumbuhan keudara dapat memiliki bentuk
senyawa awal polutan, atau dapatjuga menjadi senyawa yang berbeda dari senyawa
awal.Fitodegradasi adalah proses
penyerapan polutan oleh tumbuhan dan kemudian polutan tersebut mengalami
metabolisme di dalam tumbuhan. Metabolisme polutan di dalam tumbuhan melibatkan
enzim antara lain nitrodictase, laccase, dehalogenase, dan nitrillase.
Fitostabilisasi
merupakan
proses yang dilakukan oleh tumbuhan untuk mentransformasikan polutan di dalam
tanah menjadi senyawa nontoksik tanpa menyerap terlebih dahulu polutan tersebut
ke dalam tubuh tumbuhan. Hasil transformasi dari polutan tersebut tetap berada
di dalam tanah.Fitostabilisasi dapat diartikan sebagai penyimpanan tanah dan
sedimen yang terkontaminasi dengan menggunakan vegetasi, dan immobilisasi
kontaminan beracun polutan.Fitostabilisasi biasanya digunakan untuk kontaminan
logam pada daerah berlimbah yang mengandung suatu kontaminan. Sedangkan rhizofiltrasi adalah proses penyerapan
polutan oleh tanaman tetapi biasanya konsep dasar ini berlaku apabila medium
yang tercemarnya adalah badan perairan (Surtikanti, 2011:146-148).
Tumbuhan dapat berperan dalam mempercepat proses
remediasi pada lokasi yang tercemar. Hal ini dapat menjadi dalam berbagai cara,
antara lain:
1.
Sebagai solar driven-pump dan treat system, yaitu: proses penarikan polutanke daerahrhizosferdenganbantuansinarmatahari.
2.
Sebagai biofilter, yaitu: tumbuhan yang dapat mengadsorbsi dan membiodegradasi kontaminan yang berbeda di udara,
air, dandaerah buffer. Proses
adsorbsi ini bersifat
menyaringkontaminan.
3.
Transfer oksigendan menurunkan
water table.
Tumbuhan dengan sistem perakarandapatberfungsisebagaitransferoksigenbagimikroorganisme dan dapat menurunkan water table sehingga difusi gas dapat
terjadi. Fungsi ini biasanya dilakukan oleh tanaman apabila kontaminannya
bersifat biodegradable.
4.
Penghasil sumber karbon dan energi. Tumbuhan dapat berperan sebagai sumber
penghasil karbon dan energi
alternatif yaitu dengan cara mengeluarkan eksudat atau metabolisme oleh akar tumbuhan.
Eksudat tersebut dapat digunakan oleh
mikroorganisme tanah sebagai sumber
karbon dan alternatif sebelum
mikroorganisme tersebut menggunakan polutansebagaisumberkarbondanenergi.
Surtikanti (2011:148-149),
mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam berbagai aplikasi
fitoremediasi sebagai berikut:
Tabel 2.1. Jenis-jenis tanaman
untuk aplikasi fitoremediasi
|
No
|
Aplikasi
|
Media
|
Kontaminan
|
Jenis Tanaman
|
|
1
|
Fitoremediasi
|
Tanah, air tanah, landfill
leachate, air limbah
|
a.
Herbisida
b.
Aromatik (BTEX)
c.
Chlorinate alphatics (TCE)
d.
Nutrien(NO3-, NH4+,PO43-)
e.
Limbah amunisi(TNT,
RDX)
|
Alfalfa, poplar, willow, aspen, gandum
|
|
2
|
Bioremediasi
rhizosfer
|
Tanah, sedimen, air limbah
|
a.
Kontaminan organik
pestisida
b.
PAH
|
Murberry, apel, tumbuhan air
|
|
3
|
Fitostabilisasi
|
Tanah
sedimen
|
a.
Logam (Pb, Cd, Zn, As,
Cu, Cr, Se,U)
b.
Hydrophobik organik (PAHs, dioxin, lurans,
Pentachlorofen ol,DDT,
dieldrin)
|
Tanaman yang memiliki sistem akar yang padat. Rumput
yang memiliki serat akar yang banyak.
Tanaman yang dapat melakukan trenspirasi air yang
lebih
banyak.
|
|
4
|
Fitoekstraksi
|
Tanah, sedimen,
brownfields
|
a. Logam metal (Pb,Cd, Zn,
Ni,
danCu)
|
Bunga matahari, dandellon,
Mustard
|
|
5
|
Rhizofiltrasi
|
Air
tanah, dan air limbah di danau atau air sumur buatan
|
a.
Logam metal (Pb,Cd, Zn, Ni, danCu)
b.
Radioaktif (Cs,
Sr, danU)
c.
Senyawa organik hidrofobik
|
Tanaman air
|
Merujuk pada deskripsi di atas,
penelitian ini lebih cocok berpedoman pada prinsip bioremediasi rhizosfer dan
rhizofiltrasi karena jika dikaji dari segi media, kontamian, jenis tanaman yang
digunakan untuk bioremediasi sesuai dengan karakteristik permasalahan yang akan
diteliti. Sementara itu, has il penelitian Surtikanti (2005:174) menunjukan
bahawa tanaman Impatiens sp; Cyperus sp; dan Rhoe discolor efektif dalam
menurunkan kadar oli dalam tanah. Hal ini ditunjang dengan pembentukan akar
tanaman Impatiens sp. yang berperan pasif untuk pertumbuhan bakteri. Dengan
adanya peningkatan populasi bakteri, maka proses remediasi ini dapat
berlangsung dengan cepat dengan adanya bantuan bakteri tersebut.
Bioremediasi in situ disebut juga
bioremediasi dasar atau natural attenuation.Teknologi ini memanfaatkan
kemampuan mikroba indigen dalam merombak polutan di lingkungan. Proses ini
terjadi dalam tanah secara alamiah di dalam tanah secara alamiah dan berjalan
sangat lambat. Bioremediasi in situ Merupakan metode dimana
mikroorganisme diaplikasikan langsung pada tanah atau air dengan kerusakan yang
minimal. Bioremediasi (in situ
bioremidiation) juga terbagi atas:
a.
Biostimulasi/Bioventing:dengan penambahan nutrient(N,P)dan aseptor
elektron (O2) pada
lingkungan pertumbuhan mikroorganisme untuk
menstimulasi pertumbuhannya.
b.
Bioaugmentasi:
dengan menambahkan organisme dari luar (exogenus
microorganism) pada subpermukaan yang dapat
mendegradasikontaminan spesifik.
c.
Biosparging:
dengan menambahkan injeksi udara dibawah
tekanan ke dalamairsehinggadapatmeningkatkankonsentrasioksigendankecepatan
degradasi.
Sementara
bioremediasi ex situ dikenal sebagai metode dimana mikroorganisme diaplikasikan
pada tanah atau air terkontaminasi yang telah dipindahkan daritempat asalnya. Teknik ex
situ terdiri atas:
a.
Landfarming:
teknik dimana tanah yang terkontaminasi digali dan dipindahkan pada lahan
khusus yang secara periodik diamati sampai polutan terdegradasi.
b.
Composting:
teknik yang melakukan kombinasi antara tanah
terkontaminasi dengan tanah yang mengandung pupuk atausenyawa organik yang dapat meningkatkan
populasimikroorganisme.
c.
Biopiles:
merupakan perpaduan antara landfarming dancomposting.
d.
Bioreactor:dengan
menngunakanaquaeousreaktorpada tanahatauair yangterkontaminasi.
B.
Tumbuhan Marsilea Crenata Presl
Semanggi adalah sekelompok paku air (Salviniales)
dari marga Marsilea) yang di Indonesia mudah
ditemukan di pematang sawah atau tepi saluran irigasi.Morfologi
tumbuhan marga ini khas, karena bentuk entalnya yang
menyerupai payung yang tersusun dari empat anak daun yang berhadapan. Akibat
bentuk daunnya ini, nama “Semanggi” dipakai untuk beberapa jenis tumbuhan
dikotil yang bersusunan daun serupa, seperti klover. Semua anggotanya heterospor, memiliki
dua tipe spora yang berbeda kelamin.Daun tumbuhan
ini (biasanya M. crenata) biasa dijadikan bahan makanan yang dikenal sebagai pecel semanggi, khas dari daerah Surabaya.Organ
penyimpan spora (disebut sporokarp) M. drummondii juga dimanfaatkan oleh penduduk
asli Australia (aborigin) sebagai bahan makanan.Semanggi M. crenata diketahui mengandung
fitoestrogen (estrogen tumbuhan) yang berpotensi mencegah osteoporesis.Tumbuhan ini juga berpotensi sebagai tumbuhan bioremediasi, karena
mampu menyerap logam berat Cd dan Pb.
Kemampuan ini perlu diwaspadai dalam
penggunaan daun semanggi sebagai bahan makanan, terutama bila daunnya diambil
dari lahan tercemar logam berat.Habitat tumbuhan ini pada tempat yang terkena
sinar matahari atau agak rindang pada dataran rendah hingga ketinggian 3000 m
dpl.Bagian tanaman yang digunakan adalah seluruh bagian tumbuhan.Kandungan
kimia berupa minyak atsiri; saponin; zat samak.
Klasifikasi
Kingdom :
Plantae(Tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Divisi : Pteridophyta(paku-pakuan)
Kelas :Pteridopsida
Ordo :Salviniales
Spesies : Marsilea crenataPresl
Sekitar 35 spesies,
diantaranya adalah M. crenata, M.
quadrifolia, M. drummondli, M. macrocarpa, M. exarata.
Semanggi atau paku bernama ilmiah
Marsilea crenata Presl adalah tanaman yang termasuk kedalam famili
Marsiliaceae. Deskripsi menurut buku flora adalah tumbuhan dengan daun berdiri
sendiri atau dalam berkas, menjari berbilang 4, tangkai daun panjang dan tegak,
panjang 2-30 cm, anak daun menyilang, berhadapan, berbentuk baji bulat telur,
gundul atau hampir gundul, dengan panjang 3-22 cm dan lebar 2-18 cm, urat daun
rapat berbentuk kipas, pada air yang tidak dalam muncul diatas air. Biasanya di
temukan di sawah, selokan dan genangan air dangkal.

Gambar 2.2.
Tumbuhan semanggi
(Nuryadin,
2012)
C.
Karakteristik Limbah Tahu
Sebagian besar industri tahu merupakan
industri kecil (home industry), yang notabene adalah masyarakat pedesaan dengan
tingkat pendidikan yang relatif rendah, maka operasional pengolahan air limbah
menjadi salah satu pertimbangan yang cukup penting.Untuk pengolahan air limbah
industri tahu biasanya dipilih sistem dengan operasional pengolahan yang mudah
dan praktis serta biaya pemeliharaan yang terjangkau.
Pemilihan sistem pengolahan air limbah didasarkan
pada sifat dan karakter air limbah tahu itu sendiri. Sifat dan karakteristik
air limbah sangat menentukan didalam pemilihan sistem pengolahan air limbah,
terutama pada kualitas air limbah yangmeliputi parameter-parameter pH, COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen Demand), dan TSS (Total Suspended Solid). Melihat
karakteristik air limbah tahu diatas maka salah satu alternatif yang cukuptepat
untuk pengolahan air buangan adalah dengan proses biologis. Cara ini relative
sederhana dan tidak mempunyai efek samping yang serius. Merujuk pada baku mutu
uji toksisitas akut (LC50 dan LD50) dalam Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun,
tingkatan racun B3 dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel
2.2. Tingkatan racun B3 (PPRI No. 74/2001)
|
Urutan
|
Kelompok
|
LD 50 mg/kg
|
|
1
|
Amat sangat
beracun (Extremly toxic)
|
< 1
|
|
2
|
Sangat beracun (Highly toxic)
|
1 – 50
|
|
3
|
Beracun (Moderatly toxic)
|
51 – 500
|
|
4
|
Agak beracun (Slightly toxic)
|
501 – 5000
|
|
5
|
Praktis tidak
beracun (Practically non toxic)
|
5001 – 15000
|
|
6
|
Relatif tidak
berbahaya (Relatively harmless)
|
> 15000
|
Sementara
menurut APEA dan ERDC (1994:1), pengklasifikasian tingkat toksik untuk limbah
adalah sebagai berikut.
Tabel 2.3 . Tingkatan
toksik menurut APEA dan ERDC
|
Urutan
|
Katergori
|
LC 50 mg/L
|
|
1
|
Tidak toksik
|
>100000
|
|
2
|
Hamper t idak
toksik
|
10000-100000
|
|
3
|
Rendah
|
1000-10000
|
|
4
|
Sedang
|
100-1000
|
|
5
|
Toksik
|
1-100
|
|
6
|
Sangat toksik
|
<1
|
D.
Kelulusan hidup Ikan Lele (Clarias sp.)
1. Karakteristik ikan lele
(Clariassp.)
Ikan
Lele termasuk dalam jenis ikan air tawar
dengan ciri - ciri tubuh yang memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak memiliki sisik, mulut besar, warna kelabu sampai hitam.Di sekitar mulut terdapat
bagian nasal, maksila, mandibula
luar dan mandibula dalam,
masing- masing terdapat sepasang
kumis.Hanya kumis bagian mandibula yang dapat digerakkan untuk meraba
makanannya.Kulit lele dumbo berlendir tidak bersisik,
berwarna hitam pada bagian punggung
(dorsal) dan bagian samping
(lateral).Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip
dubur merupakan sirip tunggal, sedangkan
sirip perut dan sirip dada merupakan
sirip ganda.Pada sirip dada terdapat duri yang keras dan runcing
yang disebut patil.Patil lele dumbo tidak
beracun (Suyanto, 2007:2).Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan
berupa modifikasi dari busur
insangnya.Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada
siripsirip dadanya.Lele tidak pernah ditemukan
di air
payau atau air asin,
kecuali lele laut yang
tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya disungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.
Bahkan
ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan
pembuangan.Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan
pada malam hari.Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di
tempat gelap.Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. (Suyanto:2007:1).
Ikan lele dumbo adalah jenis ikan
hibrida hasil silangan antara Clarias
gariepinus dengan C. fuscus dan
merupakan ikan introduksi yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1985.
Secara biologis ikan lele dumbo mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis
lele lainnya, antara lain lebih mudah dibudidayakan dan dapat dipijahkan
sepanjang tahun, fekunditas telur yang besar serta mempunyai kecepatan tumbuh
dan efisiensi pakan yang tinggi. Ikan lele dumbo dicirikan oleh jumlah sirip
punggung, sirip dada , sirip perut, sirip anal dan jumlah sungut 4 pasang,
dimana 1 pasang diantaranya lebih besar dan panjang. Perbandingan antara
panjang standar terhadap tinggi badan adalah 1:5-6 dan perbandingan antara
panjang standar terhadap panjang kepala 1:3-4. Ikan lele dumbo memiliki alat
pernapasan tambahan berupa aborescen yang
merupakan kulit tipis, menyerupai spons, yang dengan alat pernapasan tambahan
ini ikan lele dumbo dapat hidup pada air dengan kondisi oksigen yang rendah.

Gambar
2.3.Kelamin jantan dan betina ikan lele (Clarias
sp.)
![]() |
Gambar 2.4. Ikan lele dumbo (Clarias sp.)
Keterangan:
1
: Panjang Standar 2 : Panjang Kepala 3 : Tinggi Badan A : Mandibular Barbel B :
Maxilaris Barbel C : Sirip Perut D : Sirip Pectoral E : Sirip Verbral F : Sirip
Caudal.
Klasifikasi ikan lele
dumbo:
Filum :
Chordata
Kelas :
Pisces Subkelas
Teleostei Ordo : Ostariophysi
Subordo :
Siluroidae
Famili :
Clariidae
Genus :
Clarias
Spesies : Clarias sp. (Muchlisin, 2003:48)
2. Kelulusan hidup ikan lele
Survival
rate atau biasa dikenal dengan SR dalam perikanan
budidaya merupakan indeks kelulushidupan suatu jenis ikan dalam suatu proses
budidaya dari mulai awal ikan ditebar hingga ikan dipanen. nilai SR ini
dihitung dalam bentuk angka persentase, mulai dari 0 – 100 %. Rumusnya yaitu:
SR
x100%
Keterangan:
SR:
Survival rate (kelulushidupan)
N2: Jumlah
individu pada akhir penelitian
N1: Jumlah individu pada awal penelitian (Muchlisin, 2003:107)
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bioremediasi
adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau
mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun
(karbon dioksida dan air).
Jenis-jenis bioremediasi meliputi :
1. Bioremediasi
yang melibatkan mikroba terdapat 3 macam yaitu :
a. Biostimulasimemperbanyak
dan mempercepat pertumbuhan mikroba yang sudah ada di daerah tercemar dengan
cara memberikan lingkungan, yaitu pertumbuhan yang diperlukan, yaitu
penambahan nutrien dan oksigen.
b. Bioaugmentasi, yaitu penambahan
produk mikroba komersial ke dalam limbah cair untuk meningkatkan efisiensi
dalam pengolahan limbah secara biologi.
c. Bioremediasi
Intrinsik, terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.
2. Bioremediasi
berdasarkan lokasi, meliputi :
a. In
situ, yaitu dapat dilakukan langsung di lokasi tanah tercemar (
proses bioremediasi yang digunakan berada pada tempat lokasi limbah tersebut).
b.
Ex situ, yaitu bioremediasi yang
dilakukan dengan mengambil limbah tersebut lalu ditreatment ditempat lain,
setelah itu baru dikembalikan ke tempat asal.
B.
Saran
Penyusun
menyarankan agar makalah ini dapat digunakan sebaik-baiknya serta kita harus
bisa menjaga lingkungan dengan baik dengan cara membuang sampah pada tempatnya.
Lingkungan merupakan tempat kita yang harus dilestarikan dan dijaga.Karena hal
tersebut juga bisa bermanfaat untuk manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin,
H.S., M. Yani, F. Aribowo, and A.M. Fauzi. 2004. Bioremediation: A Case Study
in East Kalimantan, Indonesia. Proceeding the 1st COE International Symposium
“Environmental Degradation and Ecosystem Restoration in East Asia” Tokyo
University – Japan. 9 p.
Baker,
J. M., Clark, R. B., Kingston, P. F. and Jenkins, R. H. (1990). Natural
Recovery of Cold Water Marine Environments after an Oil Spill. 13th AMOP
Seminar, June 1990
Budianto, H. 2006.
Perbaikan lahan terkontaminasi minyak bumi secara bioremediasi
Cookson, J.T. 1995.
Bioremediation Engineering : Design and Application. McGraw-Hill, Inc. Toronto.
Munawar
dkk. 2005. Bioremediasi Tumpahan Minyak Mentah Dengan Metode
Biostimulasi Di Lingkungan Pantai Surabaya Timur. Surabaya.

Komentar
Posting Komentar